Mohon tunggu...
Imron Fhatoni
Imron Fhatoni Mohon Tunggu... Pelajar

imronfhatoni.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pelajaran Hidup dalam Buku Marketing

12 Oktober 2019   20:34 Diperbarui: 12 Oktober 2019   20:39 0 1 1 Mohon Tunggu...
Pelajaran Hidup dalam Buku Marketing
Buku Citizen 4.0

Pernahkah Anda mendengar istilah Ikigai? Istilah ini berasal dari kepulauan Okinawa, Jepang. Sejak beberapa waktu yang lalu, para peneliti sudah menemukan fakta bahwa masyarakat Okinawa cenderung berumur panjang dan bahagia. Mereka bekerja dengan riang gembira. Banyak diantara mereka yang masih aktif beraktivitas hingga berumur senja. Di sana, bisa ditemukan seorang nelayan berusia 100 tahun. 

Masyarakat Okinawa tidak mengenal istilah pensiun. Bagi mereka, kegiatan sehari-hari termasuk mencari nafkah akan terus dijalankan selama kondisi fisik masih memungkinkan. Menariknya, bukan karena mereka membutuhkan nafkah untuk hidup, tapi memang dorongan dari diri mereka sendiri.

Setelah ditelusuri secara mendalam, masyarakat Okinawa ternyata berpegang teguh pada filosofi Ikigai yang merupakan alasan mereka untuk hidup dan beraktivitas. Ikigai menjadi bahan bakar yang menggerakkan orang Okinawa untuk mencapai bahagia. Mereka tahu apa tujuan hidup, tahu bagaimana memanfaatkannya, dan tahu bagaimana menggunakannya untuk membahagiakan orang lain.

Ikigai terdiri dari empat faktor utama. Pertama, passion for knowledge, kebutuhan akan pengetahuan. Orang Okinawa akan bertanya pada dirinya tentang keahlian apa yang mereka miliki. Hal ini bisa berupa pengalaman ataupun keahlian praktis. 

Kedua, passion for business, yakni hasrat untuk selalu berusaha. Kita semua tahu, semakin baik dan unik keahlian yang kita miliki, semakin besar pula kesempatan untuk mendapatkan penghasilan. Inilah yang dinamakan profesi. Ketiga, passion for service. Adanya dorongan untuk melayani orang lain. Kita dibayar karena melakukan sesuatu. Kita bekerja demi melayani kebutuhan orang lain.

Keempat, passion for people. Point ini berhubungan dengan pekerjaan apa yang kita cintai. Bentuknya bisa berupa apa saja, bisa hobi atau kegiatan apapun yang menyenangkan hati. Selama bertahun-tahun orang Okinawa menerapkan filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari. Mereka seolah menjalani hidup dengan satu keteraturan pola yang lalu membuat mereka berumur panjang dan bahagia.

Filosofi Ikigai mengingatkan saya pada banyak kearifan di tanah air yang menyebut, perlakukan lah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kita ingin bahagia, maka jangan segan untuk membahagiakan orang lain. Demikian pula sebaliknya. Jadikanlah orang lain dan lingkungan sekitar sebagai cermin atas diri kita sendiri. 

Di mata saya, orang Okinawa adalah mereka yang sudah tuntas dengan dirinya. Mereka tak lagi sibuk memikirkan dirinya sendiri, melainkan juga orang lain dan lingkungan sekitar. Mereka harus terus melakukan sesuatu demi menghadirkan sejumput kebahagiaan di wajah orang lain. Mereka harus terus beraktivitas demi membawa keberkahan bagi lingkungan sekitar. 

Kisah tentang orang Okinawa saya temukan saat membaca buku Citizen 4.0 yang ditulis Hermawan Kartajaya. Ketimbang buku marketing, buku ini lebih cocok disebut buku refleksi spiritual. Dalam banyak bagian, saya tak saja menemukan pelajaran tentang marketing tetapi juga pelajaran hidup dan kearifan. 

Yang menarik adalah, buku ini tidak hanya mengupas fenomena marketing yang selalu bergeser, tapi juga mengisahkan perjalanan karir Hermawan Kartajaya hingga mencapai level puncak seperti sekarang ini. Mark Plus yang kini menjadi lembaga konsultan pemasaran paling laris di negeri ini tidak dibangun dengan mudah. Ada pilihan berat yang terpaksa Ia lalui saat itu.

Hermawan Kartajaya yang terlahir dengan nama Tan Tjioe Hak dari keluarga keturunan Tionghoa, harus berani meninggalkan posisinya sebagai direktur di satu perusahaan HM Sampoerna demi membangun Mark Plus. Saat itu, langkah yang dijalani Hermawan bukanlah langkah yang berani diikuti semua orang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN