Mohon tunggu...
Jessica Christina
Jessica Christina Mohon Tunggu... Hospitality and Tourism student of Trisakti Institute of Tourism

Salah satu penerima Beasiswa Unggulan Kemdikbud RI tahun 2017, prodi S1 Hospitaliti dan Pariwisata - Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Rating Bagus, Yakin Enak?

22 Februari 2021   18:04 Diperbarui: 22 Februari 2021   18:45 85 3 0 Mohon Tunggu...

Saya Jessica Christina, mahasiswi Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti prodi S1 Hospitaliti dan Pariwisata 2017 - dan salah satu penerima Beasiswa Unggulan Kemdikbud Republik Indonesia. Tulisan yang saya buat biasanya berdasarkan pengalaman atau pendapat pribadi saya.

Pandemi COVID-19 membuat saya 3x lipat lebih banyak memesan makanan dan minuman lewat GoFood atau GrabFood. Praktis, banyak promo, BM pun terpenuhi di kala tidak bisa banyak keluar rumah seperti sekarang. Walaupun tekstur dan rasa, sudah pasti berkurang jika dibandingkan dengan dine-in. 

Upaya survive para pebisnis makanan dan minuman dengan situasi seperti ini dilakukan dengan cara bekerjasama dengan perusahaan e-money dan memberikan promo harga bagi para konsumen. Apabila kita perhatikan, mulai dari restoran yang sudah terkenal, UMKM, maupun kaki lima pun sudah banyak yang terdaftar di GoFood dan GrabFood dan tidak sedikit yang menawarkan berbagai macam promo. 

Jujur saja, dahulu ketika saya memesan makanan atau minuman, saya memberi bintang untuk mitra/driver yang menjadi perantara namun seringkali saya lupa untuk memberi bintang untuk restoran yang bersangkutan. Siklusnya adalah order-tunggu-terima-santap-rebahan. Sekarang saya lebih aware, memberikan bintang untuk restoran dan juga masukan.

Semakin banyak mencoba makanan atau minuman ini-itu, saya bisa bilang kalau rating/bintang restoran sering tidak sesuai dengan kenyataannya. Di salah satu aplikasi menguraikan lebih jelas bagaimana konsumen memberi rating - apakah dari rasa makanan yang enak, harga yang sesuai, atau dari segi kebersihan. Ya, menurut saya, tidak sesuai dengan kenyataanya. 

Contohnya, walaupun terlihat rata-rata rating restoran tersebut di bawah nama restorannya, namun tidak menunjukkan secara langsung rating tersebut didapatkan dari berapa orang konsumen. Baru saja kemarin saya membeli nasi goreng dari sebuah aplikasi, dan restoran tersebut memiliki rating 4.8. Ketika makanan sudah sampai dan sudah dimakan, saya tidak mengerti mengapa pedagang ini memiliki rating setinggi itu padahal rasa makanannya kurang dibandingkan dengan nasi goreng gerobakan lainnya, makanannya pun tidak sesuai notes yang diberikan. 

Dari segi harga, seporsi nasi goreng telur harganya 22.000 Rupiah.. belum termasuk ongkir. Cukup mahal untuk ukuran nasi goreng telur dan ukuran pedagang gerobakan. Contoh lainnya adalah restoran kecil yang memiliki rating 4.2, padahal penawaran promo diskon 35% minimum pembelian 40.000 Rupiah pun selalu ada. Porsi sesuai dan rasa makanan konsisten, serta packaging rapi dan diberi kabel tis. 

Apakah dari konsumen sendiri yang memberi rating asal-asalan? Atau ada trik tersendiri dari pedagang - mungkin membuat order fiktif, kerjasama dengan mitra, alih-alih untuk memberi rating bagi usahanya sendiri? Dengan kejadian seperti ini, lebih jelas dan terpercaya untuk membeli makanan atau minuman yang pernah dipesan sebelumnya dan memang kita puas dengan pesanan tersebut. 

Eh tapi, saya tetap mendukung membeli makanan dan minuman terlebih usaha kecil-kecilan dibanding brand yang sudah besar. Karena patokan saya pribadi dalam membeli makanan atau minuman bukan hanya dari rating, namun juga dari penawaran promo dan lokasi yang dekat. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x