Mohon tunggu...
Imanuel  Tri
Imanuel Tri Mohon Tunggu... Membaca, merenungi, dan menghidupi dalam laku diri

di udara hanya angin yang tak berjejak kata. im.trisuyoto@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Pembelajaran Tatap Muka atau Jalan di Tempat

22 Juni 2021   11:00 Diperbarui: 22 Juni 2021   11:42 36 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pembelajaran Tatap Muka atau Jalan di Tempat
Gbr. Pixabay.com

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menegaskan sekolah sudah harus mulai menyediakan pilihan sekolah tatap muka mulai Juli ini. (NBC Indonesia, Juni 2021). Pada kesempatan lain, salah satu koran memberitakan, sekolah tatap muka harus sudah dilakukan pada Juli mendatang.

Terus Pailul ngajak aku bedhk-bedhkan.
"Kalau, ortu ditanya kira-kira jawabnya bagaimana?"

Aku tidak berani spontan ngejawab. Tetapi dalam hati ada jawaban, pasti sebagian ortu mengizinkan sekolah tatap muka dan sebagian lagi tidak.  
Ternyata Pailul bilang jawabanku itu jauh dari cukup. Ortu yg tidak setuju itu tentu paham betul arti pentingnya sebuah generasi. Generasi yang bahagia dan ndalan nalar itu jauh lebih berharga dari sekadar generasi untung-untungan korban dari sebuah kebijakan menyenangkan.

Sedang sebagian ortu yang setuju sekolah tatap muka tak lebih dari berlandaskan keputusan emosional atas kondisi pribadi yang telah 1,5 tahun tersiksa. Mereka memberikan persetujuan karena sudah bosan diganggu oleh anak, tak mampu mendidik anak, kasihan pada anak di rumah sendiri, merasa terganggu dalam pekerjaan, dan sejenisnya. Mereka tak menilik fenomena virus varian baru yang menggila. Alih alih  menganalisis dengan jernih, mereka justru memperbanyak vitamin hoaks yang tiap hari gentayangan cari mangsa.

"Seandainya, Ki Hajar Dewantara, tokoh sentral itu kita tanya, apa kira-kira jawab Beliau?"

Sebuah pertanyaan menggldhg bagiku. Jelasnya, aku rung gaduk kuping. Paling-paling yang aku hafal cuma, pendidikan itu ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa,tut wuri handayani. Dan itu masih cenderung slogan indah bak menara gading. Belum mangejawantah untuh dalam hidup harian di masyarakat, bahkan di lingkup masyarakat terkecil lembaga pendidikan.

Nah, Pailul justru mbanyol dengan jawaban yang terasa konyol. Dia bilang tak mungkin KHD mengambil risiko buat generasi penerus bangsa. Tak mungkin mewajibkan pembelajaran tatap muka sekalipun terbatas dan penerapan prokes ketat serta beralasan bahwa semua guru sudah terima vaksin.

Faktanya, yang sudah vaksin masih bisa terpapar. Faktanya, sudah dipasang baliho prokes perilaku sosialnya masih sama dengan sebelum pandemi. Bukankah itu rentan dengan munculnya claster baru di sekolah? Jadi, akankan kita korbankan sebagian generasi demi sekadar menjawab kebosanan sebagian orang tua?

KHD, tentu memilih generasi penerus tetap utuh terselamatkan. Bukankah pendidikan itu untuk mencapai hidup sejahtera, waras, bahagia, bermartabat untuk memartabatkan manusia!

"Nah, terus hilangnya bentuk pengalaman belajar anak-anal yang sudah semakin akut, itu gimana?" tiba-tiba aku balik bertanya.

Dasar Pailul. Dia tidak mau terkejut. Dengan sangat tidak mempedulikan ku, dia ngomong demikian. Ya, itu garaplah, Pak Menteri. Pengalaman belajar diciptakan dari dua sisi yakni guru dan orang tua. Kelihatannya, selama ini lebih mendorong guru dengan mengesampingkan edukasi kepada orang tua siswa. Padahal dalam pembelajaran jarak jauh, peran orang tua sesungguhnya sebanding dengan guru. Tetapi, apakah ada atau sudah cukupkah Kementerian memberikan edukasi tentang peran ortu di masa pandemi?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN