Mohon tunggu...
Imi Suryaputera™
Imi Suryaputera™ Mohon Tunggu...

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit)\r\n

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Tak Akan Pernah Lagi Saya Pilih Golkar

6 April 2014   18:02 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:00 47 0 0 Mohon Tunggu...

Tetangga kami terkejut dan mukanya langsung pias setelah mengetahui dan melihat kertas tempelan bergambar yang merekat di pintu rumahnya. Kemungkinan ada orang yang menempelkannya tengah malam atau dini hari saat ia dan keluarganya sedang nyenyak tidur.
Gambar apakah gerangan yang membuat tetangga kami pias ?
Kami yang memang tetangga dekat bersebelahan rumah dengan mereka, melihat kertas tempelan bergambar kepala banteng yang merupakan lambang dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI), tapi belum pakai Perjuangan.

Tetangga kami itu pun dengan segera melepas kertas tempelan tersebut dari pintu rumahnya.
Anehnya kertas tempelan bergambar logo PDI itu tak ada menempel di pintu rumah kami. Aku bertanya kepada ibu kenapa ?
"Itu karena mereka tahu ayahmu seorang PNS yang sudah dipastikan dan "wajib" memilih Golkar," jawab ibu.
Aku hanya diam mendengar jawaban ibu, padahal aku tak mengerti, namun aku segan melanjutkan pertanyaan susulan.

Dua hari kemudian ketika aku bangun pagi, membuka pintu untuk pergi mandi ke sumur, mataku menangkap sesuatu di pintu rumah. Disitu menempel kertas putih bergambar pohon beringin bertuliskan Golongan Karya berikut singkatannya, Golkar.
Aku pun berbalik masuk memberitahukan ke ibu yang sedang menanak nasi di dapur. Jawaban ibu kali ini, "biarkan saja !"

Kembali aku cuma diam, segan mengajukan pertanyaan susulan, padahal aku tak mengerti.
Aku teringat kepada tetangga kami, aku berlari keluar rumah, menyebelah ke rumah tetangga tersebut, kutengok pintu rumahnya; sama, disitu juga menempel kertas yang sama dengan di pintu rumah kami.
Kuberitahukan kepada tetangga ada kertas tempelan lagi di pintu rumahnya. Ia pun memeriksa ke pintu, namun tak ada reaksi apapun di wajahnya.
"Kenapa tidak dilepas, Om ?" tanyaku polos.
"Biar saja, mana saya berani melepasnya," jawabnya.
"Kenapa tidak berani, yang kemarin Om berani melepasnya ?" tanyaku lagi.
"Kelak kalau sudah besar kamu akan mengerti," sahutnya sambil berlalu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan aku yang tak mengerti.

Itu cerita yang kualami di era tahun 1970-an, orang menyebutnya era Orde Baru yang mana kala itu cuma ada 2 Partai Politik dan 1 Golongan; Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berlogo Ka'bah dengan Nomor Urut 1 dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) berlogo kepala banteng bernomor urut 3, serta Golongan Karya (Golkar) bergambar pohon beringin dengan Nomor Urut 2. Dan seingat saya tak ada orang yang menyebut Golkar ini dengan sebutan partai.

Pada Pemilu tahun 1987 saya sudah boleh ikut memberikan suara. Rentang waktu beberapa tahun sejak cerita di atas, membuat saya agak sedikit mengerti dan tahu apa itu Pemilu dan Parpol peserta Pemilu.
Oleh ayah saya yang PNS, beberapa kali saya dipesani agar memilih Golkar di Pemilu yang untuk pertama kali saya ikuti. Pesan ayah tersebut cuma saya dengarkan saja, saya sudah punya pilihan yang mantap dan sesuai dengan hati nurani.

Pemilu yang saya tahu melalui TVRI dan RRI (cuma ini yang ada kala itu), bersemboyan LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia). Sehingga saya pikir apapun pilihan saya tak akan ada orang yang tahu.
Tapi pikiran saya itu keliru. Ayah marah besar setelah usai pemeriksaan dan penghitungan surat suara di TPS.
"Sungguh memalukan ! Ternyata kamu itu pembangkang. Aku tak pernah mengajari kamu untuk membangkang selama ini. Di TPS sini semua orang memberikan hak pilihnya ke Golkar, cuma kamu sendiri yang bukan. Supaya kamu mengerti dan tahu, keluarga kita makan dan hidup karena Golkar," ujar ayah nyaris setengah berteriak.
Aku hanya diam menunduk, tak mengerti kenapa pilihanku bisa ketahuan. Dan juga aku tak habis mengerti kenapa mesti Golkar yang memberi makan dan menghidupi keluarga kami, bukankah ayahku itu berkerja sehingga berhak mendapatkan upah, bayaran. gaji, bukan diberi secara cuma-cuma alias gratis.

Sekitar 2 dekade kemudian sejak kemarahan ayah itu, ayah yang sudah pensiun dari PNS berujar, "tak akan pernah lagi aku memilih Golkar."
"Kenapa ?" tanyaku heran.
"Kamu dari dulu sudah tahu jawabnya," sahut ayah.

*Bukan maksud saya melakukan black campaign, ini benar-benar saya alami, dan saya yakin rakyat negeri ini pun banyak yang tahu seperti apa di era Orde Baru.

VIDEO PILIHAN