Mohon tunggu...
Jeniffer Gracellia
Jeniffer Gracellia Mohon Tunggu... A lifelong learner

Kadang menulis mengenai politik luar negeri, kadang juga menulis mengenai budaya

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Aku, Kompasiana, dan "Kata Netizen"

2 April 2021   14:29 Diperbarui: 24 April 2021   21:27 260 50 29 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aku, Kompasiana, dan "Kata Netizen"
Foto milik pribadi

Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa akhirnya saya pun akan menulis artikel di kategori Diary. Bukannya tidak suka, saya selalu merasa hidup saya biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial jika dibandingkan dengan Diary milik penulis lainnya. 

Namun di hari yang ke-140 saya menulis di Kompasiana, saya memutuskan untuk menulis artikel Diary ini.

Aku

Tahun 2020 adalah salah satu tahun ter-roller-coaster untuk saya. Tahun 2020 disambut dengan sidang skripsi yang sudah saya persiapkan beberapa bulan sebelumnya. Saya tidak merasakan beban ketika menulis skripsi, mungkin karena judulnya adalah gabungan dari 5 hal yang saya sukai: Hak Asasi Manusia, hak wanita, Perang Dunia II, Korea Selatan dan Jepang

Pencapaian yang saya banggakan pun terjadi selang tidak lama sejak sidang skripsi. Hasil penelitian saya diminta untuk ditulis ulang dan diterbitkan di salah satu jurnal Hubungan Internasional di Indonesia.

Untuk mengejar rasa penasaran menjadi wanita karir, saya pun tidak membuang banyak waktu untuk mencari pekerjaan dan saya mendapatkannya di bulan Februari. Hari-hari pun saya lalui seperti karyawan biasanya. 

Berita-berita mengenai pandemi Covid-19 pun mulai mewarnai berita di Indonesia. Saya termasuk ke dalam mereka yang ikut panic buying. Work From Home pun mulai diterapkan dan saya memutuskan pulang ke kampung halaman. 

Desas-desus dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun mulai terdengar diantara karyawan. Akhir bulan April saya pun resmi menjadi korban PHK karena pandemi Covid-19. 

Setelah itu saya pun mulai mencari pekerjaan baru. Entah sudah ratusan lamaran pekerjaan yang sudah saya kirimkan. Berbagai penolakan pun sudah pernah saya rasakan. Saya yang saat itu di Kalimantan dan belum bisa kembali ke Ibu Kota untuk proses wawancara pun menjadi salah satu alasan saya sulit mencari pekerjaan. Saya belum bisa kembali karena alasan kesehatan.

6 bulan saya mencari dan saya tidak mendapatkan pekerjaan. Saya pun menganggap ini sebagai kegagalan terbesar dalam hidup. Ketika teman kampus posting tentang pekerjaannya di Instagram, saya jadi cemas akan masa depan. Saya merasakan bagaimana pikiran negatif memakan saya hidup-hidup.

Setelah berdiskusi dengan keluarga dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk beristirahat dari proses mencari pekerjaan. Rehat sejenak sambil menunggu situasi pandemi membaik dan menghabiskan waktu berharga bersama keluarga saya di Kalimantan. 

Kompasiana

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN