Humaniora Pilihan

Analisa Plus Minus Media Sosial dan Implikasinya

7 Januari 2016   16:24 Diperbarui: 7 Januari 2016   16:33 835 1 0

[caption caption="Ilustrasi media sosial, sumber Kompas.com"][/caption]

DUNIA semakin sempit. Kehadiran teknologi internet memengaruhi cara orang berkomunikasi. Dua pihak yang bertempat di lokasi berbeda, bahkan dapat saling bertukar pesan hanya dalam hitungan detik. Mereka yang menikmati kemudahan akses internet ini disebut generasi internet.

Dalam teori, dikenal beberapa macam generasi. Generasi yang lahir pada 1946-1964 disebut baby boomer. Sedangkan Generasi X lahir pada 1965-1980, Generasi Y lahir pada 1981-1994, Generasi Z lahir pada 1995-2010, dan Generasi Alpha lahir pada rentang 2010-2025. Generasi internet adalah generasi X dan Y. mereka lahir dan dibesarkan pada era digital dengan terpaan aneka gadget seperti komputer, laptop, tablet, maupun ponsel pintar (smartphone),

Lebih jauh, internet, gadget, dan media sosial saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Jika gadget diibaratkan sebaga alat, maka internet digambarkan sebagai bahannya, sedangkan media sosial sebagai produknya.

Seiring perkembangan zaman, varian media sosial semakin beragam, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, Blackberry Messenger, Line, Path, Pinterest, Google+, Tumblr, Linkedin, Myspace, Foursquare, Kakaotalk, dan Flickr. Dari sisi pengguna, dari tahun ke tahun, pengguna media sosial meningkat tajam. Menurut laporan We Are Social, pengguna media sosial aktif kini mencapai 2,2 miliar. Pengguna mobile menyentuh angka 3,7 miliar. Adapun, Facebook masih bertengger pada posisi teratas sebagai media sosial yang paling banyak digunakan dengan kisaran 1,5 miliar pengguna.

Beragamnya media sosial berimplikasi pada perubahan pola tatanan komunikasi penduduk dunia. Komunikasi, saat ini tak lagi dilakukan melalui sambungan telepon umum di pinggir jalan. Komunikasi antar negara dapat dilakukan hanya dengan berdiam diri di dalam rumah. Betapa media sosial menghubungkan satu pihak dengan pihak lainnya di benua berbeda hanya dalam hitungan detik. Bahkan, media sosial telah diaplikasikan dalam berbagai bidang.

  • Media sosial mudahkan penyebaran informasi

Redaktur berita online luar negeri, seperti The New York Times menyisipkan link media sosial ke dalam portal mereka. Tepat di bagian bawah judul berita, redaktur menyertakan link media sosial seperti Facebook, Twitter, maupun WhatsApp untuk memudahkan pembaca menshare berita yang telah mereka baca. Dampaknya, portal berita tersebut akan semakin dikenal khalayak luas. Portal berita online dalam negeri setali tiga uang. Redaksi portal Kompas.com juga melakukan hal serupa.

Karena akan dibaca oleh banyak orang, maka berita yang wartawan produksi haruslah benar kontennya. Jangan menyebar berita palsu atau berita yang menyesatkan. Patuhi Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Jika menulis berita palsu, masyarakat awam akan ikut-ikutan menyebar berita hoax tersebut.

  • Media sosial sebagai makelar penjualan online (Online Shop)

Dahulu, pertemuan antara penjual dan pembeli hanya terbatas dalam lingkup wilayah yang sama. Sekarang di era digital, penjualan barang atau jasa tidak lagi antar wilayah yang sempit. Dengan bantuan internet, penjual dapat menjaring pembeli dari lintar provinsi dan negara.

Dengan perantaraan media online, calon pembeli dapat leluasa melihat dan memilih barang yang akan ia beli. Setelah itu, kedua belah pihak berjanjian untuk saling ketemu untuk melakukan transaksi. Betapa media sosial menjadi perantara jual beli. Secara tidak langsung, media sosial menggerakkan perekonomian Indonesia.

Apalagi, kini sedang marak industri fashion, terutama muslim fashion. Kerudung atau hijab mulai marak dijual melalui online shop. Menurut desainer Jenahara Nasution saat diwawancarai Metro TV, Kamis (7/1/2015) siang, mode hijab modern minimalis akan booming di tahun 2016 ini.

Lebih jauh, memasuki awal 2016 era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah didepan mata. Dengan memanfaatkan media sosial, para wirusahawan muda dapat menjual produk kreatifnya di pasar ASEAN. Ekspansi usaha sangat dimungkinkan dilakukan dengan perantaraan media sosial.

  • Media sosial mudahkan kampanye politik

Dalam Pemilu Presiden Republik Indonesia 2014 yang lalu, media sosial menjadi alat kampanye politik yang ampuh. Ini dibuktikan dengan keberhasilan tim sukses Presiden Joko Widodo menjaring pemilih muda. Dimana rentang usia 30 tahun kebawah, kebanyakan memiliki akun media sosial. Pemilih muda ini lebih leluasa mendapatkan informasi mengenai calon pemimpin melalui media sosial.

Kasus serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam tersebut, Barack Obama meraih suara terbanyak setelah tim suksesnya aktif berkampanye melalui  media sosial.

  • Media sosial sebagai media dakwah

Mulai sering dijumpai di media sosial, status bernada dakwah. Di Facebook misalnya, tulisan dan gambar berupa ajakan mengerjakan kebaikan mulai banyak berseliweran. Dengan kehadiran media sosial, masyarakat akan semakin religius. Kualitas pemahaman ajaran agama semakin meningkat.

Namun, netizen perlu berhati-hati saat menjumpai tulisan semacam ini. Ayat atau hadis palsu bisa saja beredar. Kekeliruan ayat akan menimbulkan misinterpretasi terhadap ajaran agama itu sendiri. Di internet siapa saja bisa menulis. Pihak yang tak berilmu agama pun bisa saja mempublikasikan tulisan berbau agamis. Dengan tujuan tertentu, pihak yang tak bertanggungjawab ini akan mengaburkan ajaran agama yang murni.

Belum lagi, bila menyoal sah keabsahan ilmu agama yang diperoleh. Sebab, syarat sahnya ilmu agama diperoleh dengan metode berguru (mangkul, musnad, dan muttasil).

  • Media sosial membantu gerakan perubahan

Di akun Twitter dikenal istilah trending topic (topik terhangat). Tanda pagar (#) menjadi simbol isu yang ramai netizen perbincangkan. Kasus korupsi petinggi negeri pernah menjadi trending topic Twitter Indonesia. Trending topic di Twitter ini selalu berubah setiap waktu.

Lebih lanjut, belakangan ini, mulai banyak orang yang memanfaatkan media sosial sebagai tempat curahan hati (curhat). Terutama untuk membeberkan layanan publik yang mereka temui.

Sebagai misal, kasus yang menimpa penumpang salah satu maskapai penerbangan swasta yang bernama Kartini K**********. Saat sedang terbang di ketinggian, ia mengaku mendengar suatu bunyi seperti bunyi pintu yang tidak tertutup. Benar saja, ternyata pintu pesawat belum tertutup rapat. Akhirnya, pesawat kembali ke bandara asal. Keluh kesah ini tulis ke dalam akun Facebook miliknya. Kartini mengunggah keluh kesahnya tersebut pada Senin (28/12) lalu sekitar pukul 03.37 WIB. Dia menyampaikan kejadian tak mengenakan yang dialaminya terjadi pada 27 Desember 2015 ketika hendak pulang ke Makassar dari Denpasar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2