Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis. Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Begini Rasanya Ketagihan Menulis Buku

4 Oktober 2019   09:31 Diperbarui: 4 Oktober 2019   18:51 0 11 6 Mohon Tunggu...
Begini Rasanya Ketagihan Menulis Buku
Launching Buku/sumber: dokpori

Ya, itulah yang sedang saya rasakan sekarang.

Dimulai dari rencana menerbitkan sebuah buku solo perdana yang tak ada tujuan lain hanya untuk mengumpulkan tulisan blog saya. Agar tidak tercecer dan ada kemungkinan hilang akibat kesalahan teknis ataupun hal-hal lain. Dan akhirnya, buku Just A Rail Trip pun terbit walau saya memahami masih ada saja kekurangan.

Namun itu tak masalah. Justru, dari kekurangan itu saya banyak belajar mengenai segala teknik kepenulisan yang mungkin tidak didapat oleh orang lain. 

Semisal, saya  banyak belajar waktu yang tepat untuk menggunakan kata "tetapi" dan "namun" hingga menemukan beberapa kosa kata baru yang diserap dari bahasa asing. Pelantang telinga, pelanden, dan beberapa kata lain yang mungkin tak saya dapat jika tak menulis buku.

Dua hal itu memang menjadi hal yang mengasyikkan yang rasanya sayang untuk saya sudahi. Sambil membaca buku-buku yang menjadi referensi, latihan mengolah kata dengan cepat dan tepat bisa jadi candu yang juga tak kalah seru. Makanya, kala sebuah email dari Storial datang beberapa waktu lalu, saya kembali bersemangat.

Email itu berisi penawaran untuk menjadi penulis premium menulis sebuah buku dengan beberapa persyaratan tertentu. Salah satunya, saya harus menulis sebanyak 40.000 kata yang dibagi dalam 40 bab. 

Sungguh, ini merupakan tantangan sekaligus berkah dari kegiatan menulis buku sebelumnya. Jika awalnya saya hanya berpikiran yang penting jadi buku, maka kini hal itu tidak bisa saya lakukan seenaknya.

Saya harus memperkirakan untuk menyudahi cerita yang saya tulis jika jumlah kata dalam sau bab itu sudah terlalu banyak. Atau, saya harus menambah cerita saya jika masih cukup banyak ruang di dalam bab yang saya tulis. Saya seakan bermain gim yang mengahruskan otak saya berpikir cepat dan tepat.

Dengan berat hati, saya katakan saya sedang terjangkiti wabah menulis buku. Ya, saya sedang mendapatkannya. Tentunya, itu harus dilakukan dengan kerja keras dan banyak doa.

Di balik itu, apresiasi dari pembacalah yang sesungguhnya menjadi pemacu saya untuk terus berkarya. Walau mulanya saya tak berekspektasi tinggi, tetapi ketika tulisan saya diapresiasi sedikit saja rasanya saya sudah bahagia. 

Apresiasi yang bukan uang semata. Bukan bentuk materi maupun ketenaran. Apresiasi lebih bahwa karya kita sesungguhnya bermanfaat bagi para pembaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2