Bisnis

Transformasi Menuju Istaka Jaya

17 Mei 2018   16:30 Diperbarui: 17 Mei 2018   17:08 310 0 0

Pegalaman pahit tidak  membuat PT Istaka Karya (Persero) lemah. Malah justru sebaliknya,  pengalaman tidak sedap yang pernah menimpanya itu, dijadikan sebagai  tonggak perubahan manajemen perusahaan milik pemerintah ini. Mereka  optimis menjadi perusahaan yang kokoh, terpercaya dan gemilang di bidang  industri konstruksi Indonesia

Jika Tuhan YME berkehendak, apapun bisa terjadi. Ibarat sudah dimasukkan ke kamar mayat, di luar dugaan bisa hidup lagi. Kun Fayakun, yang terjadi, maka terjadilah. Kira-kira begitulah alur gambaran kisah  yang pernah menyelimuti PT Istaka Karya. Perusahaan plat merah yang  sebelumnya dinyatakan pailit oleh para debitornya, siapa sangka malah  bisa beroperasi kembali. PT Istaka Karya yang dikomandani Ir. Sigit  Winarto, M.T., selaku Direktur Utama, mampu melepaskan diri dari  berbagai masalah rumit yang sempat melilitnya.

Belajar dari pengalaman pahit yang pernah menyambanginya itu, sejak  Juli 2017 PT Istaka Karya mengembangkan konsep perubahan di dalam tubuhnya. Langkah ini harus segera mereka lakukan, karena dewi  keberuntungan tidak akan pernah hadir dua kali.

Langkah perubahan itu mereka sebut Transformasi Istaka. Transformasi  di sini adalah melakukan proses perubahan secara bertahap untuk bisa mencapai semua unsur yang dikehendaki. Perubahan yang dilakukan dengan  cara memberi respons terhadap pengaruh unsur eksternal dan internal yang  akan mengarahkan perubahan dari bentuk yang sudah dikenal sebelumnya  melalui sebuah proses. Dengan demikian, diyakini mampu melahirkan wajah  baru PT Istaka Karya (new concept & new spirit Istaka) sebagai  perusahaan yang maju di bidang industri konstruksi di Indonesia, serta  mampu menggapai visi dan misi yang mereka emban, yaitu mampu mewujudkan  sebagai perusahaan yang kokoh dan terpercaya.

Unsur visi dan misi ini tak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.  Keduanya harus berjalan selaras agar mampu mewujudkan perusahaan  sebagai pencetak laba dan agen pembangunan di Indonesia melalui berbagai  produk yang berkualitas.

"Tanpa transformasi, saya kira Istaka Karya tidak akan mampu bangkit,  maju dan berkembang," tegas Direktur Utama PT Istaka Karya Ir. Sigit  Winarto, M.T.

Diakui pria kelahiran Jakarta 1968 itu dalam melakukan transformasi  tersebut ada tiga bidang yang menjadi target atau sasaran. Pertama,  transformasi untuk sistem produksi. Kedua, transformasi untuk sistem  manajemen keuangan dan ketiga, transformasi untuk sistem manajemen  Sumber Daya Manusia (SDM).

"Semua ini dilakukan secara serentak, kemudian kita bungkus dalam  visi dan misi Istaka Karya dan sebagai budaya perusahaan yang baru",

Dengan kebangkitan baru ini, diyakini tidak akan ada lagi celah keraguan yang menutup ruang eksistensi PT Istaka Karya.

Sekarang, dari sisi teknologi konstruksi mereka mengembangkan konsep  informasi teknologi terbaru, memanfaatkan internet dan media penyebaran  informasi lainnya.

" Dari sisi permodalan pun tidak  perlu diragukan lagi. PT Istaka Karya saat ini memiliki modal cukup  secara terus menerus, serta memperkuat permodalan untuk mendukung  pendanaan proyek sesuai dengan gridnya, baik modal sendiri, pinjaman  dari bank maupun bantuan rekanan dan investor perusahaan ",

Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan, mayoritas kontraktor  memiliki pengalaman perusahaan di atas 5 tahun dengan pagu miliaran dan  keahlian kontraktor dalam infastruktur serta transportasi.

Kemampuan SDM perusahaan pada dasarnya adalah unsur terpenting dari  keseluruhan kemampuan perusahaan untuk berkembang. Transformasi SDM ini  posisinya sangat menentukan. Perubahan dari sisi ini diyakini mampu  membentuk insan Istaka Karya yang berkarakter unggul, punya komunikasi  baik, kapasitas dan etos kerja mumpuni, punya karakter yang baik serta  berorientasi pada kepuasan pelanggan.

"Itu kita kembangkan sejak pertama kali tugas di sini. Dan  alhamdulillah seluruh program dari SDM Istaka Karya sudah rampung pada  saat ulang tahun kami pada 11 April kemarin dan sekarang sedang dalam  tahap implementasi," tegas Sigit Winarto.

Memang, diakui alumnus Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret  Surakarta, tahun 1993 ini, tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup  lama dalam mengembangkan konsep perubahan pada sektor sumber daya  manusia. Tapi mau tidak mau, suka atau tidak suka jika ingin maju,  langkah tersebut harus ditempuh apapun konsekuensinya.

Sehingga setiap orang yang menjalin kerja sama dengan PT Istaka  karya, mereka akan menjatuhkan penilaian bahwa setiap insan di  perusahaan ini memiliki karakter yang kuat dan tata nilai khusus. Tata  nilai yang saat ini tengah dikembangkan perusahaan harus mengembangkan  integritas, customer fokus dan daya juang.

"Tidak Pantang menyerah dan selalu melakukan upaya perbaikan. Saya  kira dengan membentuk perilaku itu dalam waktu singkat kami yakin mampu  bersaing dengan BUMN lainnya," tegas Sigit yakin.

Arah Pengembangan
Menurut Sigit, untuk dapat menciptakan iklim kerja yang  dapat menyatukan seluruh insan Istaka Karya pada kepatuhan dan  kepedulian terhadap nilai-nilai moral dan etika, semua benarbenar  dipersiapkan secara matang. Seluruh kelengkapan organ perusahaan yang  terdiri dari Dewan Komisaris, struktur organisasi yang mencakup Direksi  serta segenap personil perusahaan merupakan pihak-pihak yang terkait  satu sama lain, semua diarahkan dalam proses penciptaan penyelenggaraan  bisnis secara sehat dan beretika.

Oleh karenanya, perusahaan mewajibkan seluruh insan Istaka untuk  mematuhi semua ketentuan hukum, peraturan perundang-undangan dan seluruh  ketentuan perusahaan yang berlaku. Dan yang tidak kalah pentingnya,  para insan Istaka ini diwajibkan untuk sungguhsungguh memahami dan  berperilaku sesuai dengan panduan perilaku perusahaan dalam berinteraksi  atau berhubungan dengan stakeholders.

"Dengan mematuhi hukum dan ketentuan perusahaan serta menjalankan  etika yang baik, maka dalam waktu dekat dan jangka panjang, saya yakin  akan meningkatkan nilai dan keberhasilan insan Istaka sekaligus  meningkatkan citra perusahaan di tengah-tengah masyarakat dan dunia  usaha," ujar peraih Master Teknik tahun 2006, Universitas Tarumanegara,  Jakarta itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3