Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Hilangnya Sapaan "Bung", Pengikis Feodalisme di Zaman Revolusi Kemerdekaan

17 Oktober 2020   11:05 Diperbarui: 17 Oktober 2020   11:09 272 60 19 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hilangnya Sapaan "Bung", Pengikis Feodalisme di Zaman Revolusi Kemerdekaan
dok. suratkabar.id

Tiba-tiba seorang kompasianer mengirim pesan singkat pada kolom percakapan di akun kompasiana saya. Kaget juga saya saat ia menyapa dengan "bung". Setelah itu ada juga kompasianer lain yang menyapa saya dengan cara yang sama, saat memberi komentar atas salah satu tulisan saya.

Kekagetan saya adalah kaget yang positif. Tak ada masalah, bahkan saya senang, jika dipanggil dengan "bung". Kaget hanya karena semata-mata saya jarang sekali menerima panggilan seperti itu. Biasanya hanya dipanggil pak, mas, bang atau uda (kakak laki-laki dalam bahasa Minang). Ada pula yang lebih gaul dengan memanggil saya "bro".

Mudah-mudahan saya tidak keliru karena menafsirkan bung sebagai sapaan yang egaliter, lebih memperlihatkan kesetaraan antara yang menyapa dan yang disapa. Dengan demikian sedikit terlepas dari sekat-sekat senior dan junior atau status sosial seseorang.

Tak heran kalau sapaan "bung" begitu populer pada zaman revolusi kemerdekaan, sekitar tahun 1945 hingga 1949. Hal ini seolah mengikis budaya fodal yang masih kuat. Bahkan, ketika itu sebetulnya masih lazim memanggil "tuan" bagi laki-laki dewasa, "nyonya" bagi perempuan yang telah bersuami dan "nona" bagi perempuan yang masih lajang.

Tentang tuan dan nyonya, sebetulnya ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan hal itu berbau feodalisme. Tapi juga ada yang mengatakan sekadar terjemahan dari bahasa Inggris "ladies and gentlemen".

Bung Karno dan Bung Hatta adalah "duo bung" yang paling populer karena peranannya yang sangat monumental, menjadi proklamator kemerdekaan RI. Satu lagi yang juga populer adalah Bung Tomo, tokoh yang menggerakkan perlawanan rakyat pada peristiwa heroik 10 November 1945, yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Bila menjadi kwartet, masuklah seorang bung lagi, yakni Bung Sjahrir yang juga dijuluki dengan Bung Kecil. Bung yang satu ini adalah pemikir hebat yang ikut meletakkan fondasi negara. Ketika masih berusia 18 tahun, ia sudah hadir pada kongres yang menghasilkan Sumpah Pemuda. 

Tragisnya, Bung Sjahrir yang seorang diplomat ulung itu menjadi korban revolusi, karena dipenjarakan tanpa proses peradilan, dan akhirnya meninggal saat dirawat di Swiss tahun 1966.

Adam Malik, Wapres ke-3, juga dijuluki "Si Bung dari Siantar" (sebuah kota di Sumut). Adam Malik awalnya seorang wartawan, tapi berkat kelihaiannya dalam berpolitik, ia tetap selamat, ia terpakai pada era Soekarno, juga oleh Soeharto. 

Laki-laki bermarga Batubara yang lama jadi Menteri Luar Negeri ini, punya reputasi dunia karena pernah menjadi Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1971-1972. Dengan tubuh yang kecil tapi jago berdiplomasi, ia disebut juga "Si Kancil.

Bila ditelusuri ke berbagai referensi, ternyata sapaan "bung" itu berasal dari Bengkulu yang artinya adalah kakak laki-laki. Jauh sebelum "bung" dipakai secara nasional, di Bengkulu sudah lazim seorang isteri menyapa suaminya dengan "bung".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN