Mohon tunggu...
Intan Maharani
Intan Maharani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Jurusan Pariwisata Universitas Pancasila

suka kulineran

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Trip to Jogja

18 September 2022   20:24 Diperbarui: 18 September 2022   20:52 772
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Untuk harga tiket masuk berbeda pada hari-hari dan waktu tertentu. Sesampainya disana kami langsung memesan beberapa makanan. Menurut saya untuk makanannya cukup enak dan terjangkau. Setelah dari Heha sky view kami langsung balik ke hotel.

Malamnya kami lanjut ke Malioboro, menikmati suasana malam yang ramai sambil menyusuri jalan Malioboro dengan menaiki becak. Kami pun minta di antarkan ke Teras Malioboro yang baru saja jadi. Malioboro sekarang sudah berbeda, yang dimana para pedagang kaki lima Malioboro yang dulunya berjualan di trotoar sekarang mereka sudah pindah ke tempat baru. Mereka pindah ke lokasi yang disebut sebagai Teras Malioboro.

Teras Malioboro adalah bangunan baru yang didirikan di bekas lahan bioskop Indra dan bekas Kantor Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Teras Malioboro menjadi lokasi pusat belanja barang-barang khas kota Jogja dan beragam jenis, kerajinan tangan, batik, kaos oblong khas Jogja, oleh-oleh, hingga kuliner.

Teras malioboro terbagi menjadi dua yaitu Teras Malioboro 1 yang terletak di jalan Margo Mulyo, persis di selatan jalan di Maliboro. Teras Malioboro 1 ini berada di barat jalan berhadap-hadapan dengan pasar Beringharjo. Teras Malioboro 1 terdiri dari 3 lantai dengan konsep indoor bertemakan industrial modern yang dilengkapi dengan fasilitas lift dan eskalator.

Dokpri
Dokpri

Sedangkan, Teras 2 yang terletak di sebelah selatan hotel Inna Malioboro. Konsep dari Teras Malioboro 2 ini lebih ke outdoor. Menurut saya, Teras Malioboro 2 ini lebih ramai pengunjung yang datang untuk membeli oleh-oleh dan kulineran. Disana kami juga membeli beberapa oleh-oleh.

Dokpri
Dokpri

Walaupun tidak ada pedang kaki lima, jalan Malioboro sekarang masih tetap seperti yang dulu-dulu. Di kiri kanan jalan masih ada bangunan zaman dulu yang bisa disinggahi. Masih ada jam antik berdiri di tengah jalan, masih ada Gedung Agung atau Istana Presiden. Masih ada benteng Vredeburg dan Pasar Beringharjo, serta masih ada andong (dokar) dan becak.

Setelah puas berkeliling Malioboro tidak berasa waktu sudah menunjukan pukul 11.00 malam kami pun kembali ke hotel. Keesokan harinya, tujuan selanjutnya yang kami kunjungi yaitu Hutan Pinus Tengger, kami berangkat sekitar pukul 09.00 pagi, perjalanan dari hotel menuju kesana sekitar 1 jam. Untuk harga tiket masuk dikenai Rp.3.000 perorang. 

Begitu memasuki kawasan Hutan Pinus Tengger kami di sambut dengan rindangnya pohon pinus serta semilir angin yang membuat suasana menjadi adem dan sejuk. Sambil menikmati pemandangan alam kami berfoto-foto di spot foto yang instagramable. Tak terasa waktu semakin siang, kami memutuskan mencari tempat makan yang tidak jauh dari Hutan Pinus Tengger. Setelah makan siang, kami langsung balik ke hotel.

Malamnya kami ke alun-alun selatan atau alun-alun kidul (alkid), yang menarik dari alun-alun selatan ini adalah adanya pohon beringin kembar yang mitosnya bahwa siapa saja yang berhasil berjalan diantara dua beringin kembar dengan mata tertutup maka keinginnya akan terkabul. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun