Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pembaruan Budaya Pengantin Minang, Sekarang Pakai Sungkeman

25 Agustus 2019   17:00 Diperbarui: 26 Agustus 2019   03:28 0 26 7 Mohon Tunggu...
Pembaruan Budaya Pengantin Minang, Sekarang Pakai Sungkeman
Seorang penganten dalam prosesi sungkem sebelum akad nikah di Payakumbuh (dok pribadi)

Sungkeman adalah budaya yang lazim diterapkan masyarakat Jawa. Karena saya bukan orang Jawa, saya tidak tahu kapan saja orang Jawa harus melakukan tradisi itu.

Yang saya tahu, teman-teman saya dari Jawa melakukan sungkeman saat hari raya  idulfitri atau lazim disebut lebaran. Saya juga sering melihat sungkeman sebelum acara akad nikah bagi sepasang pengantin.

Sebagai orang Minang, saya yang sudah tidak lagi muda ini, belum pernah sekalipun melakukan sungkeman pada orang tua saya, ataupun menerima sungkeman dari anak-anak saya.

Jangankan sungkeman, menyalami orang yang dituakan sambil membungkukkan badan, baru bisa saya lakukan setelah saya bekerja di sebuah BUMN di Jakarta. 

Kata orang kalau ingin disukai atasan mau tak mau harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Artinya karena di kantor tempat saya bekerja mayoritas orang Jawa, tentu saya harus mengurangi kadar ke-Minang-an saya yang tidak terbiasa membungkukkan badan ke lawan bicara.

Tapi dunia memang semakin kecil. Budaya suku lain pun sudah gampang diketahui oleh orang yang tinggal di daerah yang berbeda. Bila budaya lain itu dinilai bagus bisa saja ditiru semuanya atau diambil sebagian.

Nah itulah yang saya angkat dalam tulisan ini. Orang Minang yang tadinya tidak bisa sungkeman, ternyata sekarang sudah mempraktikkannya.  Tapi bukan di hari lebaran, melainkan dilakukan sepasang pengantin yang akan menjalani akad nikah.

Itulah yang saya saksikan pada hari Sabtu, 3 Agustus 2019 di sebuah rumah di Payakumbuh, Sumbar. Calon pengantin pria dan calon pengantin wanita melakukan sungkeman dalam rangka minta restu pada kedua orang tua masing-masing dan kedua calon mertuanya.

Saya sendiri 28 tahun yang lalu sebagai orang Minang yang melakukan akad nikah di Jakarta, tidak melakukan sungkeman. Tapi sejak 10 tahun terakhir ini pengantin Minang di Jakarta sepertinya "wajib" melakukan sungkeman.

Bahkan akhirnya seperti yang saya lihat, orang Minang yang berdiam di kampung halaman pun sudah pula melakukannya. Tak ada yang aneh sebetulnya, artinya budaya Minang cukup terbuka dengan tradisi baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x