Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Hati-hati Naik Angkutan Antar Kota, Jangan Asal Naik Travel

24 Februari 2021   12:48 Diperbarui: 24 Februari 2021   12:53 55715 81 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hati-hati Naik Angkutan Antar Kota, Jangan Asal Naik Travel
dok. khazminang.id (foto: Ist/net)

Anak bungsu saya, satu-satunya cewek dari tiga bersaudara, hari ini (Rabu, 24/2/2021) memutuskan kembali ke tempat kos yang telah ia tempati sejak tiga tahun terakhir, di kawasan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Ia kebetulan kuliah di Universitas Padjadjaran, yang sejak belasan tahun terakhir tidak lagi berkampus di Bandung, tapi di Jatinangor.

Saya hitung-hitung, kamar kos anak saya  itu sudah 10 bulan kosong, meskipun sewa kos yang memakai sistem tahunan tetap saya bayar, karena begitulah permintaan anak saya. Saya ingat, awal April 2020, saya memintanya pulang saja ke Jakarta, karena kegiatan kampus dilakukan secara daring. 

Ketika itu saya menjemput dengan kendaraan pribadi, dan saya menemui keadaan yang agak mencekam. Memang di awal-awal pandemi itu, jalan tol Jakarta-Bandung dan sebaliknya, sangat sepi. Padahal, jalur Jakarta-Bandung biasanya padat kendaraan yang di beberapa titik menyebabkan kemacetan.

Sekarang, si anak yang sudah tinggal menulis skripsi, merasa lebih nyaman kalau kembali ke tempat kos, meskipun interaksi dengan dosen pembimbing masih dilakukan secara daring. Dengan berbagai nasehat agar ia selalu mematuhi protokol kesehatan, akhirnya si anak saya lepas.

Sebetulnya saya merasa lebih aman bila saya mengantar langsung dengan mobil pribadi. Tapi, selain saya punya kegiatan yang tak bisa ditinggalkan, si anak juga menghendaki naik travel saja. Memang, sebelum pandemi, ia lebih suka naik travel, kecuali di tahun pertama kuliah yang minta diantar atau dijemput.

Pagi tadi, saya mewanti-wanti agar anak saya menggunakan travel yang sudah punya nama dengan reputasi bagus. Soalnya, saya baru saja menonton tayangan berita dari salah satu stasiun televisi, ada seorang guru yang jadi korban perampokan saat naik mobil travel dalam perjalanannya dari Padang ke Padang Panjang.

Si ibu guru kurang awas ketika di tempat mangkal mobil travel yang lagi menunggu penumpang. Ia mengira mobil yang akan dinaikinya itu mobil travel resmi. Ternyata, itu mobil travel liar berisi komplotan penjahat yang sengaja memasang seorang ibu berjilbab duduk di depan berlagak seperti penumpang. 

Setelah si ibu naik, ia mulai panik ketika dari kursi belakang ada seorang laki-laki yang langsung meminta si ibu menyerahkan uang, hape, perhiasan, serta kartu ATM dan juga bertanya nomor PIN-nya. Korban akhirnya diturunkan di suatu tempat dengan kondisi terluka, dan dibantu warga untuk melapor ke kepolisian. Untungnya, komplotan tersebut berhasil diringkus oleh polisi.

Travel liar memang susah ditertibkan. Bahkan, travel resmi pun tampilannya mirip dengan mobil pribadi. Untuk jalur Jakarta-Bandung, kondisinya lumayan tertib, karena banyak travel yang tampilannya khusus, pakai warna, logo, dan nama travel yang jelas, termasuk nomor telpon yang bisa dihubungi.

Tapi, karena saya relatif sering ke Sumbar dan Riau, saya beberapa kali menggunakan travel yang tampilannya persis mobil pribadi tanpa ciri-ciri khusus. Di lain pihak, travel sekarang jadi pilihan utama untuk perjalanan antar kota di Sumbar dan Riau. Memang masih ada bus yang tarifnya lebih murah. Tapi, dengan jadwal yang tidak jelas dan lama menunggu penumpang penuh, bus sekarang "tergencet" oleh travel.

Kembali ke cerita anak saya, alhamdulillah perjalanannya lancar. Namun, tetap saya berpesan agar kapan pun ia naik travel, selalu memastikan dulu bahwa ia naik travel resmi. Saya kira pesan ini berlaku umum bagi siapa pun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x