Mohon tunggu...
Ika Septi
Ika Septi Mohon Tunggu... Lainnya

penyuka musik, buku, film dan kerajinan tangan.

Selanjutnya

Tutup

Musik Pilihan

Menelisik Elemen Screaming dan Growling pada Musik Metal

27 November 2020   16:48 Diperbarui: 27 November 2020   17:03 145 16 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menelisik Elemen Screaming dan Growling pada Musik Metal
John Tardy (Obituary)

"Lagu apasih ini, kok pusing dengernya." Begitu yang ada dipikiran saya ketika pertama kali mendengarkan musik metal yang vokalisnya asyik ber-growling ria.  

Mungkin kepusingan saya sama dengan pusingnya seorang pedagang Arab Spanyol, Abraham ben Jacob ketika pertama kali bertemu bangsa Viking di Denmark. Ia berkata :

"Belum pernah saya mendengar lagu yang lebih jelek dari pada lagu-lagu Viking di Slesvig. Suara geraman yang keluar dari tenggorokan mereka mengingatkan saya pada anjing yang melolong, hanya saja lebih liar. "

Apa yang dikatakan Mister Jacob terdengar seperti "Death Growl" yang kini akrab dengan penggemar musik death metal.

Jadi ya gak salah-salah amat bila musik metal banyak dijumpai di wilayah Skandinavia, lha wong akarnya ada di sana.

Ya, salah satu hal yang berkontribusi terhadap popularitas musik metal adalah lintang dan iklim dari Skandinavia. Negara-negara tersebut terletak di utara dan memiliki iklim keras serta musim dingin yang mematikan.  Iklim keras membuat musik yang dihasilkan pun keras.

Namun ada pula yang berpendapat bahwa banyaknya musik keras yang beredar di dunia bagian utara itu karena masyarakatnya memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi.  Nah, karena terlalu bahagia mereka membutuhkan sesuatu yang gelap, kelam, suram, dan keras untuk mengimbanginya,  salah satunya dengan memainkan dan mendengarkan musik metal. Cetar kan?

Hal lain yang membuat negara-negara di Skandinavia memiliki banyak musisi metal adalah karena musik mereka dilindungi oleh negara. Segedebrak-gedebruknya musik yang dimainkan gak ada satu pun larangan yang menghentikannya.

Dan saking melekatnya metal dengan bangsa Viking dan sekitarnya, lahir pula lah genre Viking metal.

Heits tapi kali ini saya gak akan ngerumpiin tentang rupa-rupa genre metal soalnya bisa dua tahun gak mandi-mandi karena harus nyari referensi sana-sini, haih.

Kali ini saya tertarik dengan cara bernyanyi vokalis band metal yang kerap teriak-teriak, menggeram, menggonggong, dan mengeluarkan suara-suara aneh lainnya.

Sebenarnya gak semua musik metal memiliki elemen ini, namun screaming dan growling sudah pasti adanya di musik metal.

Beberapa genre metal seperti death metal, grindcore, metalcore, gothic metal, doom metal, dan screamo memasukan tehnik gogorowokan eh teriakan dan geraman dalam vokalnya.  

Chuck Schuldiner  yang berjuluk "The Godfather of Death Metal" dari band Death mungkin adalah sosok pertama yang teriakannya digunakan sebagai penyampaian lirik secara konstan.  

Tom Araya dari Slayer menggunakan teriakan untuk menekankan  kemarahan dan memberi nilai kejutan.

Ya, kemarahan menjadi kunci utama dalam musik metal dan cara terbaik untuk menyampaikannya adalah melalui vokal yang berhubungan dengan berteriak dan menggeram.  Namun, nyatanya tak semua teriakan dan geraman ditujukan untuk mengekspresikan kesuraman dan kemarahan.  Beberapa band metal ada yang melakukannya untuk bersenang-senang.

Dalam musik populer tehnik menggeram,  bukan mengeram ya itu mah ayam, pertama kali dimunculkan oleh band kesayangan Kakang Eddie Vedder, The Who.  Dalam lagu "Boris the Spider," The Who menyisipkan growl dalam chorusnya yang dibawakan oleh sang penulis lagu plus pemain bass, John Entwistle secara basso profundo alias bernyanyi dengan nada paling rendah.  Lagu yang horor, heuheu.

Di awal tahun 70-an ada vokalis King Crimson, Greg Lake yang membumbui vokalnya dengan distorsi jeritan dalam nomor "21st Century Schizoid Man."

Black Sabbath dan Pink Floyd pun sempat menyisipkan gaya ini di beberapa lagunya walau hanya sedikit, itu pun hasil manipulasi studio. Gak sah ya kalo gini mah?

Tapi yang pasti Napalm Death, Cannibal Corpse, Obituary, dan Sepultura menjadi empat dari banyak band death metal yang begitu populer dengan tehnik growling-nya.

Ya, musik metal khususnya death metal memiliki beberapa ciri seperti lirik yang berbicara tentang kematian, kekerasan, keputusasaan yang dibumbui dengan distorsi suara gitar down-tuned serta riff nada tunggal.  Gaya vokalnya berupa teriakan dan geraman.

Hebatnya, dalam dunia metal, geraman ini dilakukan secara terus-menerus sepanjang lagu bahkan sepanjang konser.

Teriakan dan geraman vokalis metal tidak membutuhkan bakat namun harus memiliki teknik tersendiri dengan basis vokal yang kuat.  Tanpa adanya tehnik yang tepat, seorang vokalis metal dapat melukai dirinya sendiri.

Jangan sampai lah ya seperti Oli Sykes dari Bring Me The Horizon yang menderita nodul dan pecah pita suara karena penerapan tehnik suara yang buruk disertai dengan panjangnya jadwal tur plus kurang  piknik eh istirahat.

Nah, jadi yang jadi pertanyaan, tehnik apa sih yang vokalis metal adaptasi ketika melancarkan aksi screaming dan growling ini?
Ternyata sodara-sodara mereka menggunakan tehnik yang sama persis dengan apa yang dilakukan bayi, begitu menurut Krzysztof Izdebski, seorang ahli patofisiologi suara.

Ya, dilansir Inside Science, penelitian yang dilakukan oleh sang Doktor dari Pacific Voice and Speech Foundation tersebut menemukan bahwa ketika bayi  berteriak atau menjerit, pita suara mereka tidak bertabrakan.  Hal ini tidak akan menyebabkan hiper vaskularisasi, pemborokan, pendarahan, atau pun pembengkakan.

Adapun suara geraman yang dihasilkan oleh vokalis metal berasal dari struktur atas glotis atau lubang yang terletak di antara laring dan pita suara tempat udara mengalir ke paru-paru.

Ketika udara keluar dari paru-paru, melewati trakea dan diteruskan ke pita suara, struktur di atas pita suara saling menyatu.  Daerah di atas itu sangatlah longgar sehingga udara yang masuk menghasilkan turbulensi yang akhirnya menghasilkan suara.

Menurut Pak Izdebski lagi, para vokalis metal itu melakukan screaming dan growling secara intuitif.  Tak lepas kemungkinan semua orang dapat melakukan hal ini karena terbukti bayi pun melakukannya secara naluriah.

Dalam dunia persilatan eh permetalan screaming dan growling lekat dengan maskulinitas karena suara yang dihasilkan  begitu agresif dan bising.  Eh tapi jangan salah, praktik screaming dan growling pun sudah jamak dilakukan oleh wanita.

Angela  Gossow, vokalis Arch Enemy (dulu) merupakan salah satu wanita yang sukses terjun ke dunia metal nan keras. Gossow layak berdiri sejajar dengan Chris Barnes - Cannibal Corpse,
John Tardy -  Obituary,  Nick Bullen - Napalm Death, dan tentu saja Max Cavalera - Sepultura.  

Itu menurut saya, gak tau kalau menurut para metalheads sekalian.


Sekian.




* diolah dari berbagai sumber.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x