Mohon tunggu...
Iwan Setiawan
Iwan Setiawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - Suka Hal Baru

Salah satu cara untuk survive adalah dengan belajar hal baru terus menerus

Selanjutnya

Tutup

Money

Kisah Survival Ekonomi Rumah Tangga Selama Pandemi

17 Mei 2021   21:05 Diperbarui: 17 Mei 2021   21:09 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pandemi Covid 19 telah mengobrak-abrik perekonomian miliaran manusia di dunia, termasuk saya dan mungkin Anda. Sebagai nahkoda dalam keluarga, saya punya tanggung jawab untuk menyelamatkan perekonomian dan kesehatan keluarga. 

Pelaku UMKM bagai terhempas gelombang tsunami. Rumah makan, pasar, toko-toko, tempat wisata, pedagang kaki lima tutup. Ojol tidak berani jalan, kuli panggul tidak lagi ada pekerjaan, buruh harian otomatis pendapatannya berhenti. Semua itu seperti ketika kita habis jalan dari luar dengan terik matahari, tiba-tiba masuk ke rumah yang gelap, pandangan jadi gelap dan mata berkunang-kunang. Keriuhan tiba-tiba menjadi senyap.

Pada awal-awal masa pandemi, semua orang kaget, tidak ada seorang ahlipun yang bisa memprediksi keadaan satu bulan lagi, tiga bulan lagi seperti apa. 

Setiap hari saya buka facebook untuk mengetahui apa yang diposting oleh para pakar. Apa analisa dan prediksi yang mereka keluarkan. Dari semua penelusuran selama berhari-hari, saya menyimpulkan bahwa jika kita mau selamat maka kita harus "Ride the Wave" atau mengendarai gelombang.

Setelah mendapatkan kesimpulan itu, dengan cepat saya harus melangkah. Tidak bisa berlama-lama diam, karena persedian logistik tidak banyak. Kondisi keuangan rumah tangga juga sedang tidak begitu baik sebelum terjadi pandemi.

Melihat semua orang hectic mencari disinfektan, sabun cuci tangan, masker, APD dan jamu-jamuan, maka saya memutuskan untuk menjual disinfektan.  Alasanya adalah sebelum pandemi saya juga sudah jualan disinfektan untuk peternakan. 

Nah serius itukan untuk ternak, bukan untuk manusia? Iya, sedikit saya jelaskan ya secara teknis, disinfektan untuk ternak itu ada beberapa level. Nah saya ambil level paling bawah yang masih aman untuk manusia. Dan Alhamdulillah jualan laris. Mengingat produsen disinfektan untuk manusia belum siap produksi besar-besaran, sehingga masih ada celah. 

Meski demikian saya menyadari sepenuhnya, ini tidak akan lama. Karena dalam waktu beberapa bulan, produsen disinfektan standar medis pasti akan memproduksi dengan skala besar, dan itu berarti disinfektan ternak tidak lagi bisa dijual untuk manusia.

Berarti saya harus kembali memutar otak, what next?

Melihat banyak orang tidak berani keluar rumah, pasar juga banyak tutup, kalaupun buka tidak banyak orang yang berani pergi ke pasar, maka saya berpikir membuka toko online yang menjual bahan makanan. Prinsipnya walaupun mereka tidak berani keluar rumah, tapi tetap butuh makan. Hanya saja channel distribusi dan promosinya yang diubah. 

Saya berpikir bagaimana bisa menjual bahan makanan ke rumah-rumah tanpa banyak berinteraksi secara fisik. Dan akhirnya saya memilih melakukan promosi melalui Facebook dengan bantuan Facebook Ads. Dengan pengetahuan tentang teknologi yang pas-pasan, saya harus memaksakan diri belajar lebih banyak tentang bagaimana membuat website, setting iklan di facebook ads, editing video, desain grafis dan banyak lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun