Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

AIDS di Kabupaten Batang, Deteksi Dini Adalah Penanggulangan di Hilir

19 Juli 2018   05:38 Diperbarui: 19 Juli 2018   09:03 611 0 0
AIDS di Kabupaten Batang, Deteksi Dini Adalah Penanggulangan di Hilir
Ilustrasi (Sumber: newsfirst.lk)

"Semakin banyak ditemukan dalam kondisi HIV berarti sebuah keberhasilan secara program dalam hal deteksi secara dini, dan ada kemungkinan bisa disembuhkan tentunya dengan pendampingan untuk mendapatkan obat Antiretroviral (ARV) guna menekan pertumbuhan virus didalam tubuh ODHA sehingga masih bisa beraktivitas secara normal dan tetap sehat." Ini pernyataan Mudhofir, Sekretaris KPA Kabupaten Batang, Jawa Tengah dalam berita KPA Nyatakan Kasus HIV/AIDS di Batang Tersebar di Seluruh Kecamatan (jateng.tribunnews.com,16/1-2018),

Jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Kabupaten Batang dari tahun 2007 sampai Juni 2018 dilaporkan 995 yang terdiri atas790 HIV dan 205 AIDS dengan 156 kematian.

Ada beberapa hal yang layak ditanggapi dari pernyataan Mudhofir ini, yaitu:

Pertama, menemukan warga yang tertular HIV secara dini artinya baru pada tahap infeksi HIV bukanlah keberhasilan karena warga tsb. sudah tertular HIV. Keberhasilan dalam program penanggulangan HIV/AIDS adalah menurunkan, sekali lagi hanya bisa menurunkan, insiden infeksi HIV baru pada warga terutama pada laki-laki dewasa.

Kedua, jika hanya melalukan deteksi dini itu artinya membiarkan warga melakukan perilaku seksual yang berisiko tertular HIV. Warga yang tertular HIV tapi tidak terdeteksi jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Hal ini terjadi karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan warga yang tertular HIV. Deteksi dini adalah langkah di hilir (Baca juga: Tes HIV Adalah Penanggulangan di Hilir sebagai Pembiaran Penduduk Tertular HIV).

Dok Pribadi
Dok Pribadi
Ketiga, disebutkan oleh Mudhofir  'ada kemungkinan bisa disembuhkan'. Ini menyesatkan karena sampai sekarang belum ada obat yang bisa mematikan HIV di dalam tubuh. Sedangkan AIDS bukan penyakit sehingga tidak ada obatnya. AIDS adalah kondisi seseorang yang tertular HIV setelah 5-15 tahun kemudian yang ditandai dengan penyakit-penyakit yang disebut infeksi oportinistik, seperti diare, TBC, dll. yang sulit disembuhkan.

Seperti disebutkan obat antiretroviral (ARV) hanya untuk menekan laju penggandaan atau replikasi HIV di dalam darah. Soalnya, HIV menggandakan diri di sel-sel darah putih yang dijadikan sebagai 'pabrik'. Sel-sel darah putih yang dijadikan HIV sebagai 'pabrik' rusak. Sel darah putih di dalam tubuh berfungsi sebagai sistem kekebalan. Ketika sel darah putih banyak yang rusak, maka sistem kekebalan tubuh pun rendah sehingga mudah kena penyakit. Inilah yang disebut masa AIDS.

Salam satu pintu masuk HIV/AIDS ke Kab Batang adalah melalui perilaku seksual laki-laki dewasa melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti di dalam dan di luar nikah atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK).

Mungkin Mudhofir dan Pemkab Batang akan mengatakan: Tidak ada pelacuran di wilayah Kab Batang!

Secara de jure memang benar karena sejak reformasi tidak ada lagi lokalisasi pelacuran yang dijalankan dengan regulasi sebagai tempat rehabilitasi dan resosialisasi PSK.

Tapi, secara de facto apakah Mudhofir dan Pemkab Batang bisa menjamin bahwa di wilayah Kab Batang tidak ada transaksi seks secara terselubung? Apakah ada jaminan tidak ada laki-laki dewasa warga Kab Barang yang melakukan perilaku seksual berisiko di luar wilayah Kab Batang?

Transaksi seks dalam berbagai bentuk dengan beragam modus terjadi di sembarang tempat dan sembarang waktu. Maka, biar pun di Kab Batang tidak ada lokalisasi pelacuran itu tidaklah jaminan di Kab Batang tidak ada praktek pelacuran yang melibat PSK langsung dan PSK tidak langsung.

Disebutkan pula: Adapun jika lebih banyak ditemukan kasus dengan status AIDS maka menjadi kegagalan program KPA maupun Pemkab karena fase terparah ODHA merupakan fase AIDS.

Menemukan satu kasus HIV/AIDS pun adalah kegagalan dalam menanggulangi HIV/AIDS. Menemukan banyak kasus HIV secara dini jelas merupakan kegagalan dalam mencegah insiden infeksi HIV baru. Peraturan daerah (Perda) tentang penanggulangan HIV/AIDS sudah diterbitkan oleh Pembab Batang, tapi perda ini hanya bergerak di hilir (Baca juga: Perda AIDS Kab Batang, Jateng, Menanggulangi HIV/AIDS di Hilir).

Dalam berita tidak dijelaskan faktor risiko atau cara penularan HIV dan langkah-langkah yang ditempuh untuk menurukan insiden infeksi HIV baru.

Tanpa program yang riil dalam menurunkan insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa, melalui hubungan seksual dengan PSK, maka selama itu pula insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi.

Warga yang tertular HIV, terutama laki-laki dewasa, tapi tidak terdeteksi jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Kondisi ini bagaikan 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. *

*Jakal Km 5.5, Yogyakarta ....