Mohon tunggu...
Irmina Gultom
Irmina Gultom Mohon Tunggu... Apoteker - Apoteker

Pharmacy and Health | Books | Travel | Cultures | Photography | Movies | Author of What You Need to Know for Being Pharmacy Student | UTA 45 Jakarta | IG: irmina_gultom

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama FEATURED

Menghindari Pemikiran Toxic Positivity dalam Fenomena Generasi Sandwich

6 Desember 2020   18:07 Diperbarui: 26 Juli 2021   07:36 929 40 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menghindari Pemikiran Toxic Positivity dalam Fenomena Generasi Sandwich
Ilustrasi (Sumber: www.istockphoto.com)

Istilah Generasi Sandwich (Sandwich Generations) sebenarnya sudah cukup lama pernah menjadi trending topic. Bahkan istilah ini pertama kali dicetuskan sejak tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller dalam jurnalnya. Jadi sudah bukan hal yang baru sebenarnya.

Saya rasa tidak perlu lagi lah menjelaskan apa itu Generasi Sandwich ya? Bagi pembaca sekalian yang mungkin belum familiar dengan istilah ini, silakan googling dan kalian akan menemukan segudang artikel mengenai apa itu Generasi Sandwich.

Bak gayung bersambut, tidak lama setelah topik ini diangkat menjadi Topik Pilihan di Kompasiana, muncullah sekian banyak artikel dari para Kompasianer. 

Barangkali karena topik ini terasa relate ya? Apalagi saat ini generasi milenial lah yang menjadi generasi produktif dan kebanyakan dari mereka sudah berkeluarga atau dikenal juga dengan kaum Millenial Parents. Beragam pendapat maupun analisis mengenai seluk-beluk Generasi Sandwich pun dikupas tuntas.

Tapi setelah membaca beberapa artikel secara random, saya menyimpulkan bahwa banyak yang berpendapat bahwa fenomena Generasi Sandwich adalah suatu hal yang biasa. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa menanggung hidup tiga generasi (diri sendiri, orangtua dan anak) adalah suatu kewajaran. 

Beberapa orang bahkan berpendapat dan berpikir positif, bahwa menanggung biaya hidup orangtua (meskipun sudah memiliki keluarga sendiri) adalah suatu kewajiban dan kesempatan untuk membalas budi kepada orangtua.

Hal ini tidak lepas dari pengaruh budaya ketimuran orang Indonesia di mana seorang anak haruslah mengingat pengorbanan kedua orangtuanya dalam merawat dan mendidik mereka sejak kecil. Dan salah satu caranya adalah dengan merawat dan mengurus orangtuanya di masa tua mereka.

Akan menjadi suatu hal yang kurang pantas ketika seorang anak memutuskan menitipkan orangtuanya di panti jompo. 

Ada stigma di mana orang-orang tua yang tinggal di panti jompo adalah orang-orang tua yang terbuang dan anak yang menitipkan orangtuanya ke panti jompo adalah anak yang tidak tahu balas budi.

Oleh sebab itu, ketika orangtua sudah memasuki masa pensiun atau berusia lanjut dan tidak lagi menghasilkan, seakan-akan sudah menjadi suatu kewajiban bagi si anak untuk menanggung seluruh biaya hidup orangtuanya sebagai bentuk balas budi.

Idealnya, ketika seorang anak akhirnya dewasa dan menikah, maka sang anak "terpisah" dari orangtuanya. Termasuk soal finansial. Tapi sebagian keluarga memiliki kondisi tertentu, di mana ketika orangtuanya memasuki masa pensiun dan tidak lagi menghasilkan, anak-anaknya lah yang gantian mengurus orangtuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x