Mohon tunggu...
ilham Attambani
ilham Attambani Mohon Tunggu... Penulis

Tempat/Tanggal Lahir: Tamban, 26 Juni 1997

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ketenangan Hati dalam Al-Quran

23 Mei 2019   00:19 Diperbarui: 23 Mei 2019   00:20 0 0 0 Mohon Tunggu...

Secara harfiah al-Qur'an berarti "Bacaan yang sempurna"[1] sedangkan secara definisi al-Qur'an adalah suatu kalam Allah Swt, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantara Malaikat Jibril as., yang di turunkan secara Mutawattir, itu sebagai bukti kemukjizatan atas kebenaran risalah Islam.[2] Al-Qur'an sebagai kitab suci umat Islam  merupakan kumpulan firman Allah Swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw, yang mengandung petunjuk-petunjuk bagi umat manusia.[3] Sebagai petunjuk bagi umat manusia al-Qur'an tentunya akan berfungsi sebagai penenang hati seseorang  yang lagi mendapatkan suatu masalah. Jika al-Qur'an di pelajari, dipahami dan di hayati lalu di terapkan dalam  kehidupan sehari-hari, maka kita mengetahui fungsinya bagi kehidupan kita semua.[4]\

Al-Qur'an adalah sumber utama ajaran Islam dan merupakan pedoman hidup bagi setiap Muslim. Al-Qur'an bukan hanya sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dengan Tuhan, namun juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, bahkan hubungan manusia dengan alam. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami kandungan isi al-Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.[5]

Setiap manusia itu memiliki sifat yang berbeda-beda dan tidak menentu; kadang bersih, kuat iman, bercahaya, lemah lembut, tetapi suatu saat akan menjadi kotor, lemah iman, gelap, gulita, atupun buta, keras membatu terhadap kebenaran. Hal ini karena pengaruh malaikat dan syaitan.[6]

Seperti yang terdapat dalam QS. Al-An'anfal ayat 2:

(2)

 Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal.

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan sifat mereka yang menyandang predikat mukminin yaitu: orang-orang mukminin yang mantap imannya dan kukuh lagi sempurna keyakinannya hanyalah mereka yang membuktikan pengakuan iman mereka dengan perhatiaannya hanyalah mereka yang membuktikan pengakuan iman mereka dengan perbuatannya. Sehingga apabila disebut nama Allah sekedar mendengar nama itu maka beregetar hati mereka karena mereka sadar akan kekuasaan dan keindahan serta keagungan-Nya, ia yakin bahwa ayat-ayat itu menambah iman mereka karena memang mereka telah mempercayai sebelum dibacakan. Sehingga setiap ia mendengarnya, kembali terbuka lebih luas wawasan mereka dan terpencar lebih banyak cahaya ke hati mereka dan kepercayaan itu menghasilkan rasa tenang mengahadapi segala sesuatu sehingga hasilnya kepada Tuhan saja mereka berserah diri.[7]

Ketika seseorang sedang dilanda suatu persoalan yang membuat hatinya tak senang serta menjadi tak bersemangat dalam menjalani kehidupan. Menurut Muhammad Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapat petunjuk ilahi dan kembali menerima tuntunan-Nya, sebagaimana yang dijelaskannya pada ayat-ayat yang lalu itu, adalah Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram setelah sebelumnya bimbang dan ragu. Ketenraman itu yang tersemayam di dada mereka karena disebabkan Dzikrullah, yakni meningat kepada Allah Swt, hati menjadi tentram. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, seperti yang keadaannya tidak akan meminta bukti-bukti tambahan dan bagi mereka itulah kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan bagi mereka juga tempat kembali yang baik, yaitu surga.[8]

[1]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur'an, Cet. 10 (Bandung: Mizan, 2000), 3.

[2]Abdul Shabur Syahim, Saat al-Qur'an Butuh Pembelaan, (Jakarta: Erlangga, 2005), 2.

[3]Muhammad Nor Ichawan, Belajar al-Qur'an Menyingkap Khazanah Ilmu-ilmu al-Qur'an Melalui Pendekatan Historis Metodologis, (Semarang: Rasail, 2005), 41.

[4]Abdullah Karim, Tafsir Ayat-Ayat Akidah, Cet. 3 (Banjarmasin: Pustaka Banua, 2017), 190.

[5]Said Agil Husin Al Munawar, al-Qur'an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta: Ciputat Press, 2002), 3.

[6]Choruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan al-Qur'an, Cet. 1 (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), 87.

[7]M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an, Vol. 4 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 454.

[8]. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an, Vol. 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 271.