Mohon tunggu...
Siti Masriyah Ambara
Siti Masriyah Ambara Mohon Tunggu... Pemimpi dengan banyak keterbatasan

Perempuan pekerja lepas yang mencintai Indonesia dengan segala dinamikanya.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Vasektomi, Saat KB Tidak Melulu Jadi Urusan Perempuan

13 Februari 2017   20:21 Diperbarui: 15 Februari 2017   10:30 1938 6 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Vasektomi, Saat KB Tidak Melulu Jadi Urusan Perempuan
Sumber gambar: kapanlagi.com

Sudah tahu kan kalau Anang Hermansyah, anggota DPR plus musisi, berencana akan melakukan vasektomi? Buat saya sih berita itu cukup menggembirakan karena jarang sekali terdengar ada tokoh publik yang menggunakan metode ini untuk ber-KB. Biasanya kan urusan KB itu selalu jadi porsi perempuan. Alat KB yang tersedia pun hampir seluruhnya (kecuali kondom ya) dibuat untuk perempuan. Mulai dari Pil KB, spiral dan suntik. Waktu itu pernah juga ada kondom perempuan yang penggunaannya ampun ribetnya. Saya selalu bertanya kenapa sih kok urusan KB selalu jadi urusan perempuan. Padahal kan hamil itu hasil kerja sama dua pihak. Harusnya laki-laki ikut memikirkan cara mencegah kehamilan. Apalagi kalau yang dah punya anak banyak. Duh, masa sih tega melihat pasangannya hamil terus-terusan. Kalah donk kucing.

Saya menduga banyaknya produk alat kontrasepsi yang memang dirancang khusus untuk perempuan itu karena memang budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan itu masih kuat di negeri ini. Padahal, andai saja para laki-laki itu tahu kalau dampak penggunaan alat kontrasepsi pada perempuan itu banyak loh. Karena hampir seluruhnya itu memang terkait dengan perubahan hormon. Dampak negatif yang sering saya dengar dari teman-teman saya pengguna alat kontrasepsi itu mulai dari siklus menstruasi tidak teratur, berat badan naik (kadang-kadang ada yang drastis), rambut rontok, bahkan ada yang tulangnya keropos loh. Duh, masa sih kaum lelaki alias para suami ini ga kasihan melihat pasangannya harus berjuang dengan aneka persoalan fisik ini. Sudahlah harus mengandung sembilan bulan lamanya. Setelah selesai proses kehamilan masih pula dibebani kewajiban untuk KB yang berdampak pada perubahan fisik mereka. 

Jenis alat KB (alatkb.com)
Jenis alat KB (alatkb.com)
Pernah ada seorang rekan yang sebenarnya sudah lelah ber-KB karena sudah dikaruniai 2 anak. Tapi dia takut untuk menghentikan konsumsi pil KB karena 'takut kebobolan'. Padahal, pil KB yang dia minum tiap hari itu membuat berat badannya melonjak. "Habis gimana lagi, daripada gw hamil lagi, repot ih". Sementara, suaminya pun kerap enggan menggunakan kondom dengan alasan tidak praktis.

Padahal, selain kondom, ada vasektomi yang praktis. Tapi anehnya, tidak banyak laki-laki yang berminat menggunakannya. Ketika saya mencoba mencari tahu alasan ketidakpopuleran metode ini secara umum berkisar pada ketakutan berpengaruh pada gairah seksual. Ouch! Padahal jelas itu mitos. Entah darimana munculnya ketakutan macam ini, karena informasi soal vasektomi ini sebenarnya tersedia lengkap di internet. Tinggal ketik kata kunci dan klik. Voila! segudang artikel terkait vasektomi akan terpampang depan mata. 

Pro Kontra dari Sisi Agama
Meski metode kontrasepsi untuk laki-laki ini sudah mulai dikembangkan di tahun 1971 dan mulai dipopulerkan di Indonesia sejak tahun 1990, namun hingga saat ini memang jumlah penggunanya masih sangat minim yakni hanya 1% dari seluruh pengguna alat kontrasepsi. Padahal, di Amerika Serikat, metode pengendalian kehamilan ini populer loh. Selain murah dan mudah, tidak seperti alat kontrasepsi lain yang harus dibeli terus menerus, vasektomi ini cukup dilakukan satu kali. Total waktu yang dibutuhkan untuk melakukan vasektomi ini hanya sekitar 10-15 menit saja. Karena memang tergolong operasi kecil. Jangan membayangkan tindakan operasi rumit dan berjam-jam. Untuk prosedurnya bisa dibaca lebih lengkap di artikel lain yang tersedia.

Ketidakpopuleran vasektomi ini juga saya duga karena metode ini masih kontroversial dari sisi agama (Islam). Mengingat vasektomi memang dikategorikan sebagai metode kontrasepsi tetap yang sering dinilai sebagai proses memandulkan maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa vasektomi ini haram.

Fatwa yang dikeluarkan tahun 2009 ini diperbarui lagi dalam dalam Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia ke IV Masail Fiqhiyyah Mu’ashirah (Masalah Fikih Kontemporer) pada tahun 2012, diambil fatwa bahwa vasektomi hukumnya asalnya haram, kecuali:

  1.  Untuk tujuan yang tidak menyalahi syari’at, 
  2. Tidak menimbulkan kemandulan permanen, 
  3. Ada jaminan dapat dilakukan rekanalisasi yang dapat mengembalikan fungsi reproduksi seperti semula, 
  4. Tidak menimbulkan bahaya (mudharat) bagi yang bersangkutan, dan/atau 
  5. Tidak dimasukkan ke dalam program dan metode kontrasepsi mantap.

Karena itu Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus berupaya melakukan dialog dengan MUI untuk meninjau ulang fatwa tersebut guna mendorong naiknya tingkat penggunaan vasektomi sebagai metode kontrasepsi untuk laki-laki. Hal ini terkait dengan upaya menekan angka kelahiran di Indonesia yang saat ini berdasarkan data BPS bahwa Indonesia dihuni oleh sekitar 255 juta jiwa. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai negara ke-4 terpadat di dunia. CMIIW.

Vasektomi Bentuk Cinta pada Keluarga
Meski masih pro kontra, namun vasektomi perlu dilihat tidak hanya sebagai metode kontrasepsi semata. Mengingat kehamilan terjadi karena kerja sama dua pihak, laki-laki dan perempuan, ada baiknya laki-laki mulai berkontribusi pada upaya pencegahan kehamilan yang tidak lagi dibebankan pada perempuan. Jika saja laki-laki memahami bahwa menggunakan alat kontrasepsi hormonal itu menimbulkan banyak efek pada perempuan masa sih tega tetap membiarkan istri yang harus tangggung jawab urusan KB.

Mengambil alih urusan pencegahan kehamilan seharusnya juga dilihat sebagai bentuk tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga untuk memberikan nafkah fisik dan batin. Karena agama juga mengajarkan agar umatnya tidak hanya mempunyai banyak keturunan, tetapi juga menekankan agar keturunan tersebut dapat hidup secara berkualitas, baik lahir maupun batinnya. Jadi, urusan KB sekali lagi harusnya bukan cuma urusan perempuan.

Kalau anak sudah 2, bolehlah laki-laki mulai berpikir untuk vasektomi. Jika selama ini, urusan KB masih jadi tanggung jawab istri. Bolehlah memulai diskusi untuk membincang soal vasektomi bersama istri. Diskusi dengan dokter pasti akan membantu untuk mengambil keputusan metode kontrasepsi yang aman dan terbaik. Jika kehamilan adalah hasil kerja berdua, maka seharusnya urusan kontrasepsi juga diputuskan bersama bukan serta merta menjadi tanggung jawab satu pihak. Yang penting, jangan takut kehilangan kejantanan ya. Sudah ada jaminannya secara medis kok.

Sumber: corybernardi.com
Sumber: corybernardi.com

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x