Narliswandi Piliang
Narliswandi Piliang Bisnis, Travelling, Bloging

Business: Products; Coal Trading; Services: Money Changer, Spin Doctor, Content Director for PR, Private Investigator. Social Activities: Traveller, Bloger. email: iwan.piliang7@yahoo.com\r\nmobile +628128808108\r\nfacebook: Iwan Piliang Dua , Twitter @iwanpiliang7 Instagram @iwanpiliangofficial mobile: +628128808108

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Dodi Menggiring Sumsel Kito Pacak

13 Maret 2018   14:47 Diperbarui: 13 Maret 2018   15:36 1193 0 0

KETIKA  pertama menjabat Presiden Afrika Selatan, 1994, warga mendesak Nelson Mandela  membubarkan Tim Nasional Rugbi terkuatnya, Springboks. Pasalnya, di tim itu,  hanya ada satu saja pemain kulit hitam. Jiika hal itu dilakukan menjadi percuma perjuangan panjang menghapus perbedaan warna kulit.  Mandela bergeming.

Berjibaku di kerangkeng penjara 27  tahun melawan pemerintahan lama  melegalkan  perbedaan ras, tempaan masif  kesabaran bagi Mandela. Selama 18 tahun ia  ditempatkan di Pulau Ruben. Ruang penjaranya hanya serentangan  kedua tangan. Setiap hari ia harus memecah gelondongan batu-batu. Kesemua tak membekaskan dendam itu.

Mandela bahkan menentang keinginan menteri olahraganya membubarkan Springboks.

"Tidak akan pernah saya lakukan," katanya.

 Ia inspirasi dan motivasi  para pemain Springboks.

Mandela  menyediakan bus  mewah ber-AC, untuk  dinaiki pemain berkeliling kampung, mara ke desa-desa. Mereka diminta  mengenalkan Rugbi ke wong ndeso.   Sambutan warga semula hanya hangat  ke satu pemain kulit hitam, dalam hitungan menit cair, lebur bergembira bersama kanak-kanak kumal; saling lempar bola, canda dan tawa.  

Dalam momen lain Mandela datang menggunakan helikopter ke lapangan di mana Springboks latihan. Mandela memberikan selembar puisi ke kapten Rugbi. Puisi itu berjudul Invictus, berarti tak terkalahkan. Puisi  penyemangat hidup di kala ia di penjara.

Invictus menjadi judul film,  dirilis pada 2009, alkisah, dalam tempo  setahun sahaja, Afrika Selatan menjuarai  dunia Rugbi, 1995.  Rugbi mempersatukan Afrika Selatan, dignitybangkit, kota  Johannesburg, menyemut-larut ke  dalam total football gemuruh bergembira riuh.

KAMIS, 8 Maret 2018. Pagi jelang siang itu matahari di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang, Sumatera Selatan, cerah. Kerumunan orang menanti para bintang lapangan Sriwijaya FC mulai menyemut.  Kendati  tak seheboh Afrika Selatan 1995 di Invictus, atmosfir sama.

Warga, supporter, ingin menyimak Piala Gubernur Kaltim, di mana Sriwijaya FC telah merebutnya dalam  pertandingan final pada 4 Maret 2018 lalu mengalahkan Arema FC dengan skor  3-2. Sebelumnya di babak perdelapan final Piala Presiden, Sriwijaya FC juga telah pernah pula mengalahkan Arema FC.

Maka begitu rombongan pemain membawa Piala Gubernur Kaltim  keluar dari ruang VIP Bandara, para Supporter sudah menyemut menunggu. Sorak-sorai berderai.

"Kito pacak!"

"Kito pacak."

"Kito pacak."

Dodi Reza Alex (DRA), Presiden Sriwijaya, dari atas Jeep putih komando  terbuka bersama pemain mengarak piala Gubernur Kaltim. Dari Bandara Sultan Mahmud Badarudin II,   kendaraan  sulit dipacu kencang. Sambutan masyarakat  di jalanan sesak. Warga ingin  melihat piala, bahkan ingin meraih. Mereka ingin   menyimak para bintang lapangan dari dekat.  Kito pacak menggema. Hastag #KitoPacak di Sosmed  Trending Topic.

Di sepanjang jalan sepeda motor mengular. Mereka semula bertujuan lain, dominan  melebur turut bersama arak-arakkan. Perjalanan menuju kawasan Pusat Olahraga Jakabaring, di mana  akan menjadi pusat pertandingan bagi Asian Games,  Agustus 2019 mendatang, terasa kian panjang.

Di pertengahan jalan,  DRA mendapatkan kabar bahwa neneknya, ibu dari Eliza Alex,  siang itu mendadak kritis berada di rumah sakit. Bisa dibayangkan keinginan hati DRA segera bergabung membesuk bersama keluarga. Di jelang tengah hari  matahari menyalak terik,  puluhan ribu asap  kendaraan menimpali wajah. Di beberapa ruas jalan angin tampak menerbangkan debu. Proses akhir pengerjaan LRT  Palembang, berdenyut 24 jam. Di suasana jalanan  demikian itu tak membuat wajah DRA berubah. Ia terus  tersenyum, ramah, melupakan gerah.

Di Jakabaring, warga menunggu pun padat. Semua seakan ingin meraih memeluk piala, bersalaman dengan bintang. Tak terkecuali lambaian tangan kepada DRA. Perjalanan di udara panas kian menyala. Sedianya DRA ingin sekali makan nasi bungkus bareng pemain dan supporter Sriwijaya FC, namun ia bergegas ke rumah sakit menjenguk neneknya kritis.

Saya simak di sepanjang jalan godaan kepada DRA tinggi. Ia dipancing memanfaatkan momentum  prosesi massal itu bagi kepentingan  promosi politik. Namun sedetik pun DRA tak memanfaatkan.  Ia dalam status cuti sebagai Bupati Musi Banyuasin. Saat ini ia  mencalonkan diri  sebagai Gubernur Suimatera Selatan. Bisa saja momen massa berjibun itu digunakannya untuk sekadar mengacungkan jari nomor urutnya sebagai kandidat Gubernur. Namun  hingga berpisah meninggalkan Jakabaring DRA hanya melanmbaikan tangan.

Keadaan justeru berbalik diterimanya. Oleh  lawan politik ada saja tudingan miring, misalnya,  membangun politik dinasti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2