Mohon tunggu...
Aprilia BudiJansent Armandany
Aprilia BudiJansent Armandany Mohon Tunggu... Mahasiswa - Menulis adalah Cara untuk Mengindahkan Hidup

Nikmati Hidup dengan Secangkir Kata dan Hidup pun jadi bermakna Ig: jansentarmandany

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Siapakah Manusia di Hadapan Kematian?

24 Juli 2021   10:01 Diperbarui: 24 Juli 2021   10:22 23 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Siapakah Manusia di Hadapan Kematian?
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

           Pada suatu kesempatan saat saya masih duduk di bangku SMA, saya pernah ditanya oleh Bunda saya: Le (singkatan dari Tole yang adalah panggilan kesayangan untuk anak laki-laki Jawa), apa yang dekat dengan kehidupan manusia? Saat itu saya bingung hendak menjawab apa. Saya memilih diam. Beliau pun menjawab pertanyaannya sendiri, katanya: “Yang dekat dengan kehidupan manusia adalah kematian”. Lalu saya bertanya: “Mengapa kematian?” beliau menjelaskan dengan sederhana bahwasannya kematian adalah sesuatu yang tidak diduga datangnya. Ia menganalogikan kematian itu seperti pencuri. Ketika itu saya hanya mengiyakan dan percakapan itu diakhiri dengan sebuah nasihat singkat dari bunda saya: “Gunakan hidup yang singkat untuk sesuatu yang ‘berguna’.”

            Akhir-akhir ini ketika membaca di koran atau media online, melihat berita di televisi atau di Youtube maupun mendengar cerita dari orang-orang terdekat saya saat ini mengenai korban yang terpapar dan meninggal akibat pandemi Covid-19, atau musibah yang melanda sebagian negara Eropa (Belanda, Jerman, Austria) akibat cuaca buruk, pertanyaan yang pernah terlontar dari bibir bunda saya, terngiang kembali dan saya pun terpanggil untuk merenungkan siapakah manusia di hadapan kematian. Bagi saya, ini adalah sebuah enigma yang pantas untuk direnungkan.

            Tentu dari antara kita pernah merenungkan kematian. Kendati demikian, banyak dari antara kita yang memilih untuk tidak merenungkannya. Apakah kematian adalah sesuatu yang menakutkan? Mungkin saja. Mengapa? Alasan sederhana yang dapat diberikan mungkin manusia nyaman dengan dunianya saat ini, yakni manusia berkumpul dengan anggota keluarganya, dengan harta yang ia miliki ataupun udara yang ia hirup dengan cuma-cuma dari Alam guna menunjang kehidupannya dan lain-lain. Atau alasan yang mengerikan yaitu membayangkan apa dibayangkan oleh  Betrand Russel (1872-1970) mengenai kematian bahwasannya “Aku akan membusuk dan tidak ada sesuatu pun dariku yang bisa bertahan hidup. Itu berarti aku bertemu dengan ketiaadaan.”

            Manusia yang lahir ke dunia tentu akan mengalami yang disebut mati. Mati adalah suatu kepastian yang tak terelakkan dari kehidupan manusia. Seberapa tangguh, seberapa kuat manusia menolak untuk mati, pada akhirnya akan tetap mati juga. Perlu disadari kemajuan teknologi saat ini pun tidak bisa menolak kematian. Kematian tidak mengenal dikotomi orang kaya-miskin, pintar-bodoh, rajin-malas, ganteng-jelek, hitam-putih, sehat-sakit, normal-difabel, dst. Ketika kematian menjemput manusia adalah momen saat di mana kematian berkata: “Hai manusia, kini aku datang untuk menjemputmu!”. Dunia yang awalnya “ribut” karena bergulat dalam ruang dan waktu dalam ketiba-tibaan berubah menjadi “sunyi”. Maka paslah pernyataan yang pernah diucapkan Arthur Schopenhauer (1788-1860) dalam bukunya “On the suffering of the world” mengatakan bahwa “Salah satu siksaan yang mengganggu eksistensi kita yaitu tekanan waktu yang terus menerus dan tidak pernah memberi kita kesempatan menarik napas sejenak melainkan senantiasa mengejar kita seperti seorang mandor dengan cemeti. Ia tidak lagi menyiksa kita jika ia telah mengirim kita menuju ‘kebosanan’ (baca: kematian).” Ketika kematian itu datang pada saaat itu rantai waktu manusia untuk bersenang-senang di dunia pun putus.

            Lantas, apa yang dapat disimpulkan dari uraian di atas mengenai manusia di hadapan kematian?

            Pertama, manusia adalah makhluk yang rapuh. Dikatakan sebagai manusia yang rapuh karena ketika manusia berhadapan dengan kematian, manusia yang mengagungkan intelektualnya, memuja kecantikan atau kegantengan yang dimiliki,mengagumi postur tubuhnya yang seksi atau berotot, dll., dianalogikan seperti bunga yang segar di pagi hari dan layu pada sore hari (Mzm 90:6). Singkatnya, dapat dikatakan Kematian adalah titik lemah yang membuat manusia rapuh di tengah ‘keemasan’ yang diagungkan.

            Kedua, manusia adalah makhluk tidak berdaya. Tidak berdaya di sini merujuk pada ketidakmampuan manusia untuk menolak kematian. Ketika manusia berhadapan dengan kematian, manusia hanya mampu mengiyakan. Atau dengan kata lain manusia hanya bisa pasrah Ibaratnya seperti seorang hamba yang selalu mengatakan kepada tuannya: “Ya, aku datang!”.

            Ketiga, manusia adalah makhluk yang terbatas. Saya teringat akan kata Pengkhotbah dalam Kitabnya yang mengatakan bahwa “semua ada masanya!” (Pkh 3:1). Hal ini ingin menunjukkan bahwa manusia hidup di dunia ada batasnya. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh pemazmur bahwasannya Umur manusia batasnya 70 tahun atau 80 jika kuat (Mzm 90:10). Terbatas menunjukkan ke-sementara-an manusia dan ke-tidaksempurna-an manusia. 

           Mengingat siapa manusia (kita) di hadapan kematian, bukan berarti kita tidak dapat melakukan sesuatu yang “wah”. Justru dalam ke-sementara-an dan ke-tidaksempurnaan itulah kita mengisi waktu yang singkat itu dengan berbagai jenis kegiatan yang menunjang cara mengada kita dalam ruang dan waktu. Hidup adalah jalan Bagaimana caranya? Caranya sederhana, yakni menghidupkan hidup dengan kehidupan yang menghidupkan itu. Contoh: melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar (St. Teresa dari Calcuta).

            So, nikmati hidupmu yang sementara. Terus bergerak. Jangan takut bergerak sambil merenungkan kematian hingga pada akhirnya Kematian itu datang menjemput.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x