Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Penumpang "Bule" di Mata PT KAI dan (Dulu) Garuda

6 Desember 2018   17:14 Diperbarui: 7 Desember 2018   06:47 227 2 2
Penumpang "Bule" di Mata PT KAI dan (Dulu) Garuda
Barang penumpang KA di kabin (Sumber: flickr.com)

Setiap kali naik kereta api (KA) sejak 'reformasi' bahkan bisa disebut 'revolusi' manajemen, terutama pelayanan, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) benar-benar sebagai penumpang tidak sekedar 'barang' karena gerbong yang bersih, pendingin ruangan yang dingin, dan palayanan yang prima.

Kondisi perkeretaapian nasional sejak dipegang oleh Ignasius Jonan sebagai direktur utama (2009-2014) benar-benar berubah bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya

Penumpang berjejalan. Ada yang tidur di lantai dan di bawah kursi beralaskan koran bekas. Bahkan ada yang 'menyulap' WC jadi tempat duduk dengan menutup WC dengan kertas dan tikar. Ini menyiksa penumpang yang ingin buang hajat. Itu sebabnya jangan penumpang KA ketika itu minum dan makan-makan. "Ya, bagaimana lagi mau kencing saja harus di sambungan gerbong atau pas kereta berhenti di stasiun," kata seorang penumpang di tahun 2011 dalam perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta

Suasana hiruk-pikuk di gerbong diramaikan oleh pedagang asongan, bahkan juga copet yang menyaru. Segala macam mereka jajakan, mulai dari minuman, makanan, buah-buahan, mainan, dll. Tidak jarang ada pedagang asongan yang setengah memaksa penumpang membeli barang dagangan mereka.

Suasana di sebuah gerbong di 'zaman tak elok' di tahun 2010 (Sumber: bayugmurti.wordpress.com)
Suasana di sebuah gerbong di 'zaman tak elok' di tahun 2010 (Sumber: bayugmurti.wordpress.com)
Keamanan yang dijaga oleh Polsuska sama sekali tidak memberikan perlindungan kepada penumpang. Pedagang asongan dan copet leluasa di semua gerbong. Sekarang keamanan perjalanan KA benar-benar memuaskan karena 'dipegang' oleh yang berkompeten.

Maka, kenyamanan yang ada sekarang benar-benar memuaskan. Jangankan di gerbong di peron stasiun pun tidak ada lagi pedagang yang menjajakan minuman, makanan dll. Peron stasiun bersih tidak ada lagi pedagang. Ruang tunggu bersih dengan keramik putih. Lampu terang benderang.

Satu hal yang paling 'menyakitkan' dahulu adalah tidak ada pemberitahuan melalui pengeras suara di setiap gerbong terutama tentang nama stasiun yang akan jadi tempat pemberhentian. "Ya, kalau baru pertama kali naik kereta bingunglah," kata seorang mahasiswa asal Sumut di Yogya. Maka, yang dilakukan penumpang adalah melihat papan nama stasiun dan bertanya kepada penumpang di sebelahnya atau pedagang asongan.

Cerita-cerita lama itu sirna sudah. Informasi tentang perjalanan KA secara rutin disampaikan melalui pengeras suara di setiap gerbong.

Tapi, di balik itu semua ada yang sangat menyedihkan bagi saya sebagai penumpang 'melayu'. Ketika kereta hendak berhenti di stasiun tujuan ada informasi yang menjelaskan tentang nama stasiun berikut yang jadi tujuan antara perjalanan kereta.

Dalam rangkaian informasi itu ada pernyataan: " .... Periksa dan cek kembali barang bawaan Anda jangan sampai tertinggal atau tertukar ...."

Ya, ini memang peringatan yang sangat baik Tapi, pernyataan itu tidak ada dalam informasi dengan Bahasa Inggris: " .... Please, prepare your belongings ...."

Dua pernyataan yang sangat berbeda seakan-akan menggambarkan perbedaan perilaku antara bangsa 'melayu' dalam hal ini warga Indonesia dengan penumpang warga asing.

Apakah, penumpang warga asing memang tidak akan pernah mengalami kehilangan barang di kereta karena tertinggal atau tertukar? Ya, kita berharap PT KAI bisa memberikan data agar pernyataan itu tidak berupa diskriminasi.

Penumpang kapal terbang masukkan barang ke kabin (Sumber: travel.tribunnews.com)
Penumpang kapal terbang masukkan barang ke kabin (Sumber: travel.tribunnews.com)
Begitu juga dengan Garuda Indonesia di tahun 1980-an -1990-an ada video berisi narasi dan gambar tentang cara mengambil barang di kabin di atas tempat duduk penumpang. Video dalam Bahasa Indonesia ada penjelasan agar hati-hati membuka tutup kabin dan mengambil barang karena bisa barang terjatuh dan tentu saja menimpa kepala penumpang.

Tapi, informasi dalam Bahasa Inggris tidak ada gambar penumpang membuka tutup kabin. Apakah penumpang pribumi segitu bodohnya jika dibandingkan dengan penumpang 'bule', misalnya. 

Jangan-jangan PT KAI dan (dulu) Garuda memakai pola pikir supremacism yaitu ideologi yang menempatkan kelas orang-orang tertentu, dalam hal ini penumpang 'bule',  yang lebih unggul dari orang lain.

Perlakuan PT KAI dan Garuda itu (dulu) benar-benar menyakitkan bagi saya sebagai pribumi. Saya tidak bisa menyimpulkan apakah hal itu sebagai bentuk diskriminasi (ras)? *