Mohon tunggu...
Istanti Surviani
Istanti Surviani Mohon Tunggu... Lainnya - Ibu rumah tangguh yang suka menulis

Purna bakti guru SD, traveler, pejuang kanker

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Merindu Rumah-Mu

15 Juli 2022   23:55 Diperbarui: 16 Juli 2022   00:03 692
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Haji adalah Arafah. Hajian 2016. Wukuf di Padang Arafah. Foto: Dokpri

Masih lekat dalam ingatan, bagaimana aku bela-belain ikut kuis ini itu, ikut kirab Muharom yang berhadiah umroh dan semuanya tidak dapat alias zonk.  Anda belum beruntung.

Waktu berlalu, alhamdulillaah, sedikit demi sedikit Allah mulai membuka jalan. Ada donatur yang menyumbang lima juta. Ada juga kawan yang berbaik hati memberi pinjaman lunak tanpa riba sebesar empat juta. Sisanya tertutupi dari honor suamiku yang diajak bergabung dengan proyek teman kuliahnya di ITB dulu. 

Perlengkapan yang kupakai pun sebagian besar hadiah dari teman-teman ngaji. Itulah buah dari bergaul dan bersilaturahim dengan orang-orang baik. Juga buah dari doa bapak ibuku yang tak putus-putusnya. Semuanya sudah cukup membuktikan bahwa Allah itu Maha Mencukupi kebutuhan hamba-Nya. Maha Menolong.

Maka berangkat umrohlah aku pada bulan Mei 2008 bersama beberapa teman ngaji. Segala doa kupanjatkan di tanah suci dan memohon pada-Nya agar suami, bapak ibu, dan anak-anak bisa menyusul berumroh/haji. Di Masjidil Harom, dua kali kudengar nama suamiku dipanggil. 

Kucari-cari di sekeliling tak ada orang yang kukenal. Langsung kunyalakan pikiran positifku bahwa in syaa allooh suamiku akan dua kali ke tanah suci.

Tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Begitulah, kalau Allah sudah berkehendak tinggal berkata,"Kun fayakun! Jadilah, maka terjadilah!."            

Sebulan setelah umroh aku diterima magang mengajar di Sekolah Interaktif Gemilang Mutafannin, Bandung Barat, setelah sebelumnya dinyatakan gagal tes terakhir. Dari hasil bekerja, pinjaman lunak dari teman bisa kulunasi dalam waktu empat bulan saja. 

Suamiku mendapat pekerjaan lagi dengan cara yang sangat mudah.  Hanya bawa CV, ngobrol-ngobrol sebagai ganti wawancara formal, teken kontrak, dan langsung kerja. Proyek-proyek lain di luar kantor pun mulai menghampiri. Dia niatkan hasil kerjanya untuk umroh. Maka, tahun 2010 berangkat umrohlah suamiku.

Berangkat umroh 2011. Foto: Dokpri
Berangkat umroh 2011. Foto: Dokpri

Melihat niat suamiku, pemilik perusahaan tempatnya bekerja mendapat ide untuk mengumrohkan seluruh karyawannya dari level tertinggi sampai para OB dan ojeger. Subhaanallooh, alhamdulillaah, alloohu akbar. Setahun kemudian, seluruh karyawan diberangkatkan ke tanah suci. Yang sudah pernah umroh diberi ganti dengan uang sebesar biaya umroh. Alhamdulillaah.

Nyatanya di bulan Januari 2013, uang penggantian ini dipakai lagi oleh suamiku pergi umroh kedua mendampingi ayahku. Yah, aku dan adik-adik dikehendaki Allah mengumrohkan ayah. Maka Allah telah membuktikan pikiran positifku bahwa suamiku melaksanakan umroh dua kali. Fabiayyi aalaa i robbikumaa tukadziibaan. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun