Mohon tunggu...
IR WANDI
IR WANDI Mohon Tunggu... Yang menang akan dicari yang kalah punya kawan sejati

Yang menang akan dicari yang kalah punya kawan sejati

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Hamdanus Anak Lapau Berhati Surau

20 September 2020   23:49 Diperbarui: 20 September 2020   23:57 19 2 1 Mohon Tunggu...

Tulisan saya ini untuk mengomentari  tulisan yang berjudul 'Hamdanus Anak Lapau Berhati Surau' yang di muat disalah satu koran di Sumatera Barat, kabarnya.

Kenapa saya mengatakan kabarnya, sebab pastinya saya tidak bisa membaca tulisan itu, karena hanya berupa copyan dengan tidak mencantumkan linknya jadi tulisannya sangat tidak jelas, kecuali judulnya saja.  Tulisan tersebut diposting pada media sosial hari Minggu tanggal 20 September 2020.

Dari gambar-gambar yang ditampilkan di bagian koran tersebut saya bisa membaca bahwa seseorang yang bernama Hamdanus suka duduk di lapau namun ia juga bisa berceramah di surau. Itu yang bisa saya baca dari gambar tersebut.

Bagi saya hal itu tidak ada yang spesial, sebab saya tahu sekarang sedang musim mencari simpatisan. Hal yang membuat saya mengernyitkan kening isi tidak semantap judulnya, sebab foto-foto yang ditampilkan adalah foto-foto masih hangat-hangat musim ini juga, seharusnya foto-foto beberapa tahun silamlah hendaknya.

Selanjutnya saya bertanya-tanya kenapa harus memakai istilah 'anak lapau berhati surau'. Ada apa dengan hati orang-orang yang duduk di lapau? Seolah dibenturkan antara lapau dan surau, kenapa harus dibenturkan. 

Kedua tempat tersebut mempunyai nilai istimewa di jiwa masyarakat Minangkabau dari dahulu. Lapau dalam konteks ini adalah tempat dimana kaum laki-laki duduk-duduk dan minum kopi.

Di lapau terjadi pertukaran fikiran dan informasi baru dari luar. Di lapau terkadang disuguhkan pula ilmu bersilat lidah, yang tujuan semua itu adalah mempererat silaturrahmi dan menempa kebesaran jiwa.

Surau secara umum bisa diartikan tempat untuk beribadah, namun kalau kita runut ke belakang Masyarakat Minang juga mempergunakan surau sebagai tempat tidur anak remaja laki-laki. Di surau mereka akan ditempa dengan ilmu agama dan ilmu bela diri.

Kelihatannya antara lapau dan surau ada keterkaitan yang baik, kenapa harus kita membuat pertentangan. Terkadang kita menuliskan perbandingan yang salah karena tidak tahu aspek historisnya.

Niak hati nak mamaluak gunuang, kok malatuih apo kadayo. Ya, mungkin niat hati untuk mempecantik tuah di badan, tapi mungkin akan menyinggung perasaan secara dialektika.

VIDEO PILIHAN