Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

HIV/AIDS di Lebak, Banten, Banyak Terdeteksi pada Keluarga

17 Februari 2012   12:49 Diperbarui: 29 Juni 2018   04:59 373 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
HIV/AIDS di Lebak, Banten, Banyak Terdeteksi pada Keluarga
Iustrasi (Sumber: defendernetwork.com)

"Kami minta warga mewaspadai penyebaran HIV/AIDS karena bisa menimbulkan kematian." Ini pernyataan Ketua Badan Narkotika Kabupaten Lebak, Amir Hamzah (Kasus HIV/AIDS Bertambah di Lebak, republika.co.id, 15/2-2012).

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Kab Lebak, Prov Banten, sudah mencapai 81 dengan 23 kematian. Penduduk yang terdeteksi HIV/AIDS tersebar di beberapa kecamatan.

Yang perlu diperhatian adalah kematian pada Odha (Orang dengan HIV/AIDS) bukan karena HIV atau AIDS, tapi karena penyakit-penyakit lain yang muncul pada masa AIDS (setelah tertular HIV antara 5-15 tahun), disebut infeksi oportunistik, seperti diare, ruam, sariawan, TBC, dll.

Maka, pernyataan Amir itu tidak akurat dan bisa menimbulkan pamahaman yang keliru terhadap HIV/AIDS. Selain itu Amir juga tidak menjelaskan bagaimana cara mewaspadai penyebaran HIV.

Data di Klinik VCT ‘Seroja’, RSUD dr Adjidarmo, Rangkasbitung menunjukkan sebagian besar kasus HIV/AIDS di Lebak ada pada keluarga, yaitu ayah, ibu dan anak-anak. Mereka terdeteksi karena salah satu anggota keluarga sakit dan dirawat di rumah sakit dengan penyakit yang terakit HIV/AIDS. Misalnya, ayah dirawat dengan penyakit TBC. Dokter menganjurkan tes HIV. Ternyata hasilnya positif. Kemudian istri dan anak-anak pun dianjurkan tes.

Suami-suami yang menularkan HIV kepada istri di keluarga umumnya bekerja di kota-kota besar di Jawa Barat dan Jakarta. Seperti yang disampaikan seorang perempuan pada “Orientasi Penulisan Berita HIV/AIDS untuk Wartawan Lebak” (Ruang Asda IV Pemkab Lebak, Rangkasbitung, 28/12-2011). Perempuan itu menjalani tes HIV ketika suaminya dirawat di rumah sakit. Hasilya positif. Sedangkan anaknya negatif.

Kalau saja Amir memaknai fakta ini tentulah ada langkah yang konkret yang bisa dilakukan agar mata rantai penyebaran HIV melalui suami-suami itu bisa diputus.

Data juga menunjukkan ada suami yang tidak mau menjalani tes HIV ketika istrinya terdeteksi HIV. Kondisi ini tentulah menjadi bumerang karena suami tadi akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual di dalam dan di luar nikah.

Menurut Amir: “ .... penanggulangan HIV/AIDS melibatkan semua komponan masyarakat dan pemerintah, termasuk tokoh agama dan pers untuk mencegah penyebarannya melalui narkoba dan seks bebas.”

Yang diperlukan adalah informasi yang akurat tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV. Informasi yang akurat tentang cara pencegahan HIV akan menjadi ‘vaksin’ bagi seseorang agar tidak tertular HIV.

Masih menurut Amir: “ .... pihaknya meminta warga Kabupaten Lebak agar mengantisipasi penularan penyakit itu.” Lagi-lagi Amir tidak menyebutkan cara antisipasi agar tidak tertular HIV.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x