Regional

HMI Pamekasan, Dinamika Wacana dan Hororisme

13 Januari 2018   20:02 Diperbarui: 13 Januari 2018   20:24 753 0 0
HMI Pamekasan, Dinamika Wacana dan Hororisme
Sumber: lintasgayo.co

Untuk memulai tulisan ini, aku ingin bercerita tentang darimana dan mengapa aku memilih berkader di oraganisasi mahasiswa tertua di Indonesia yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ketika itu tahun 2009, aku masih duduk dibangku madrasah tsanawiyah, aku sering diceritai oleh pamanku bahwa besok ketika aku sekolah di perguruan tinggi akan bertemu dengan berbagai organisasi kemahasiswaan yang salah satunya adalah HMI.

(pada waktu itu dia memang tidak menyebutkan apa saja organisasi kemahasiswaan itu, entah apa memang ingin menyembunyikan atau memang hanya ingin mengenalkan aku pada organisasi yang disebutkan, bukan untuk yang lain-lain) dia bercerita dengan segala kemampuannya berfantasi, bahwa di HMI adalah tempatnya para pemikir modern dan kebanyakan para kadernya mempunyai kemampuan berpikir yang luas, kritis, dinamis, dan inovatif.

Aku yang cupu dan tidak mengerti apa-apa hanya bisa mengangguk asal mengangguk dari setiap patah kata yang paman sampaikan, apalagi saat dia bercerita tentang ke-asikannya berdiskusi dengan kawan-kawannya, begitu dia menyebutnya dulu, di warung kopi, katanya tak ada pembicaraan bersama mereka yang tidak berlandasan, semua yang dibicarakan mempunyai isi dan bermakna dalam.

Begitupun dengan setiap patah kata yang disampaikan oleh dia, sebentar -- sebentar mengeluarkan pernyataan tokoh ini dan tokoh itu untuk menguatkan argumennya. Dan tidak jarang dia menyuruh aku untuk membaca agar wawasanku semakin luas dan dinamis, juga dia tidak hanya menyuruh membaca, adakalanya dia mengarahkanku pada buku apa yang harus aku baca, mula-mula dia memukadimahiku agar aku tertarik membaca buku tersebut.

Dengan itu aku menjadi mempunyai spirit untuk belajar dan cepat masuk ke perguruan tinggi untuk segara masuk HMI. Bukan untuk belajar di kampus dengan ruang berbentuk kotak, bangku berbaris bersaf-saf menghadap papan tulis dan lengkap disampingnya meja dosen. Melainkan untuk belajar bersama di HMI.

***

Fantasi yang diceritakan paman pada masa itu ternyata bukan sebuah fantasi seperti di negeri dongen. Tahun 2013 aku menemukan semua cerita itu nyata adanya, bersentuhan secara langsung ketika aku ikut latihan kader I (basic training), latihan yang menggodok dan memutar-mutar pemikiran.

Dengan para narasumber yang hebat dan berkualitas aku menjadi percaya bahwa HMI mencetak kader intelek -- religius. Dan dari Latihan Kader I ini aku bisa memahami mengapa organisasi tersebut harus dibentuk dan untuk apa dibentuk.

Sederhana namun progresif alasan organisasi kemahasiswaan ini dibentuk, untuk menciptakan kader yang peduli terhadap kondisi bangsa dan keadaan umat Islam. Dengan membina insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Jelas progresif, berdasar pada anggota HMI "Mahasiswa" maka HMI berupaya untuk membina dan mengembangkan ide, bakat dan potensi yang mendidik individu-individu, pribadi-pribadi para anggota serta membina untuk mencapai tujuan dengan cara perjuangan yang benar dan efektif. Mengapa harus pribadi kader yang menjadi objek tujuan HMI? 

Karena HMI bukan organisasi massa dan apalagi sebagai organisasi kekuatan politik (praktis), melainkan organisasi kader yang mengedepankan kualitas kader dalam keilmuan bukan kuantitas kader untuk menggiring massa.

Selanjutnya dari tujuan HMI bukan hanya membentuk pribadi kader berkualitas saja, namun fungsi lebih lanjut dari "insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam" adalah bartanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. 

Dimana sinonim dari "masyarakat adil makmur" ialah "masyarkat yang berdasarkan pancasila" secara tersirat dari kelanjutan fungsi insan-cita tersebut gerakan dan pejuangannya dilakukan di bumi Negara Republik Indonesia (A. Dahlan Ranuwiharjo, hlm. 22). 

Hal ini merupakan konfrom dari Mukadimah Angaran Dasar HMI yang bertekad meberikan bakti dharmanya untuk menwujudkan nilai-nilai Keislaman dan pancasila (sebagai bangsa Indonesia) sebagai bentuk mengisi dan memaknai kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Mukaddimah AD HMI dalam Kongres XXIX, hlm. 69).

Organisasi yang memposisikan diri sebagai organisasi kader ini telah membuatku lebih bersemangat untuk belajar dan berjuang. Apalagi dalam latihan kader I dan setelah latihan kader I tersebut banyak tambahan pengetahuan yang tidak aku ketahui sebelumnya. Motivasi dari senior dimana-mana dengan mengangungkan para alumni HMI yang luar biasa, sebut saja Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Jhohan Effendy, dan yang lain-lain.

Sehingga statemen "HMI Menjawab Tantangan Zaman" berkibar dalam alam bawah sadar para kader. Mengapa tidak? Kader HMI memang dipersiapkan untuk bisa berdialog secara aktif dengan lingkungan serta secara positif dan kreatif melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam sikap dan pola pikir yang baru untuk kemudian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat baik sebagai individu (kader HMI) maupun secara kompleks sebagai warga negara Indonesia.

Dengan demikian menampilkan sikap dan pola pikir kader HMI, yang sejak dini telah mengemban nilai-nilai keislaman harus mengejewantahkan nilai-nilai Islam tersebut secara tepat dan relevan, sehingga posisi dan peran kader HMI dari waktu ke waktu senantiasa berada dalam kebulatan eksistensi yang teruji aktualisasinya (M. Saleh Khalid, hlm. 36). 

Tentunya pengejawantahan sikap integratif dengan memposisikan diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bangsa, serta penegasan orientasi kualitatifnya bertitik tolak pada analisis tujuan HMI dikaitkan dengan kecenderungan-kecenderungan dalam kehidupan bangsa.

Dasar berpikir yang demikian akhirnya tiba kepada beberapa kebijaksanaan. Kabijasanaan-kebijaksanaan tersebut adalah: Bahwa hakikat tujuan HMI identik dengan tujuan nasional sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. 

Dalam hal ini, hakikat insan-cita HMI sebagai sasaran pencapaian Tujuan HMI merupakan Kader Bangsa sekaligus kader Pembangunan dalam arti yang sebenarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3