Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Pencopotan Ahok dari Pertamina atau Pembubaran Kementerian BUMN?

17 September 2020   07:38 Diperbarui: 17 September 2020   08:14 1785 56 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pencopotan Ahok dari Pertamina atau Pembubaran Kementerian BUMN?
dok. hops.id

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memang sering membuat pernyataan yang keras. Maka kalau Ahok tanpa tedeng aling-aling menyatakan kekecewaannya tentang tata kelola di Pertamina, perusahaan di mana ia menjadi komisaris utama (komut), tentu tidak mengherankan.

Dengan posisi komut, sebetulnya Ahok bisa memanggil direksi untuk menyampaikan penjelasan atas hal yang dirasa Ahok kurang pas. Tapi kemungkinan penjelasan direksi tetap tidak memuaskan Ahok, sehingga ia berkomentar yang rada nyelekit dan diberitakan sejumlah media daring. 

Memang, kalau memperhatikan gaya Ahok sewaktu menjadi Gubernur DKI Jakarta, sering tidak jelas, apakah Ahok keceplosan berbicara di depan jurnalis, atau memang sudah direncanakan demikian, agar publik bisa mengetahui hal-hal yang menjadi sumber kejengkelannya. 

Tapi untuk profil seorang Ahok yang memang terkenal ceplas ceplos, sebetulnya tidak relevan lagi mempertanyakan apakah Ahok keceplosan atau tidak. Apalagi untuk kasus yang di Pertamina, ternyata setelah ditelusuri, berita yang beredar di media daring, ditulis ulang berdasarkan video pendek yang terdapat pada akun Politik Indonesia (Poin) di YouTube pada Senin, 14 September 2020.

Sebagai contoh, coba simak apa yang ditulis kompas.com (16/9/2020). Ahok membeberkan sejumlah masalah di tubuh Pertamina, mulai dari gaji besar pejabat non-job, utang perusahaan yang membengkak, hingga masalah penujukan direksi dan komisaris. Ahok juga menyampaikan kritiknya terkait kilang minyak baru yang belum dibangun. Padahal, sudah ada beberapa investor yang serius patungan bisnis dengan Pertamina.

Karena terlanjur menjadi berita di media massa, Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, juga merespon yang dimuat media daring. Ia mengatakan, apa yang disampaikan komut Pertamina itu sebagai masukan untuk perbaikan tata kelola Pertamina. Fajriyah juga memastikan bahwa hubungan antara direksi dan komisaris  Pertamina masih terjaga dengan baik.

Namun publik bisa saja menangkap lain, bahwa hubungan antara direksi dan komisaris, khususnya dengan komut, mungkin lagi kurang mesra. Padahal, keharmonisan hubungan antara direksi sebagai pimpinan yang menjalankan bisnis perusahaan setiap hari, dengan komisaris sebagai pihak pengawas, mutlak diperlukan, demi kemajuan perusahaan.

Sebelum itu, berita tentang kinerja keuangan Pertamina yang menderita kerugian sebesar Rp 11 triliun selama semester pertama 2020, juga ramai diberitakan media massa. Menurut manajemen Pertamina, kerugian itu karena turunnya permintaan sehubungan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Selain menyangkut Pertamina, Ahok sempat pula melontarkan ide untuk membubarkan Kementerian BUMN. "Kementerian BUMN harus dibubarkan sebelum Pak Jokowi turun. Kita harus ada semacam Indonesia Incorporation macam Temasek," ujar Ahok.

Temasek adalah semacam superholding atas perusahaan-perusahaan milik negara di Singapura. Malaysia juga punya hal yang sama, yang dinamakan dengan Khazanah.

Agaknya istilah membubarkan BUMN terdengar "kasar", sehingga memancing serangan balasan dari orang-orang yang kurang menyukai Ahok. Contohnya Andre Rosiade, politisi Gerindra yang juga anggota Komisi VI DPR yang mengusulkan ke Presiden Jokowi dan Menteri BUMN Erick Thohir untuk mencopot Ahok dari posisi komut Pertamina. Andre menilai Ahok telah menimbulkan kegaduhan dan kinerja Ahok tidak bagus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN