I Nyoman  Tika
I Nyoman Tika Dosen

menulis sebagai pelayanan. Jurusan Kimia Undiksha, www.biokimiaedu.com, email: nyomanntika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Bhinneka Tunggal Ika dan Entropi Kebangsaan

9 Juni 2018   16:01 Diperbarui: 9 Juni 2018   16:23 380 4 0

Bulan Mei dan juni tahu 2018 ini, berderet hari raya besar keagamaan terjadi, seperti Bulan  Suci Ramadhan  dan  Hari raya  Idul Fitri  bagi umat Muslim, Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi umat Hindu, Waishak bagi umat Buddha. 

Kemeriahan menyambut hari raya tersebut amat terasa dimana-mana . Dalam bingkai itu kita menyaksikan bahwa keberagaman menjadi identitas di Indonesia yang sungguh sangat menarik. Benar  adanya, apa yang ditunjukkan  dalam sesanti Bhinneka Tugal Ika, yang  juga dibreak down dari karya besar Pujangga Indonesia, Empu Tantular dalam kekawin Sutasoma. Berbeda-beda namun tetap satu jua.

Empu Tantular, dengan karya Sutasoma-nya itu, membersitkan sebuah pesan indah, bahwa  kemampuan  negara /kerajaan melakukan gerakan "sinkritisme budaya'  dan  adaptasi aneka ragam kepercayaan sangat berhasil, sehingga  konflik atas nama kepercayaan relatif tak muncul. Siapakah yang hebat saat itu? Itulah pertanyaan sederhana bisa dimunculkan. 

Jawabnnya adalah pemimpin yang ada kala itu, yang mampu  membangun sebuah kultur politik pemersatu sehingga masyarakatnya " rahayu, rahajeng  dan jagatdhita. " Itu semua diungkapkan dalam bentuk narasi indah dengan sebuah dalil mistis yaitu  tan hana dharma manggruwe, yang intinya kebenaran 'tak ada duanya" Walaupun berbeda-beda  tetapi  tetap satu jua, tak ada kebenaran yang dua.  

Nilai yang hendak diungkapkan berasal dari sari pati alam yang diformulasikan dalam bentuk persenyaawan  alam, yang membuat getarannya terus mengalir  sebagai  sebuah sungai kejernihan pikiran dari taman indah peradaban. Sebuah aliran air kebajikan sebagai cerminan dan ajakan moralitas negara pada rakyatnya. Memberikan pemikiran rasionalitas dalam setiap nafas kekuasaan negara. 

Lalu, jiwa kebangsaan hendak diguyur kepasrahan atas nama bakti sebagai abdi negara atas dasar rasiolitas bahwa hidup membutuhkan saling ketergantungan.

Oleh karena itu, rasionalitas bukan  hanya bergerak  tataran rasa, namun rasio untuk selalu bernalar bahwa hidup manusia harus didekati dengan nalar sehat. Akibatnya manusia yang disebut Homo sapien, mahluk  yang bijaksana sangat mengena ditataran ini. Artinya, individu yang  selalu menggunakan akalnya dalam bertindak. 

Atas dasar rasionalitas itulah, kita ingin mencermati bahwa  narasi Bhinneka Tunggal Ika  merupakan realitas bangsa Indonesia, yang berada dalam keragaman, yang dinamis untuk mewujudkan sebuah larutan yang homogen dalam rasa kebangsaan Indonesia. Layaknya larutan  gula dalam segelas teh,  maka  disisi manapun diambil pada bagian larutan teh itu,  akan terasa sama manisnya. Mau dibagian atas, bagian tengah maupun pada bagian bawah akan sama juga manisnya.

Begitu juga jika dimanapun  diuji  tentang kebangsaan baik di Aceh,di Bali  maupun  di Papua dan tempat lainnya di Inonesia, rasa keindonesiannya akan sama denyutnya. Artinya, tempat, adat, agama, suku, ras,   tak mempengaruhi rasa kebangsaan itu.  Itulah barangkali Indonesia dalam formulasi  Bhinneka Tugal Ika, sebuah nilai luhur yang terus menerus harus dihayati  dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai penerus dan pendukung bangsa ini. 

Dalam meneruskan realitas kebangsaan yang bernafaskan Bhinneka Tunggal Ika ini, memang membutuhkan energi  yang sesungguhnya tidak besar, bila energi yang ada di dalam semuanya  sudah tinggi, artinya dorongan dalam bentuk kesadaran muncul dari  dalam diri (internally driven itu)  sudah ada di dalam hati sanubari, dan  secara konsisten, diteruskan dalam bentuk keteladanan, dan kesepahaman dari semua elemen-elemen bangsa ini, maka akan terbentuk  persenyawaan (se- nyawa-an= satu nyawa ) kebangsaan yang padu,  menjadi suatu kenyataan empiris.

 Dalam posisi kepaduan itu, memijam konsepsi  Rudolf Clausius pada tahun 1865, tentang entropi. Entropi adalah salah satu besaran termodinamika yang mengukur energi dalam sistem per satuan temperatur yang tak dapat digunakan untuk melakukan usaha. 

Entropi dari sebuah sistem tertutup selalu naik dan pada kondisi transfer panas, energi panas berpindah dari komponen yang bersuhu lebih tinggi ke komponen yang bersuhu lebih rendah, dalam bahasa sederhananya, transfer panas atau energi  ke lingkungan  menyebabkan derajat ketidak teraturan meningkat.

Oleh karena itu,  lingkungan  masyarakat  dalam berbangsa saat ini bila transfer suhu politik ke lingkungannya meningkat, maka entropi masyarakat akan  meningkat pula.  Entropi  warga negara bisa menurun manakala pemerintah mampu menyerap panas dan energi yang muncul dari masyarakat. 

Panas yang muncul bisa jadi karena ketidakstabilan harga kebutuhan pokok, hukum yang tebang pilih, pelayanan kepada publik berjalan lambat, penggunan pajak yang tak transparan, dan lain--lain. Energi kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat  meningkatkan entropi masyarakat.

Oleh karena itu, pemerintah dalam  analogi proses termodinamika, dapat bercirikan pada dua proses, yaitu proses eksotermik, dan endotermik.  Pr eses eksotermik, artinya negara dan pemerintahan yang kuat dan mengeluarkan energi perlawanan yang keras pada oposisi dan para pengkritiknya , dan abai pada  kesejahteraan rakyat,  maka entropi bangsa itu akan meningkat. 

Derajat ketidak teraturan sistem lingkungan berbangsa semakin tinggi, maka reaksi spontan akan terjadi dengan mudah, masyarakat dengan tekanan yang tinggi  dan kehidupan yang sulit, mudah menimbulkan gesekan dan amuk massa yang mengerikan. 

Namun sebaliknya, bila sistem pemerintahan menggunakan proses endotermik, yakni  antaman dan masukan yang dialami oleh pemerintah dari manapun asalnya, pemerintah menyerap aspirasi, dan selalu arif dan tetap bekerja dengan tenang yang penting kesejahteraan masyarakat meningkat,  maka entropi lingkungan akan menurun. Oleh sebab itu, pengampu kebijakan seyogyanya menganut  proses endotermik yang dominan, sehingga derajat ketidakteraturan masyarakat dapat terkendali.

Pun demikian, ketika keanekaragaman secara sistemik memiliki kemungkinan  entropi yang terus meningkat secara dinamis. Oleh karena itu  diperlukan pengendalian  maka bagaimanapun  caranya agar entropi negara meningkat namun bisa menghasilkan kemajuan. Pemerintahan selalu menjaga kesetimbangan entropi, pergesekan terjadi bisa dipahami sebagai sebuah bentuk perwujudan perubahan kearah lebih baik.

Pada titik inilah, keanekaragaman itu perlu ada, karena saling mengisi.  Semakin kita heterogen maka semakin entropi kita meningkat, maka spontanitas terkendali  akan terjadi, proses dinamis itulah yang membuat kehidupan terus berlangsung. Inilah konsep Bhinneka Tunggal Ika, nampak sejalan dengan termodinamika. Keanekaragaman memang menjadi sifat alamiah

Oleh karena itu, beragam suku, bahasa, dan agama, kepercayaa, adat istiadat  semua itu menjadi senyawa kebangsaan adil dan beradab melalui proses yang dinamis, dan sistematis dengan melibatkan katalis. Model katalis ini diperankan oleh  kecakapan pemimpinnya,   mulai dari presiden, gubernur dan bupati sampai tingkat yang paling bawah di tingkat kepala keluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2