Mohon tunggu...
Indri Aulia Noviani
Indri Aulia Noviani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa Psikologi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Kebiasaan Self Diagnose dan Pencegahannya

16 September 2022   21:03 Diperbarui: 16 September 2022   21:11 131 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Di era yang serba digital ini, dimana semua informasi bisa diakses dengan mudah oleh semua orang membuat tak jarang orang-orang lebih memilih mencari tahu sebuah penyakit melalui internet ketimbang datang langsung ke rumah sakit yang membutuhkan biaya besar dan untuk beberapa orang mungkin memilih tidak datang ke rumah sakit karena takut didiagnosis penyakit yang buruk.

"kaki aku goyang-goyang mulu nih, kayaknya anxiety-ku kambuh."

"Maaf ya, aku pengen sendiri dulu, aku lagi depresi."

Ini adalah contoh dari self diagnose terhadap kesehatan mental. Padahal anxiety tidak bisa didiagnosis hanya karena kakinya bergoyang tanpa henti. Perasaan gelisah berlebih, cemas berlebih, gemetaran, mual, dan jantung berdetak dengan cepat juga merupakan gejala dari munculnya anxiety. Kesehatan mental sendiri itu apa ya?

Kesehatan mental dapat diartikan sebagai keadaan dimana seorang individu memiliki mental yang baik tanpa adanya disorder atau gangguan, berperilaku sesuai norma, dapat melakukan aktivitas secara normal dan memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan (Maskanah, 2022). 

Mencari tahu sebuah penyakit dengan hanya mengetahui gejalanya saja biasa kita sebut dengan self diagnose. Apa sih itu self diagnose?

Self diagnose merupakan upaya menyatakan diri sendiri memiliki penyakit fisik ataupun mental dengan hanya mencari informasi dari gejala-gejala yang dialami dari Internet maupun dari berbagai sumber lainnya. 

Self diagnose memberikan dampak yang buruk terhadap kesehatan mental. Menurut tiga dari empat responden, gangguan kesehatan mental yang diakibatkan oleh self diagnose dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dampak yang dirasakan responden, antara lain: kecemasan berlebih, takut terhadap hal yang belum tentu terjadi, tertekan dan stress (Maskanah, 2022). 

Kecemasan, rasa takut, tertekan, dan stress akan sangat menggangu aktivitas kita. Salah satu dampak yang dapat dirasakan sebagai mahasiswa adalah menurunnya kemampuan akademik karena terlalu terbebani dengan pikiran-pikiran negatif akibat self diagnose. Self diagnose sangat penting untuk kita sadari untuk menhindarkan kita dari berbagai dampak yang merugikan diri kita.

Dari sini kita tahu bahwa self diagnose dapat mengganggu aktivitas sehari-hari kita. Setelah mengetahui hal tersebut, bagaimana sih cara kita untuk mengatasi self diagnose sendiri?

Kita bisa mulai dengan mendatangi dokter atau psikolog untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dari penyakit fisik dan mental yang kita baca di internet. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan