Mohon tunggu...
Ika Maya Susanti
Ika Maya Susanti Mohon Tunggu... Penulis - Guru dan penulis

Saya seorang penulis yang saat ini tinggal di Lamongan, Jawa Timur.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

6 Fakta tentang Atmaji Sapto Anggoro menjadi Pengusaha Media

21 April 2017   19:50 Diperbarui: 21 April 2017   23:23 6633 2 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Atmaji Sapto Anggoro. (Foto: istimewa)

Menjadi pengusaha media sepertinya merupakan hal yang menarik untuk dilirik. Apalagi dengan perkembangan teknologi informasi saat ini yang banyak digerakkan lewat media sosial, membuat media informasi menjadi peluang yang menjanjikan jika ditekuni secara serius. Jika pernah tahu media tirto.id atau merdeka.com yang terkadang sering di-reshare oleh para netizen, ada nama Atmaji Sapto Anggoro atau Sapto sebagai sosok yang berperan di belakangnya.

Perjalanan pria kelahiran Jombang pada tanggal 4 Oktober 1966 tersebut di bisnis media sendiri sudah dimuai sejak tahun 80-an. Ada beberapa hal positif yang bisa kita pelajari dari sosok Sapto dalam perannya sebagai pengusaha media.

1. Memulai kerja keras sejak masa kuliah

Sebetulnya tujuan Sapto selepas SMA di tahun 1984 adalah masuk Akpol. Akan tetapi karena tidak diterima, ia lalu sekolah wartawan di Stikosa-AWS Surabaya. Sembari sekolah, di tahun 1986, Sapto menjadi tukang cuci cetak foto BW ukuran besar khusus untuk foto ‘almarhum’ yang usahanya berada di pinggir jalan.

2. Melihat sesuatu secara visioner

Di tahun 1987, muncul teknologi baru dalam bidang cuci cetak foto yang cukup satu jam saja pengerjaannya. Hal ini membuat Sapto berpikir ulang. Dalam benaknya, pekerjaannya saat itu tidak menjanjikan karena bisa tergerus zaman kemajuan teknologi mesin.

Ia pun memilih mengakhiri profesinya meski saat itu ia sudah ahli di bidang cuci cetak foto.

3. Kreatif dan bertindak dengan strategi

Setelah melepas profesi cuci cetak foto dan sempat bingung tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Sapto berkeinginan menjadi penulis. Dalam bayangannya, penulis merupakan profesi dengan skill yang tak tergantikan. Ia lalu melamar menjadi wartawan di Surabaya Pos. Saat itu ada posisi kosong di bagian peliputan olahraga.

Sementara itu, hampir 50 persen teman sekampusnya juga mengirimkan lamaran ke sana. Dan Sapto terpikir bahwa siapun yang melamar menjadi wartawan, bisa jadi belum tentu bisa menulis. Karena itu dalam surat lamarannya ke Surabaya Post, Sapto menyertakan contoh tulisannya.

Kreativitas dan strategi Sapto memang tidak diajarkan di sekolah. Namun hal penting itulah yang membuat Sapto langsung dipanggil kerja dan bahkan tulisannya langsung dimuat. Modal mental ini pun Sapto gunakan saat ia harus menguasai dunia periklanan di detik.com. Meski ia tidak menguasainya, namun Sapto terus mencari cara dan strategi agar perikalan detik.com sukses.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan