Mohon tunggu...
Mochamad Iqbal
Mochamad Iqbal Mohon Tunggu... Guru - Life is Good

disaat ku tak mampu bicara maka tulisan ku akan menjelaskan makna yang tersirat dari maksud dan tujuaan ku, aku hanya seorang ayah yang ingin meninggalkan jejak untuk anak-anak ku, dan aku seorang pendidik yang ingin mengajak kalian untuk menulis dan terus menulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen: Bangsat!?

6 November 2020   15:59 Diperbarui: 6 November 2020   16:14 92 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Bangsat!?
pexels.com

Ini adalah negeri kerajaan bangsat, kami para penduduk bangsat tinggal di negeri yang indah, negeri kami adalah kursi kayu yang lapuk, surga bagi kami para penduduk Bangsat.

Aku tinggal di sela-sela kursi lapuk itu, aku bekerja untuk kemajuan negeri ini, aku melatih para bangsat muda agar dapat memahami cara menghisap darah manusia yang duduk di kursi lapuk ini, begitulah tradisi kami secara turun-temurun, bagi para bangsat menghisap darah manusia adalah cara untuk bertahan hidup dan meneruskan keturunan, semakin banyak darah yang dihisap semakin makmurlah hidupnya.

"Besok lusa kalian akan dikunjungi oleh perwakilan dari kerajaan bangsat," sahut pemimpin kelompok kami, "siapkan semua perangkat kalian," menambahkan informasi untuk kami.

Malam ini aku membuat perangkat untuk ditampilkan kepada perwakilan kerajaan bangsat besok lusa tentang keunggulan kelompok kami.

"Hei, kamu tidak boleh ada di sini sampai larut malam," sahut petugas penjaga kelompok. Aku diusir karena mereka takut dengan propaganda manusia yang terjadi saat ini, aku pun kembali ke sarang dengan perasaan kecewa dan berharap esok masih ada waktu untuk melanjutkannya.

Pagi ini masih gelap kulihat dari celah-celah kayu nampak manusia di rumah ini belum beraktivitas sama sekali, aku sudah berangkat menuju lokasi tempatku bekerja. aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku namun terlambat karena bereda kabat perwakilan raja bangsat hadir hari ini dan pagi ini.

"Saudara bangsat silakan Anda peragakan teknik menghisap darah," sahut pemimpin kelompok. Aku hanya bisa pasrah mendengar ucapannya.

"Baik terima kasih ketua," sahutku, dan aku pun mulai memperagakannya dan ternyata seperti dugaanku, alat ini tidak berfungsi seperti seharusnya, alat ini gagal dan banyak sekali mata yang menatapku dengan tatapan yang tidak nyaman.

Aku sangat kecewa, aku sangat sedih, aku marah.

Batinku berteriak "Baaaannngggggsssssaaaattttt".

-TAMAT-

M.I.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN