Novel

Resensi Novel Pelukis Gurun Pasir, Pekerjaan yang Didasari Ibadah

2 Desember 2018   07:27 Diperbarui: 2 Desember 2018   08:23 302 0 0
Resensi Novel Pelukis Gurun Pasir, Pekerjaan yang Didasari Ibadah
sumber foto : bukurepublika.id

Salah satu yang membuat pembaca tertarik untuk membeli sebuah buku dilihat dari cover bukunya. Cover novel Pelukis Gurun Pasir dengan ilustrasi gambar dan perpaduan warna yang pas menjadi salah satu alasan kenapa aku harus baca novel ini. Selain desain cover yang menarik, blurb yang ada di cover belakang juga membuat aku penasaran dengan cerita apa yang disajikan dalam novel ini.

***

Prasetyo atau biasa dipanggil Pras, sebagai tokoh dengan sudut pandang aku (orang pertama) yang menceritakan seluruh kisah dari awal hingga akhir. Pras yang berprofesi sebagai guru honorer di salah satu sekolah di Cianjur pernah mengikuti tes CPNS, namun ditolak mentah-mentah oleh panitia penerimaan tes. Berbeda dengan adik perempuannya yang bungsu. Setelah beberapa kali ikut tes, ia pun lulus tanpa harus mengeluarkan biaya 'siluman' sedikit pun.

Setelah memasuki kehidupan berumah tangga, Pras menyadari bahwa uang honorer dari mengajar tidak akan pernah cukup. Sehingga ia memutuskan untuk memaksimalkan kemampuannya di dunia kaligrafi dan kepenulisan.

Keinginan Pras menginjakkan kaki di tanah suci kembali menguat. Hal ini dipicu oleh kawan-kawannya para kaligrafer Cianjur yang satu persatu telah magang di Arab Saudi. Niat awal Pras bukan untuk bekerja disana, tapi agar keinginannya untuk ibadah haji ke tanah suci terpenuhi. Itulah yang mengawali kisah panjang Pras selama di Arab Saudi.

Pras bekerja di bagian khattat wa rassam (kaligrafer dan pelukis) di salah satu maktabah di kota Zulfi. Ia dipekerjakan oleh Mubarok, kafilnya di maktabah. Ia sangat dihormati oleh kakak Mubarok karena adat istiadat orang Saudi mengharuskan menghormati seseorang yang dianggap berpendidikan tinggi (hlm.36).

Semakin lama Pras tinggal di Zulfi, semakin tampak beberapa paradoks aneh dari orang-orang Saudi yang dilihat oleh Pras. Dimulai dari kebiasaan bangun tidur (hlm.48), kebiasaan berkata "sur'ah" (hlm.49), suka kepada sesama jenis alias homo (hlm.50), dan banyak para pemudanya sering melihat film porno (hlm.61). 

Pras juga baru mengetahui bahwa orang Saudi sangat takut dengan sihir. Bahkan Pras melihat realitas yang terbalik dari polisi di Zulfi. Polisi menyuruh shalat berjamaah tapi ternyata tidak shalat, memperingatkan haramnya merokok tapi malah merokok, dan polisi selalu mengadili orang asing di Zulfi (hlm.87).

Selama Pras di Zulfi, sudah berapa kali ia ditahan oleh polisi tanpa alasan yang jelas. Dimulai dari tuduhan terlambat menutup toko ketika adzan Dzuhur, laporan seorang wanita yang sakit hati karena ditolak cintanya oleh Pras, dan didakwa telah menipu seseorang dan telah menyebabkan orang lain sakit berkepanjangan. Hal tersebut yang membuat pras pernah mendekap di sel tahanan.

Selain kejadian tersebut, Pras juga harus menghadapi anak-anak Saudi yang bandel dan hampir pernah mengalami pelecehan seksual oleh laki-laki Saudi. Banyak kejadian susah dan senang yang dialami oleh Pras selama dua tahun ia di Zulfi.

Menjelang kepulangan Pras ke tanah air, ia sudah berhasil melaksanakan dua kali ibadah umrah dan ibadah haji ke tanah suci. Bahagia bercampur sedih yang Pras rasakan karena ia mendahului dan belum bisa mengajak kedua orangtuanya untuk beribadah umrah maupun haji ke tanah suci.

***

Om Fuad menceritakan perjalanan umrah dan haji secara rinci, membuat hati ikut rindu untuk pergi ke tanah suci, padahal selama ini tidak pernah terbersit bayangan untuk pergi kesana.

Di dalam novel ini, kita akan banyak menjumpai istilah-istilah dalam bahasa arab, seperti khattat wa rassam, maktabah, kafil dan sebagainya. Kelebihan dari novel ini, selain pembaca mendapat pengalaman baru dari cerita Prasetyo selama ia di Arab Saudi, pembaca juga bisa sambil belajar bahasa arab di novel ini. 

Karena setiap istilah-istilah bahasa arab dalam novel ini diikuti dengan penjelasannya, baik mengikuti istilah tersebut di dalam kalimat maupun ada di glosarium halaman terakhir novel ini. Hanya saja, pembaca akan sibuk bolak-balik ke halaman glosarium ketika menemukan istilah bahasa arab dalam cerita.

Novel ini terdapat 40 bab yang memuat banyak kisah-kisah pada zaman Rasulullah saw. dan para sahabat yang dijadikan sebagai teladan pada setiap kejadian yang dialami Pras. Namun, kisah-kisah tersebut kurang dilengkapi dengan sumber riwayat. Hal ini dapat membuat keraguan atas kebenaran kisah-kisah yang disampaikan.

Juga ada beberapa kesalahan dalam penulisan, baik typo maupun muncul kata double seperti;

"... dikenali oleh saudara se-Sanah Air ..." (hlm.125) seharusnya se-Tanah Air.

"Aku punya punya dua anak ..." (hlm.163).

"... , setiap hati jum'at, ..." (hlm.235) seharusnya hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2