Mohon tunggu...
Irham WP
Irham WP Mohon Tunggu...

(“Keep your dreams alive. Understand to achieve anything requires faith and belief in yourself, vision, hard work, determination, and dedication. Remember all things are possible for those who believe,” : Gail Devers) This is a moderated blog. Any comment contributing to a serious discussion is welcome. Some people may not agree with the content of some posts, but please refrain from abusive, profane, or offensive language in your comments - they will automatically be deleted, as will all comments that have no bearing whatsoever on the subject and/or only serve to slight or even insult the author.

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Rupiah Masih Akan Melemah Tahun Ini : Jawaban Untuk Faisal Basri

19 Januari 2014   05:05 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:41 1900 19 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Rupiah Masih Akan Melemah Tahun Ini : Jawaban Untuk Faisal Basri
13901023801281114584

[caption id="attachment_316816" align="aligncenter" width="610" caption="Admin/Ilustrasi/KOMPAS(PRIYOMBODO)"][/caption]

Sebagai bagian dari anak bangsa tentu akan bangga apabila nilai mata uang Rupiah kuat. Sementara berbagai faktor memberikan indikasi akan semakin melemahnya Rupiah di tahun politik ini. Tulisan ini adalah jawaban pesan inbox dari saudaraku Faisal Basri, dan jelas bertolak belakang  (anti thesis) dengan analisa Faisal Basri, serta lembaga ekonomi internasional lainnya, namun lebih masuk akal disertai penjelasan ilmiah yang komprehensif.

Kita secara nyata melihat hingga akhir tahun 2013 nilai tukar Rupiah terbukti masih melemah, tren ini masih akan berlanjut kah ?. Prediksi penulis karena faktor ekonomi global  yang  dampaknya masih akan menyelimuti perekonomian dunia, maka selain Rupiah beberapa negara emerging markets, mata uangnya juga akan melemah.

Akar Masalah : Rupiah Melemah?

Secara alami, nilai tukar mata uang dipengaruhi oleh kondisi penawaran-permintaan (supply-demand) pada mata uang tersebut. Jika permintaan meningkat, sementara penawarannya tetap atau menurun, nilai tukar mata uang itu akan naik. Sebaliknya jika penawaran pada  mata uang itu meningkat, sementara permintaannya tetap atau menurun, maka nilai tukar mata uang itu akan melemah. Sehingga peristiwa tahun 2013 misalnya, merupakan yang meningkat terhadap rupiah sementara permintaannya menurun.

Paling tidak  ada 3 (tiga) faktor yang akan mempengaruhi. Pertama, keluarnya sebagian besar investasi portofolio asing dari Indonesia. Keluarnya investasi portofolio asing ini menurunkan nilai tukar Rupiah karena dalam proses ini investor asing menukar Rupiah dengan mata uang utama dunia, seperti Dolar AS untuk diputar dan di investasikan di negara lain. Hal ini berarti akan terjadi peningkatan penawaran atas mata uang Rupiah. Peristiwa tersebut akan simetris  dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang akan cenderung turun sejalan dengan kecenderungan penurunan dari Rupiah. Ini merupakan masalah klasik tentang mobilitas kapital internasional, mobilitas kapital yang tinggi tentu akan menyebabkan naik-turunnya sebuah mata uang.

Hal tersebut dikarenakan adanya kebijakan The Fed (bank sentral Amerika Serikat) dalam rangka mengurangi Quantitative Easing(QE). Rencana ini akan terus berlangsung sepanjang tahun fiskal 2014 dalam rangka menjalankan program ekonomi Obama dan penyelamatan ekonomi AS.  Arti dari QE ini adalah program Bank sentral AS adalah kecenderungan  akan terus mencetak uang dolar AS dalam rangka membeli obligasi atau aset-aset keuangan lainnya dari bank dan lembaga keuangan di AS. Program ini bertujuan menyuntikkan uang ke intermediaries financial (Bank) di AS dalam rangka pemulihan ekonomi AS yang terpapar krisis setidaknya  sejak 5 (lima) tahun silam.

Harapan  investor portofolio yang mengambil uangnya dari negara emerging markets seperti Indonesia karena peluang investasi portofolio di AS memberikan hasil (yields) yang lebih menguntungkan dibandingkan Indonesia dan negara sejenis. Karena memang yield obligasi pemerintah AS (government bond) tinggi dan telah menjadi benchmark bagi para investor tersebut.

Kedua, adalah faktor yang menyebabkan tingginya penawaran dan  rendahnya permintaan atas Rupiah, adalah neraca perdagangan Indonesia yang defisit, ekspor lebih kecil daripada impor. Defisit neraca perdagangan Indonesia selama 2014 diperkirakan penulis akan tetap besar pada sektor non migas, sedangkan sektor migas dan komoditas unggulan seperti CPO misalnya tetap memberikan nilai surplus.

Mengapa terjadi demikian ?, karena pengusaha kita telah membuat kontrak yang besar di tahun 2014 ini terhadap impor raw material (khususnya terhadap China) yang akan digunakan guna kebutuhan di dalam negeri. Akar masalah inilah yang menjadikan Rupiah lemah, karena highly dependent on import, seharusnya merubah kultur menjadi bangsa unggul, bangsa swasembada di segala bidang. Dengan kekayaan alam dan potensi SDM seyogyanya kita mampu.

Atas dasar faktor kedua itu sehingga impor tersebut yang menggunakan mata uang utama dunia (misalnya dollar) akan menaikkan penawaran atas mata uang negara importir, karena dalam impor, biasanya terjadi pertukaran mata uang negara importir dengan mata uang negara asal. Karena selama 2013, impor Indonesia lebih besar daripada ekspornya, maka situasi ini telah melemahkan nilai tukar Rupiah. Tahun ini karena pengaruh perlemahan tahun lalu (2013) apabila tren Rupiah perlahan-lahan melemah akibat pengaruh ekonomi global, yang akan terkena dampaknya adalah harga komoditas impor, baik ybahan baku serta barang modal.

Harga komoditi impor dipatok dengan mata uang negara asal, umumnya Dolar, sehingga  jika nilai mata uang negara tujuan melemah, maka harga komoditi impor otomatis naik. Contohnya sederhana nya, apabila nilai tukar Rupiah jatuh sebesar 10% dari 1 Dollar AS = 12.000 Rupiah menjadi 1 Dollar AS = 13.200 Rupiah, maka harga sebuah komoditi impor pun berbanding lurus atau  naik sebesar 10%. Komoditi yang harganya Rp 1 juta akan naik Rp100 ribu menjadi Rp1,10 juta.

Melemahnya Rupiah tidak hanya berdampak pada kenaikan harga komoditas impor saja, namun juga dari utang luar negeri, karena utang luar negeri jelas-jelas ditetapkan dengan mata uang asing dan masih ada yang tidak diasuransikan (lindung nilai).  Apabila nilai tukar Rupiah berbanding lurus dengan  Dollar AS yang melemah sebesar 10%, maka nilai Rupiah dari utang yang ditetapkan dalam Dollar AS itu juga akan naik sebesar 10%.

Faktor ketiga, adalah faktor kultur bangsa kita yang bersifat konsumtif dan boros serta public policy terkait hutang. Karena pemerintah akan kesulitan berhutang didalam negeri, maka kekurangannya akan dilakukan dengan berhutang ke luar negeri. Kebijakan pemerintah yang berlandaskan pencitraan neoliberal akan tetap tidak konsisten. Bila dahulu BBM diturunkan, maka kemudian dinaikkan, apabila hutang dalam negeri sudah jenuh maka Pemerintah akan menelepon Sri Mulyani (baca Bank Dunia), meminta tambahan hutang luar negeri. Akibatnya karena hutang harus dibayar dengan mata uang dollar, nilai tukar Rupiah dipastikan melemah.

Atas dasar penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa jatuhnya nilai tukar Rupiah ditahun 2014 ini, disebabkan oleh setidaknya tiga faktor,  kesatu : keluarnya sebagian besar investasi portofolio akibat rencana pengurangan QE oleh the Fed tahun 2014 ini , dan kedua adalah neraca  perdagangan negara kita yang defisit. Ketiga faktor kebijakan pemerintah dan ekonomi biaya tinggi seperti maraknya korupsi, bencana alam seperti banjir dan sejenisnya menyebabkan inflasi dan ekonomi biaya tinggi.

Belum lagi adanya anggaran negara APBN dan APBD yang sebagian besar tidak fokus menumbuhkan ekonomi khususnya belanja modalnya, dan tidak banyak menyerap tenaga kerja menjadikan faktor perlemahan ekonomi secara nasional. Kesimpulan sementara : tren perlemahan di tahun 2014 akan berlanjut meng copy paste setidaknya seperti perlemahan tahun 2013 meskipun tidak separah tahun 2013 lalu,  lihat grafik tren perlemahan Rupiah terhadap Dolar AS dibawah ini, sumber : freecurencyrate.

139008318796382512
139008318796382512

VIDEO PILIHAN