Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Kebetulan pernah dinominasikan pada ajang Kompasiana Award 2019 Kategori Best in Citizen Journalism | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Kala Mengoreksi Ujian Siswa Hanyalah Sebuah Fatamorgana

16 November 2019   08:53 Diperbarui: 16 November 2019   12:30 0 7 1 Mohon Tunggu...
Kala Mengoreksi Ujian Siswa Hanyalah Sebuah Fatamorgana
Guru mengoreksi ujian siswa (Ilustrasi. - https://www.teflexpress.co.uk)

Menjelang Desember, saya yakin bagi sebagian besar guru merupakan masa paling sibuk dan melelahkan.

Betapa tidak, Penilaian Akhir Semester tinggal beberapa hari lagi. Dengan waktu yang sangat mepet, tak ada cara lain selain menjejalkan materi kepada peserta didik. Terlebih, jika pembelajaran pada kelas yang diampu masih menyimpan banyak sekali tanggungan materi.

Di samping menjejalkan materi kepada peserta didik, hal yang tak kalah penting pada momen akhir November ini adalah semakin menumpuknya koreksian ujian siswa yang belum sempat dikoreksi dan dinilai.

Padahal, semester berjalan akan segera berakhir. Kegiatan ini belum termasuk melakukan analisis nilai siswa dan memasukkannya ke dalam aplikasi rapor.

Pun, dengan pengklasifikasian siswa mana saja yang harus menerima remidi ataupun pengayaan. Rasanya, tugas koreksi ini menjadi momok yang selalu berulang hadir di akhir semester. Ini belum termasuk pula nilai tugas harian atau tugas terstruktur yang kadang hanya dikumpulkan oleh siswa tapi tak bisa sedetik pun untuk disentuh.

Sebenarnya, jika dilakukan secara sistematis, segala kegiatan koreksi ini tak akan menumpuk dengan mengerikan. Terlebih, rencana kegiatan pembelajaran, baik tahunan, semester, bulanan, maupun harian sudah disusun sedari awal. Guru juga bisa memperkirakan kapan waktu yang tak bisa digunakan sebagai kegiatan pembelajaran karena adanya suatu momen peringatan tertentu.

Demikian pula format penilaian yang sudah disusun dengan rapi. Ekspektasi bisa melakukan koreksi dengan sistematis pun kerap singgah di awal tahun pelajaran.

Siswa-siswi saya sedang melihat nilai ujian yang baru saya koreksi. Belum sempat saya analisis jadi belum bisa saya bagi. (Dokumentasi pribadi)
Siswa-siswi saya sedang melihat nilai ujian yang baru saya koreksi. Belum sempat saya analisis jadi belum bisa saya bagi. (Dokumentasi pribadi)
Rencana tinggal rencana. Pada kenyataannya, saya dan banyak guru lainnya juga akhirnya terengah-engah melakukan koreksi terutama di akhir November seperti ini.

Jika pada bulan sebelumnya para guru banyak yang hadir di ruang guru selepas kegiatan pembelajaran, maka di penghabisan semester ini mereka akan bertapa di dalam kelas. Ada yang menyetel lagu nostalgia, K-POP, ataupun lagu campursari dengan kedua tangan beserta kedua mata asyik melihat lembar demi lembar kertas ataupun buku milik siswa.

Kadang, suara musik beradu seakan mengikuti gerakan tangan yang sedang mengoreksi. Kalau sudah begini, Bapak Kepala Sekolah biasanya hanya bisa berkeliling ke kelas-kelas sambil geleng-geleng kepala. Beliau sudah mafhum dengan rutinitas yang terjadi berulang ini.

Nah, meski dikejar tayang, nyatanya kegiatan koreksi ini tidak bisa sepenuhnya lancar. Ada beberapa faktor nonteknis yang membuat kegiatan ini lagi-lagi terbengkalai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN