Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang freelance

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Menjelang Mentari Tenggelam di Blue Point Bali

10 Agustus 2018   08:29 Diperbarui: 10 Agustus 2018   08:40 198 7 3
Menjelang Mentari Tenggelam di Blue Point Bali
Mentari hampir tenggelam (Dok pribadi)

Melancong ke Bali tidak lengkap kalau tidak menyaksikan sunset atau proses tenggelamnya matahari secara perlahan-lahan, dari terlihat bulat merah seutuhnya, tenggelam separo, sampai betul-betul hilang ditelan laut sejauh mata memandang.

Tentu ada faktor keberuntungan juga agar bisa melihat sunset yang sempurna. Maksudnya sering ada kendala cuaca yang menghambat. Meskipun tidak hujan, namun bila awan tebal menutup matahari, maka proses matahari terbenam tidak akan terlihat secara utuh. 

Sebetulnya sepanjang pantai di sisi barat pulau Bali, berjejer tempat strategis buat menunggu mentari terbenam. Tanah Lot, Seminyak, Canggu, Double Six, Kuta, Jimbaran, Uluwatu, dan banyak lagi tempat sejenis, semuanya cocok untuk itu.

Penuh sesak menunggu sunset (dok pribadi)
Penuh sesak menunggu sunset (dok pribadi)
Tapi berdasarkan rekomendasi pemandu wisata yang saya pakai dari Iko Bali Tour, Jumat (13/7/2018), saya memilih nongkrong di Blue Point sejak jam 15.30 sore waktu setempat. 

Ternyata di jam segitu, saat panas masih terik, telah ramai wisatawan, terutama bule, yang nongkrong di beberapa tempat. Yang terbanyak adalah di sebuah restoran yang cukup luas dengan bangunan terbuat dari kayu.

Mungkin karena dari restoran tersebut, lautan luas di bawahnya terlihat begitu biru, maka dinamakan Blue Point. Bisa jadi juga karena di sana lagi dibangun hotel yang dinamakan Blue Point. 

Ada pula vila, spa, dan venue untuk pernikahan yang sering digunakan para selebriti lokal dan internasional yang ingin acara pernikahannya berlangsung secara eksklusif.

Tidak tahu mana yang lebih dahulu ada, nama pantai atau nama hotel. Nama aslinya sebetulnya Pantai Suluban, dan masih masuk Kecamatan Uluwatu, Kabupaten Badung. Tapi pelancong dan petunjuk di panduan wisata lebih banyak memakai nama Blue Point. 

Perlu perjuangan untuk turun ke pantai (Dok pribadi)
Perlu perjuangan untuk turun ke pantai (Dok pribadi)
Adapun untuk ke bibir pantai, dari ketinggian tempat beberapa restoran itu berada, pengunjung harus menuruni banyak anak tangga dengan jalan yang sedikit berliku. Di beberapa titik kalau arus pengunjung yang naik dan yang turun cukup banyak, salah satu pihak harus mengalah dengan mendahulukan yang lain.

Namun suasana di pinggir jalan menuju pantai tersebut, meskipun berupa gang sempit, penuh dengan berbagai kios yang menjual minuman, cendera mata, penyewaan papan selancar, pakian, dan sebagainya. Memang suasana di gang tersebut cukup ramai, sehingga tepat untuk berjualan di sana.

Batu-batu di pinggir pantai (Dok pribadi)
Batu-batu di pinggir pantai (Dok pribadi)
Masih di perjalanan menuju pantai, pengunjung akan terpesona dengan batu-batu karang raksasa yang kokoh. Bentuk batu karang itu menarik karena ada yang bolong, ada pula yang mirip goa, dan berbagai keunikan lainnya yang terbentuk dari kikisan air laut. Di salah satu dinding batu yang amat besar, terukir tulisan "Pantai Suluban Uluwatu".

Makanya di berbagai batu karang tersebut ramai sekali para pelancong saling berfoto, atau sekadar bermain. Kalau capek, ada banyak batu kecil tempat duduk buat istirahat sejenak, atau duduk di undakan anak tangga.

Setelah mentari tenggelam (Dok pribadi)
Setelah mentari tenggelam (Dok pribadi)
Tentu saya dan keluarga juga tak ketinggalan main jepret sana jepret sini. Setelah puas berfoto dan membasahi telapak kaki, serta memandang ke sekeliling, kami kembali naik. Jelas untuk naik perlu tenaga lebih besar ketimbang tadi waktu turun. Ya, hitung-hitung, anggap saja olahraga dan membakar lemak.

Mungkin saya sendiri butuh 30 menit untuk sampai lagi di atas, karena disela oleh dua kali istirahat. Selanjutnya kami memilih sebuah restoran yang tidak begitu ramai, untuk memesan minuman air kelapa muda.

Di gang turun naik pelancong, banyak kios (Dok pribadi)
Di gang turun naik pelancong, banyak kios (Dok pribadi)
Lalu sambil meneguk minuman pelepas dahaga, saya konsentrasi menatap proses matahari yang bergerak ke peraduannya. Sungguh syahdu rasanya, sekaligus sambil mengucap syukur alhamdulillah diberikan kesempatan menikmati keindahan alam ciptahan Yang Maha Kuasa.

Sampai mentari betul-betul hilang, para pelancong masih setia memandang refleksi warna kemerahan di ujung langit. Setelah gelap barulah sebagian pengunjung bergerak meninggalkan Blue Point. Tentu masing-masing sudah punya agenda di malam hari. Ada yang kembali ke hotel atau mencari makan malam, atau berbelanja. Suatu senja yang indah.

Dok pribadi
Dok pribadi