Humaniora

LDII: TNI Jangkar Pemersatu Kemajemukan Indonesia

6 September 2017   18:17 Diperbarui: 6 September 2017   18:19 343 0 0
LDII: TNI Jangkar Pemersatu Kemajemukan Indonesia
Silaturahmi Masyarakat dan TNI di Baruga Syekh Yusuf, Markas Kodam XIV Hasanuddin, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (6/9/2017).

MAKASSAR -- Panglima Kodam (Pangdam) XIV Hasanuddin Mayjen TNI Agus Surya Bakti mengungkapkan, saat ini Indonesia sedang menghadapi berbagai ancaman yang tersembunyi. Bentuk ancaman itu diantaranya berupa perang proksi, perang siber, dan perang asimetris. Kesemuanya menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Atas kondisi tersebut, peran strategis ormas, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh wanita, dan mahasiswa terhadap keberlangsungan hidup berbangsa sangat dibutuhkan. "Hari ini saya mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menyikapi situasi bangsa. Saat ini banyak orang yang tidak Indonesia lagi. Ia minum air dan memakan makanan dari tanah Indonesia. Tetapi, malah mencelakakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," kata Mayjen TNI Agus Surya Bakti dalam acara Silaturahmi Masyarakat dan TNI di Baruga Syekh Yusuf, Markas Kodam XIV Hasanuddin, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (6/9/2017).

Hadir dalam pertemuan, Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan Hidayat Nahwi Rasul, Wakil Ketua Suyitno Widodo, dan Ishak Andi Ballado. Kegiatan yang bertajuk "Bersama Menjaga Indonesia" ini juga dihadiri pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), Laskar Merah Putih, Senkom Mitra Polri, Pemuda Panca Marga (PPM), dan Banteng Komando.

Suasana silaturahmi
Suasana silaturahmi
Ancaman perang proksi yang Indonesia hadapi adalah peredaran narkoba, kasus kekerasan, dan munculnya penyebaran paham yang bertentangan dengan norma agama dan nilai luhur bangsa. "Misalnya kekerasan yang ditampilkan di media sosial. Anak-anak kita juga rawan melihat gambar porno di internet," papar Agus.

Lebih jauh, ia mengatakan, apapun pakaian atau atribut yang dipakai, hendaknya jiwa Indonesia tetap bersemayam di dalam hati. "Kita jangan pernah lupa bahwa kita ini orang Indonesia. Saya sendiri adalah orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia. Karena orang Islam yang ada di Indonesia itu banyak," ujar perwira tinggi TNI AD ini.

Menurutnya, diskusi kebangsaan yang menghadirkan komponen masyarakat secara periodik digelar untuk menyamakan visi, pandangan, dan sikap dalam menyikapi problematika kehidupan berbangsa dan bernegara. Antara TNI dan masyarakat hendaknya menjalin kerjasama yang baik. "TNI punya kewajiban menjaga Indonesia secara fisik Sabang sampai Merauke. Jangan sampai sejengkal tanah diambil oleh orang lain. Kedua, TNI menjaga kedaulatan negara dan bangsa, menjaga kedamaian, dan menjaga kebhinekaan," tutur Pangdam berlatar belakang Kopassus ini.

Sementara itu, Ketua LDII Sulawesi Selatan Hidayat Nahwi Rasul mengatakan, TNI menjadi jangkar pemersatu bangsa. "Jika TNI berbicara soal persatuan bersama ormas, maka hal tersebut menjadikan bangsa ini semakin kuat, rukun, dan kompak," ujar Hidayat.

Menurutnya, sinergi antara TNI dinilai perlu terus diperkuat. "Kegiatan seperti ini harus sering dilakukan sebagai sebuah dialektika antara TNI dan rakyat. TNI adalah kekuatan rakyat yang tersolid dan terbaik saat ini," paparnya. (*)