Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Meninggalkan Dunia Hitam, Tak Ada Lagi Ritual Mencabut Uban

24 Oktober 2021   11:45 Diperbarui: 24 Oktober 2021   11:46 480 67 15
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi uban yang mulai tumbuh|dok. istimewa/merdeka.com

Pagi Minggu (24/10/2021), saya kebetulan lagi malas ke mana-mana. Sebetulnya, bukan kebetulan juga, karena pemalas itu sudah jadi penyakit saya sejak lama.

Sambil mengaca memandangi wajah sendiri, saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa ya saya terlihat tua dan lelah?

Apakah waktu demikian cepat berlalu? Perasaan saya baru kemarin perayaan tahun baru 2021, sekarang kalender 2021 sudah hampir berakhir.

Mata saya lama terpaku menatap rambut. Saya bersyukur masih punya rambut yang merata di semua bagian kepala.

Padahal, tidak sedikit teman saya seusia yang kepalanya bolong-bolong, pada bagian tertentu licin tanpa rambut.

Bahkan, yang kepalanya tanpa sehelai rambut pun juga ada, sehingga sering dipakai untuk mengaca oleh teman-teman saya.

Agar teman saya tidak bisa lagi mengaca, teman yang berkepala plontos ini akhirnya selalu memakai topi.

Saya teringat pengalaman belasan tahun lalu, dua orang anak saya sering saling berlomba adu banyak mencabut uban di kepala saya. 

Mereka  berebutan menyibak rambut saya dari berbagai sisi sehingga jadi berisik.

Ketika itu uban saya belum banyak, sehingga kalau ada uban yang menyumbul, saya anggap merusak penampilan. 

Biasanya, bila saya lagi menyisir rambut, sekilas ada terlihat yang berwarna putih. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan