Mohon tunggu...
Inspirasiana
Inspirasiana Mohon Tunggu... Kompasianer Peduli Literasi dan Edukasi

Bagikan tulisan hak cipta kami dalam bentuk artikel Kompasiana. Kami ingin menerbitkan bunga rampai karya dan mendukung taman baca di penjuru tanah air. KRewards sepenuhnya untuk dukung cita-cita literasi. * IG: inspirasianakita * FB: inspirasiana.kita * Twitter: @InspirasianaKi1 * inspirasianakita@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Alih-alih Plastik, Yuk Kembali Gunakan Daun Pisang sebagai Pembungkus Makanan!

15 April 2021   11:14 Diperbarui: 15 April 2021   11:25 346 23 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Alih-alih Plastik, Yuk Kembali Gunakan Daun Pisang sebagai Pembungkus Makanan!
Ilustrasi nagasari, kue basah tradisional Indonesia. (SHUTTERSTOCK/AMALLIA EKA)

Kehidupan modern rupanya memiliki dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satunya adalah pemakaian plastik dan styrofoam sebagai pembungkus makanan "modern".

Plastik pada awalnya diciptakan untuk mencegah perusakan hutan akibat industri kertas. Sayangnya justru kemudian kita kecanduan menggunakan plastik dan turunannya, termasuk styrofoam.

Kita melupakan bahwa sebelum plastik dan styrofoam ada, manusia sudah menggunakan bungkus makanan dari bahan alami.


Salah satu pembungkus makanan alami adalah daun pisang. Waktu kecil mungkin kita sangat akrab dengan daun pisang sebagai pembungkus aneka kudapan lezat. Sayangnya, saat ini kita lebih akrab dengan plastik dan styrofoam. 

Padahal, ragam kuliner Nusantara telah lama menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan. Ada aneka jenis teknik pembungkusan makanan dengan daun pisang dari bebagai daerah. Antara lain: pincuk, sudi, takir, sumpil, samir, pinjung, dan pasung. 

demibumi.id
demibumi.id

Apa saja keuntungan kembali memakai daun pisang untuk bungkus makanan? Ada tiga:

Pertama, kita terhindar dari paparan zat berbahaya dalam plastik

Para peneliti mengatakan bahwa plastik bukanlah bahan yang sepenuhnya stabil. Dikutip dari theguardian, Dr Leo Trasande mengatakan bahwa ketika terkena panas - misalnya, di microwave dan mesin pencuci piring - polietilen dan polipropilen dalam plastik dapat terurai.

Plastik yang terpapar panas akan melepaskan bahan kimia yang tidak diketahui ke dalam makanan dan minuman. Makanan berminyak juga dianggap menarik beberapa bahan kimia plastik.

Ahli lain, Dr Hauser mengatakan, "Meski tidak menggunakan microwave, bahan kimia masih bisa masuk ke makanan yang disimpan dalam wadah atau kantong plastik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN