Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Hamka, Anak Nakal yang Kemudian Jadi Ulama Besar

9 November 2018   22:32 Diperbarui: 9 November 2018   22:41 152 9 5
Hamka, Anak Nakal yang Kemudian Jadi Ulama Besar
Dok. suaramuhammadiyah.id

Mungkin tidak banyak yang tahu, nama Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Sebagai orang Minang, lazim pula menyematkan sebutan "Buya" bagi para uztad atau penceramah agama, maka nama Buya Hamka, sangatlah terkenal, bahkan sampai sekarang, setelah 37 tahun beliau wafat.

Tidak terhitung lagi buku yang ditulis oleh Hamka. Demikian pula buku yang ditulis orang lain tentang Hamka, tak kalah banyak, karena sampai sekarang masih bermunculan buku-buku baru membahas sepak terjang Hamka yang tetap relevan dalam konteks saat ini.

Ulama besar, rasanya sangat tepat untuk menggambarkan sosok Hamka, tidak saja karena beliau menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia saat awal pendiriannya, dari 1975 sampai beliau mengundurkan diri 1981, tapi juga keulamaannya diakui secara internasional, termasuk di Arab Saudi dan Mesir.

Tapi sejatinya Hamka adalah manusia multi talenta. Beliau juga sastrawan yang menulis beberapa novel, dua di antaranya telah difilmkan, "Di Bawah Lindungan Ka'bah" dan "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk". Hamka juga tokoh di bidang pers, karena beberapa kali menjadi pemimpin redaksi, terakhir di majalah Panji Masyarakat.

Sebagai akademisi, tidak perlu diragukan lagi. Gelar Profesor dan Doktor dari beberapa perguruan tinggi dalam dan luar negeri, merupakan bukti yang tak terbantahkan. Walaupun secara formal, Hamka tidak tamat sekolah dasar sekalipun.

Sebagai politisi, Hamka pernah pula terlibat, meskipun jam terbangnya tidak terlalu lama. Beliau aktif di Partai Masyumi dan terpilih menjadi anggota parlemen yang ketika itu disebut Dewan Konstituante hasil Pemilu pertama dalam sejarah RI pada tahun 1955.

Namun justru setelah Hamka tidak lagi aktif berpolitik, fokus ke medan dakwah pada awal dekade 1960-an dengan memimpin kegiatan di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, beliau ditangkap karena dinilai berbahaya bagi pemerintahan Soekarno. Hamka baru dibebaskan setelah Orde Lama tumbang.

Kisah perjalanan kehidupan Hamka sekarang dapat dinikmati dengan enak, dengan terbitnya sebuah buku baru berupa novel biografi dengan judul "Buya Hamka". Buku setebal 836 halaman ini ditulis oleh Haidar Musyafa, diterbitkan oleh Penerbit Imania, cetakan I, April 2018. Buku ini dapat dibeli di jaringan toko buku Gramedia.

Terlalu banyak yang bisa diangkat dari tokoh besar sekaliber Buya Hamka dari novel biografi dimaksud. Tapi ada yang menarik dan cukup mendapat porsi yang banyak di buku tersebut, yakni masa kecil dari putra kelahiran sebuah desa di pinggir Danau Maninjau, Sumbar, tahun 1908 itu.

Bahwa Hamka kecil adalah seorang anak yang gagal dalam pendidikannya sehingga sekolah dasar (dulu dinamakan sekolah rakyat) pun tak tamat, demikian pula saat menimba ilmu di pesantren yang dikelola ayahanda Hamka, Haji Rasul, ulama Minang terpandang ketika itu, sudah banyak diungkapkan buku-buku tentang Hamka.

Tapi tentang kenakalannya yang kebangetan, bahkan dipandang dari kaca mata zaman sekarang pun, agaknya baru di buku ini yang ditulis secara rinci. 

Malas belajar karena metode pengajaran guru yang monoton, belajar silat lalu secara konyol menantang berkelahi orang dewasa ketua preman di pasar Padang Panjang yang membuat Hamka kecil bercucuran darah, kabur dari rumah berhari-hari dan berjalan kaki sejauh puluhan kilometer ke Payakumbuh, di mana ia belajar jadi joki penunggang kuda pacu dan ikut lomba dengan memalsukan usia karena minimal usia joki harus 17 tahun, adalah beberapa contoh kenakalan dimaksud.

Bahkan kemudian, Hamka kabur lagi dari rumah orang tuanya berbulan-bulan dengan niat mau ke Pulau Jawa, tapi terhenti di Bengkulu karena menderita sakit cacar. Untung saja ada orang yang berbaik hati menampung dan merawatnya, dan mengongkosinya kembali ke Padang Panjang.

Namun akhirnya karena jiwa petualangnya juga yang membentuk Hamka jadi orang yang haus ilmu secara otodidak dan mengembangkan kemampuannya dalam menulis dan berbicara di depan umum. Inilah pembuka jalan kesuksesan seorang Hamka.

Berbicara tentang novel biografi, sejak beberapa tahun terakhir ini memang seperti trend, setelah suksesnya novel tentang Dahlan Iskan karya Khrisna Pabichara yang juga seorang kompasianer.

Membaca novel jelas lebih asyik ketimbang membaca buku sejarah. Namun tentu akurasinya tidak bisa dijamin 100 persen. Sebagai contoh dalam "Buya Hamka", kalimat surat cinta monyet Hamka remaja ke gadis yang ditaksirnya, terkesan pakai gaya bahasa masa kini. Demikian pula dialog Hamka dengan ibu dan bapaknya, tentu berupa rekaan pengarang.

Secara umum buku di atas bermanfaat dibaca oleh para remaja dan generasi muda. Tentu maksudnya bukan untuk membiarkan seorang anak menjadi nakal agar nantinya sukses. Tapi lebih pada meniru perjuangan keras Hamka yang tahan banting. Jadi, jangan buru-buru mencap anak nakal pasti akan nakal seterusnya. Ada titik balik yang harus ditemukan agar si anak nakal menempuh jalan yang benar.

Sedikit catatan, karena penulisnya bukan orang Minang, ada beberapa hal kecil yang mengganggu bagi yang tahu. Contohnya, berkali-kali disebut Hamka berlayar dari suatu tempat ke Padang Panjang. Padahal yang tepat adalah ke Padang. Padang adalah kota yang punya pantai, sedangkan Padang Panjang terletak di pegunungan, sekitar 70 km di utara Padang.

Contoh lain, menyebut Bagindo Aziz Chan sebagai Walikota Padang Panjang di awal kemerdekaan RI, seharusnya Walikota Padang. Semoga ini bisa jadi bahan koreksi pada cetakan berikutnya, bila mengalami cetak ulang.