Mohon tunggu...
Inspirasiana
Inspirasiana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Kompasianer Peduli Literasi dan Edukasi

Bagikan tulisan hak cipta kami dalam bentuk artikel Kompasiana. Kami ingin menerbitkan bunga rampai karya dan mendukung taman baca di penjuru tanah air. KRewards sepenuhnya untuk dukung cita-cita literasi. * IG: inspirasianakita * FB: inspirasiana.kita * Twitter: @InspirasianaKi1 * inspirasianakita@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berkebunlah Seolah-olah Anda Akan Hidup Selamanya

24 Juli 2021   07:11 Diperbarui: 24 Juli 2021   12:04 163 17 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berkebunlah Seolah-olah Anda Akan Hidup Selamanya
Gambar: Pixabay.com 

Di negeri agraris pertanian memainkan peranan penting dalam menyokong perekonomian bangsa. 

Begitu juga di Indonesia misalnya, sektor pertanian dan/atau perkebunan memiliki fungsi sentral karena bersentuhan langsung dengan hajat hidup banyak orang.

Di Indonesia, unit kegiatan pertanian masih terkonsentrasi di wilayah pedesaan. Wilayah pedesaan seantero negeri umumnya masih hijau dan asri oleh tanaman pertanian. Baik itu tanaman padi, palawija dan hortikultura.

Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini masyarakat perkotaan juga sudah mulai berkecimpung dengan aktivitas pertanian. Seakan tak mau kalah dengan petani di pedesaan, mereka mulai menerapkan konsep urban farming (pertanian urban) dengan memanfaatkan lahan kecil di tengah permukiman perkotaan.

Adapun jenis tanaman yang dibudayakan seturut konsep urban ini adalah sayur kol, tomat, cabe, bawang, labu dan lain sebagainya. Hasil daripada pertanian urban ini, yang notabene berskala kecil, biasanya untuk dikonsumsi sendiri dan tidak untuk dijual.

Istilah emak-emak kompleknya: "daripada ribet beli ke pasar, mending nanem sendiri, bun".

Bisa juga karena alasan lingkungan; "biar pekarangan rumah sejuk dan hijau oleh tanaman".

Pada konteks masyarakat urban, aktivitas berkebun dan/atau bercocok tanam tidak bisa dilakukan oleh semua orang dengan berbagai macam alasan. Semisal, karena tak punya lahan yang cukup, takut kotor, jijik, dan sebagainya.

Satu sisi, ada yang punya lahan, tapi tak punya waktu untuk bertani. Ihwal selain menuntut aktivitas fisik, bertani juga membutuhkan pengetahuan yang cukup (teori).

Ya, semisal menyangkut prototipe menanam, menyeleksi jenis tumbuhan yang akan ditanam, memilih pupuk yang cocok untuk pertumbuhan vegetasi tanaman dan seterusnya. dan seterusnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN