Imam Subkhan
Imam Subkhan

Aktif di Perhumas Surakarta, pendiri Akademi Orangtua Indonesia Surakarta, pengelola lembaga pelatihan SDM pendidikan, dan aktif menulis di berbagai media, baik cetak maupun online. Kreativitas dan inovasi dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran yang membawa maslahat. Kritik dan saran silakan ke: imamsubkhan77@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tiga Serangkai, Alberthiene Endah, dan Buku Jokowi Menuju Cahaya

21 Desember 2018   08:21 Diperbarui: 22 Desember 2018   06:10 841 1 1
Tiga Serangkai, Alberthiene Endah, dan Buku Jokowi Menuju Cahaya
Kover Buku Jokowi Menuju Cahaya terbitan Tiga Serangkai Solo.

Baru-baru ini, diluncurkan buku biografi yang mengisahkan kehidupan Ir Joko Widodo, akrab disapa Jokowi, presiden Republik Indonesia ke-7, berjudul Jokowi Menuju Cahaya, karya Alberthiene Endah, dan diterbitkan oleh Tiga Serangkai Solo. Entah ini sudah buku yang ke berapa yang mengisahkan tentang sosok Jokowi yang begitu fenomenal. Saya tertarik untuk ikut serta nimbrung berkomentar atau sekadar berpendapat tentang kemunculan buku ini yang cukup viral di media sosial saat peluncurannya di Jakarta kemarin (13 Desember 2018).

Menurut saya, buku ini terasa luar biasa, karena diterbitkan oleh penerbit kawakan, yang selama ini bergelut dengan buku-buku pelajaran sekolah, yaitu penerbit Tiga Serangkai (TS), yang beralamat di kota kelahiran Jokowi, yakni Surakarta atau Kota Solo.

Sudah diketahui, Tiga Serangkai telah berkiprah di dunia penerbitan dan percetakan buku, selama 60 tahun lebih. Hampir semua sekolah di daerah-daerah di Indonesia sudah terambah buku terbitan TS ini. Bahkan sekarang sudah merambah ke luar negeri. Reputasi TS sebagai lembaga penerbitan buku sudah tak diragukan lagi.

Selama ini, penerbit yang juga menghasilkan buku-buku bergenre umum ini menggunakan jasa penulis-penulis profesional yang handal dan kompeten, serta didukung oleh para editor yang mumpuni dari berbagai lingkup keilmuan. Sehingga dari sisi isi maupun dari tata bahasanya sangat enak dan layak untuk dibaca dan ditelaah.

Alberthiene Endah (AE), adalah salah satu penulis andalan Tiga Serangkai, yang kali ini juga menulis biografi sosok Jokowi. Bahkan ini yang kedua kalinya. Jika sebelumnya menulis Jokowi ketika dari Wali Kota Solo menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan kali ini kembali menulis Jokowi saat sudah 4 tahun memimpin Indonesia. Tidak kurang dari 5 buku biografi yang telah ditulis oleh penulis berkelas internasional ini di Tiga Serangkai.

Sosok AE adalah penulis perempuan yang begitu detail dan mendalam untuk menggali semua informasi dari sosok atau tokoh yang dituliskannya. Bahkan, yang tidak tersampaikan di lisan pun oleh sang tokoh, mampu dibacanya dengan sangat baik. Dari ekspresi wajah, gesture, mimik, gerakan tangan, gerakan tubuh, cara berbicara, cara berjalan, cara bekerja, dan semua aktivitas keseharian sang figur bisa digali, dikembangkan, dinarasikan, dan dituturkan dengan sangat detail, spesifik, mendalam, dan sesuai kenyataannya.

AE selalu bisa mengampil poin-poin penting di setiap denyut dan nafas sang tokoh dalam berkiprah. Dengan bangunan kalimat-kalimat yang indah, terstruktur, mengalir, ringan, dan gaya bertutur namun lugas,  sungguh membuat pikiran dan hati pembaca masuk ke dalam narasi ceritanya.

Tak heran jika AE telah mampu menghasilkan tak kurang dari 50-an buku biografi tokoh-tokoh nasional yang populer di Indonesia, mulai dari pejabat, artis, atlet, pengusaha, politisi, seniman, musisi, hingga tokoh-tokoh yang punya pengaruh di masyarakat. Oleh karena itu, menurut saya, seorang AE sangat tepat dan layak untuk menulis sosok Jokowi yang notabene seorang presiden saat ini yang kali ini juga berikhtiar untuk mencalonkan kembali memimpin negeri.

Penerbit Ikut Bereuforia Politik?

Memang sejak diluncurkannya buku Jokowi ini, ada beberapa pertanyaan kritis yang mengarah kepada penerbit Tiga Serangkai, yaitu mengapa menerbikan buku Jokowi di momentum jelang pemilihan presiden tahun 2019? Apakah TS sedang melakukan politik praktis dan pragmatis dengan ikut-ikutan mendukung salah satu calon atau kandidat presiden? Apakah TS sedang berusaha mendekat dengan elite politik dan elite pemerintahan demi kepentingan bisnis? Apakah TS telah menanggalkan idealisme tentang penulisan dan penerbitan buku-buku berkualitas dengan hanya berorientasi pada penyajian tokoh-tokoh politisi yang fenomenal? Dan pertanyaan yang lebih menukik lagi, apakah TS sedang ingin menceburkan diri ke dalam dunia politik dengan ikut beraliansi pada kubu calon tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar untuk dialamatkan ke TS terkait peluncuran buku Jokowi. Tetapi tidak serta-merta kita bisa berasumsi dan beropini liar seperti itu. Kita harus cerdas dan jeli dalam membaca pergerakan TS selama ini, terutama para penggagas, pendiri, dan pengelola perusahaan penerbitan ini.

Sebagaimana diketahui, Tiga Serangkai didirikan oleh sosok pengusaha muslim taat, yakni almarhum bapak H Abdullah Marzuki dan Ibu Hj Siti Aminah Abdullah. Keduanya juga yang mendirikan pondok pesantren dengan ribuan santri di dalamnya, yaitu Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam. Santri Assalaam tak hanya berasal dari Solo dan sekitarnya, tetapi hampir dari seluruh penjuru tanah air. Alumni Assalaam pun telah banyak yang menjadi tokoh-tokoh nasional dan internasional.

Tak hanya itu, pendiri TS ini pun mendirikan lembaga pendidikan atau sekolah reguler, yaitu Al Firdaus World Class Islamic School, mulai dari jenjang prasekolah hingga sekolah menengah. Bahkan kepedulian mereka terhadap pendidikan Islam pun tak terbatas pada lembaga yang didirikan saja, tetapi juga ikut membantu secara materiil dan mewakafkan tanahnya untuk pembangunan tempat-tempat ibadah, seperti masjid, musala, dan yayasan-yasasan peduli anak yatim.

Semua orang yang kenal dengan mereka serta dari berbagai literasi menceritakan, bahwa kedua sosok ini telah memadukan konsep bisnis dengan profesionalisme, dakwah, dan nilai-nilai spiritualisme. Mereka meyakini, bahwa berbisnis itu utamanya dengan Allah, yakni dengan menjalankan ketaatan yang sebenar-benarnya. Akhiratlah yang utama dan pertama untuk dikejar, maka hal-hal duniawi akan mengikutinya. Hal inilah yang selalu dihunjamkan kepada seluruh tenaga dan karyawan di lingkungan Tiga Serangkai, termasuk para guru dan ustaz-ustazah di lingkungan pondok dan lembaga pendidikan.

Para pendiri dan pengelola Tiga Serangkai tentu menyadari, bahwa berbisnis itu mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, agar bisa menopang biaya operasional dan menyejahterakan para pegawai di dalamnya. Oleh karena itu dibutuhkan strategi pemasaran yang jitu dan kreatif. Bukan sekadar penawaran-penawaran biasa dan konvensional, tetapi butuh terobosan-terobosan baru yang lebih kekinian dan berorientasi pada keinginan dan kebutuhan pasar atau pembaca.

Dunia Bisnis Penerbitan dan Percetakan Buku

Bergerak di bidang penerbitan dan percetakan buku, menurut saya ada tiga hal yang menjadi fokus garapan, agar bukunya bisa diterima baik oleh masyarakat. Pertama, adalah soal konten atau isi. Penerbit dituntut untuk menghasilkan karya-karya buku yang benar-benar mencerahkan, mencerdaskan, dan menginspirasi. Buku-buku yang dihasilkan dari tangan-tangan penulis dan editor yang handal, kompeten, dan tepercaya, yang jauh dari unsur plagiarisme.

Sehingga, karyanya bisa menjadi rujukan, sumber, dan referensi bagi para penuntut ilmu. Dalam hal ini, penerbit harus mencari dan merekrut para penulis, baik pemula yang potensial, maupun yang sudah berpengalaman, asalkan memenuhi kriteria penulis yang ditetapkan. Termasuk yang dilakukan TS adalah membidik para penulis yang telah menghasilkan buku-buku berkategori best seller.

Kedua, soal penampilan, kemasan, atau penampakan dari buku itu sendiri. Di dunia percetakan dikenal istilah tata letak dan desain. Mulai dari halaman kover atau sampul, halaman isi, pewarnaan, kualitas kertas, ilustrasi, perpaduan teks dan gambar, dan unsur-unsur grafis lainnya yang mendukung, agar buku itu terlihat memikat dan menarik untuk dibuka dan dibaca orang. Oleh karena itu, dibutuhkan tenaga-tenaga ilustrator, layouter, dan designer yang inovatif dan kreatif, serta tentunya didukung oleh mesin-mesin cetak yang mutakhir untuk penyelesaian akhirnya.

Dan yang ketiga, soal strategi pemasaran. Inilah tantangan terakhir bagi penerbit, agar bukunya menjadi buku yang paling dicari oleh masyarakat atau pembaca. Sehingga bisa cetak ulang berkali-kali. Sebenarnya, ketika proses pengajuan atau penyusunan penulisan buku, pihak atau bagian pemasaran bisa memesan kepada bagian kreator atau editor untuk membuat buku dengan tema atau judul-judul yang sedang viral atau dibutuhkan di masyarakat saat itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3