Esti Setyowati
Esti Setyowati Mahasiswa

Librocubicularist. Ingin terus belajar.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Menemani Bapak

16 Mei 2018   20:11 Diperbarui: 16 Mei 2018   20:32 668 1 0

"Dhuk, kopinya ayo segera bawa keluar" lamunanku buyar saat kalimat itu masuk ke telingaku. Buru buru kulempar serbet di tangan lalu sedikit merapikan rambut. Kupantaskan dulu senyumku sebelum hilang dari pandangan Ibu, menuju ruang tamu yang meriah.

Ada canggung yang tak habis kutelan selama kakiku melangkah. Gincuku di bibir kusentuh sentuh sendiri dengan gesekan gigiku yang berangsur ikut gemetar dengan tubuhku. Kebaya ini tak cukup longgar, aku hampir mati dibuatnya.

Hal yang membuatku semakin gugup ialah keheningan yang tiba tiba menyergap saat aku mulai membungkuk menyilahkan tamu untuk menjamah hidangan. Entah, aku tak begitu memperhatikan dengan jelas beberapa bisik bisik yang tiba tiba lewat. Namun sayup sayup kudengar mereka memuji sanggulku, sanggul yang Ibu pilihkan pagi ini. Juga sedikit kalimat 'Oalah, ayu tenan jebule*1' yang tiba tiba saja membuatku sedikit tidak nyaman.

Sebelum aku tergoyahkan oleh sebuah tatapan yang daritadi tak lepas mengawasiku, aku buru buru kembali ke bilik dapur.

Ibu menyambutku dengan mata berbinar binar.

"Gimana? Ganteng kan anaknya Bulik Ganis? Ibuk memang tak salah pilihkan buat kamu. Kamu suka kan?" tanya beliau sembari mengusap usap bahu kananku. Aku menatap Ibu, ini bukan yang pertama kalinya beliau melakukan hal yang sama.

"Nirin nggak tau Buk, udah Ibuk aja yang keluar. Nirin malu" akhirnya kuletakkan nampan dan aku kembali mengurung diri di kamar.

Ibu tak bisa mencegahku jika sudah seperti itu, lambat namun pasti beliau kembali pada riuh suasana ruang tamu. Menemui yang katanya calon saudara saudaraku, entah jadi atau tidak.

Aku kembali menuju tempat pengasingan, menatap cermin, mencopot sanggul dan mulai mencabut bulu mata palsu. Habis sudah tissuku untuk membersihkan riasan. Kebaya ketat ini kutanggalkan. Aku kembali menangis.

Kembali pada rutinitas saat Ibu memutuskan untuk mencarikanku laki laki untuk kunikahi.

Aku menangis, sejadi jadinya. Lama sekali.

Hingga aku tertidur, hingga mobil mobil mewah itu keluar dari halaman.

-

Ketika pagi buta, Ibu sudah tidak ada di rumah.

Saat itulah bagiku untuk kemudian diam diam mengendap endap menuju deretan mawar, memetik bunganya entah tiga atau empat untuk kurontokkan bagian kelopaknya. Tak lupa kasturi gugenggam erat, aku berlari meninggalkan rumah. Tanpa sempat mengenakan alas kaki, aku siap menumpahkan banyak cerita pada seseorang.

Aku selalu menyambangi tempat ini, setelah subuh, semenjak Bapak ditanam di sini.

Kubersihkan daun daun kering dari atas pusara. Menciumi nisannya yang terukir rapi sebuah nama disana, nama yang menjadi nama belakangku saat ini.

Bapak adalah satu satunya manusia yang akan membelaku, apapun yang terjadi. Juga saat aku memutuskan untuk keluar negeri memenuhi mimpiku yang sedang mekar mekarnya, Bapak adalah orang pertama yang mengiyakan. Meskipun aku tau bahwa Bapak dan Ibu berdebat setiap malam setelah itu.

Kutaburkan bunga bunga mawar yang kubawa. Aku tahu setelah ini Ibu akan mengomel, menyalahkanku karena bunga bunga indahnya menghilang satu demi satu.   Tak lupa kutuangkan air, merata. Kemudian aku berdoa setelahnya.

"Daridulu hanya Bapak yang tahu apa yang Nirin mau. Aku sayang Bapak. Bapak pasti juga tahu kan apa yang Nirin pikirkan saat ini?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5