Mohon tunggu...
Inspirasiana
Inspirasiana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Kompasianer Peduli Edukasi.

Kami mendukung taman baca di Soa NTT dan Boyolali. KRewards sepenuhnya untuk dukung cita-cita literasi. Untuk donasi naskah, buku, dan dana silakan hubungi: donasibukuina@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Melewati Deru Prahara (I)

6 Oktober 2022   06:00 Diperbarui: 9 Oktober 2022   06:42 289 54 21
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Melewati deru prahara | sumber foto: pxhere

Foto mereka, George dan Febi, masih berdiri dengan manis di atas meja. Keduanya tertawa bahagia di bawah pohon cemara di halaman kampus Febi.

Di bawah foto itu, di dalam sebuah bingkai berwarna keemasan yang manis, tertera sebaris kalimat yang mereka ukir dengan tinta emas. Bunyinya: George dan Febi, pasangan abadi yang punya endless love.

Febi tersenyum getir. Dipandanginya sekali lagi tubuh cowok jangkung berkulit putih yang merangkulnya dengan mesra dalam foto itu.

Ditatapnya mata biru yang selalu bersinar ceria, sepasang telaga bening yang pernah membuatnya begitu nyaman berenang-renang di sana.

Ditatapnya rambut ikal berwarna keemasan yang selalu berkilauan ditimpa cahaya matahari. Ditatapnya hidung mancung yang sangat disukainya, senyum tulus yang mampu menggetarkan senar-senar paling halus dan tersembunyi jauh di dasar hatinya.

Ketulusan senyum itu serasa melambungkannya jauh ke sebuah benua tak bertuan yang bermandikan cahaya surgawi, ketika cowok itu membisikkan sebaris kalimat di telinganya: “kebahagiaan yang terbesar bagiku adalah saat-saat di mana aku merasa dapat membahagiakan kamu, Febi.”

Tidak ada rayuan atau kata-kata muluk berisikan sejuta janji pada awal musim bunga mereka. Tidak ada kalimat-kalimat usang yang selalu disitir anak-anak muda yang sedang dimabuk asmara.

Baca juga: Angelia

Ya! George tidak pernah berkata: I love you, Febi; atau: You’re everything to me; atau: I can not live without you, Febi.

Tetapi, apakah kata-kata seperti itu lebih berarti dari apa yang diberikan George selama ini? Tentu saja tidak!

Baca juga: [RTC] Rahasia Ayah

Kalimat-kalimat klise itu, siapa pun dapat menirukan dan mengucapkannya dengan amat mudah. Tetapi yang setiap saat siap membuat Febi bahagia, yang setiap saat siap melindunginya, menghiburnya jika ia berduka, memperhatikan setiap keperluannya sampai hal-hal yang sekecil-kecilnya, yang bersedia mendengarkan mimpi-mimpi indahnya dengan setia?

Ah, barangkali cuma ada satu orang di dunia ini. Dan Febi tahu benar, orang itu adalah George!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan