Mohon tunggu...
Indra Rahadian
Indra Rahadian Mohon Tunggu... Pemerhati sosial dari sudut pandang kedai kopi

Buruh dikantor pelayaran terbaik di Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ospek, Pembinaan Karakter yang Semakin Bias

17 September 2020   07:00 Diperbarui: 17 September 2020   07:05 289 67 12 Mohon Tunggu...

"Tahun ini walaupun ospek sudah online, tetap saja makan korban".

Kampus sebagai lingkungan pendidikan, mempunyai peran penting dalam pembinaan karakter siswa menjadi seorang mahasiswa, menjaga nilai-nilai yang sudah berakar pada suatu pedoman penting bernama Tri dharma perguruan tinggi.

Dalam upaya pencapaiannya, berbagai program dan kegiatan mahasiswa diciptakan untuk mendukung adaptasi dan pembinaan karakter mahasiswa tersebut.

Salah satu rangkaian dalam proses adaptasi siswa menjadi mahasiswa adalah kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek).

Kegiatan ini pertama kali dipraktekan pada masa penjajahan Belanda disekolah kedokteran Stovia, berlanjut pada masa penjajahan Jepang, dan muncul istilah perpeloncoan karena mahasiswa baru digunduli seperti serdadu Jepang, plonco sendiri artinya anak gundul.

Pada era selanjutnya, kegiatan ospek tersebut bukan dilaksanakan untuk tujuan iseng belaka, namun terdapat nilai-nilai pembinaan karakter dan sarana pengenalan kampus, dan ternyata ada beberapa manfaat ospek yang seharusnya didapatkan mahasiswa, bukan malah trauma dan ketegangan semata, hingga muncul korban perasaan bahkan korban jiwa.

Afektif (pola sikap)

Proses adaptasi mahasiswa dengan lingkungan dan masyarakat kampus, sangat penting pada periode awal pembelajaran, yang memungkinkan mahasiswa dapat nyaman beraktivitas dilingkungan baru.

Sikap yang sesuai dengan karakter bangsa, perlu diperkuat dengan metode-metode kegiatan yang dilaksanakan secara kolektif, hal ini untuk menjamin mahasiswa saling mengenal teman seangkatannya dengan baik, dan menghormati angkatan diatasnya tanpa rasa segan.

Mental yang kuat, semestinya didapat dari proses kegiatan ospek tersebut, karena mahasiswa baru dihadapkan pada kegiatan yang menguras waktu, pikiran dan tenaga diantara berbagai sifat dan karakter masyarakat kampus yang beragam, hal ini pun mendorong sikap saling menghargai dan toleransi.

Kognitif (pola pikir)

Mahasiswa sebagai agent of change, mungkin terdengar naif tapi itulah fungsi mereka, karena kegiatan ospek menanamkan pola pikir yang kritis dan ilmiah, dapat memacu intelegensi dengan pemahaman dan metode yang memadai.

Pola pikir yang terbuka, memungkinkan mahasiswa dapat berinteraksi dengan konstruktif, baik dalam aktivitas didalam kampus maupun membina kerjasama dengan mahasiswa kampus lainnya.

Disamping berguna dalam menunjang prestasi akademik, pola pikir kritis dan ilmiah memudahkan mahasiswa menilai berbagai dinamika yang terjadi dimasyarakat luas.

Psikomotorik (pola tindak)

Kemampuan untuk bekerjasama dalam kelompok, menjadi bekal berharga mahasiswa untuk hidup dalam lingkungan masyarakat, tentunya kontribusi yang baik dalam lingkungan kampus dapat memberi rasa percaya diri dan kenyamanan.

Berbagai games dalam ospek, menjamin mahasiswa bertindak dengan taktis dan strategis, bukan hanya soal mencapai tujuan, namun proses untuk mencapai tujuan tersebut adalah yang terpenting.

Bertanggungjawab atas tindakan yang salah dengan melakukan tindakan yang benar, secara sederhana dapat diartikan proses evaluasi, dimana mahasiswa dapat bertindak dengan terukur dan bijak seiring berkembangnya pemahaman.

Seharusnya ospek menularkan antusiasme dan prestasi baik, dari angkatan sebelumnya menjadi lebih baik keangkatan selanjutnya.

Namun degradasi nilai pada ospek sudah sangat mengakar, minimnya pengembangan metode dan kreativitas, berimbas pada praktek penyimpangan, semisal tindakan buruk senior kepada junior yang menjadi sorotan memalukan.

Seiring jaman, nilai-nilai dan pembinaan karakter kian luntur, setelah banyak kampus mengadaptasi sistem ospek ini tanpa menyerap sistem nilainya, akibatnya adalah kegiatan ospek dilaksanakan sebagai rutinitas tahunan untuk menanamkan rasa hormat terhadap senior belaka, tanpa metode yang terukur dan mengedepankan kekerasan verbal serta kegiatan fisik.

Rentetan kasus kekerasan dan kematian dimasa sebelum pandemi, atas pelaksanaan ospek ditiap tahunnya menjadi semacam tinta hitam, yang melunturkan makna dan tujuan ospek itu sendiri, kesan yang timbul saat ini adalah ospek sebagai sesuatu yang konyol, bar-bar dan tidak relevan.

Pentas seni, olahraga dan kuliah umum, merupakan rangkaian kegiatan ospek yang mulai dipakai untuk mengganti istilah ospek itu sendiri, tentu maknanya akan berubah, saat mahasiswa baru tidak mempunyai minat terhadap salah satu dari itu, maka ospek hanya akan menciptakan mahasiswa yang berorientasi sebagai penonton.

Ospek online dilihat sebagai bentuk adaptasi pada era pandemi, adalah semangat mahasiswa untuk berinovasi terhadap situasi terkini dan patut mendapat apresiasi, terlepas dari adanya ketidaksesuaian yang diinginkan, semoga itu adalah pembelajaran.

Metode lawas dengan cara yang sudah tidak relevan harus segera dihentikan, aksi yang berlabel norak dan tidak efektif seharusnya sudah ditinggalkan, berganti metode pembinaan yang kekinian dan efektif sesuai dengan kondisi dan situasi yang berkembang.

Stop kekerasan, bikin juniormu menjadi kerasan.

Masyarakat wajib memberikan pandangan, namun yang lebih berhak menilai dan menghakimi relevansi ospek disaat ini, apapun bentuknya adalah mahasiswa itu sendiri, karena sejatinya ospek untuk mahasiswa dari mahasiswa.

Jangan menjadikan budaya kekerasan dan penindasan berlindung dalam istilah disiplin, karena sikap disiplin saat ini tidak timbul dari ketakutan, namun kebutuhan dan kesadaran.

VIDEO PILIHAN