Mohon tunggu...
Ihsan Kusasi
Ihsan Kusasi Mohon Tunggu... profesional -

Konsultan TI dan Dosen Manajemen Perbanas

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Seni Bermimpi

1 November 2013   22:56 Diperbarui: 24 Juni 2015   05:42 1149
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Hari ini selayaknya sama dengan hari Jumat lainnya. Namun hari ini sedikit berbeda: gue berencana mengunjungi sebuah SMA yang lokasinya hanya 300 meter dari Pondok Indah Mall. Sebuah SMA swasta yang baru berdiri bulan Juli 2013 dan berjumlah murid hanya 7 orang. Hah...?! Cuma tujuh…? Tapi ini benar beda...

Iya. Ini adalah sekolah yang mengkhususkan diri untuk siswa usia SMA yang lebih berminat ke kreatifitas seni alih-alih kepada pelajaran kurikulum SMA pada umumnya. Kemendiknas pun sudah memberikan lampu hijau, bahwa SMA swasta ini setara dengan SMA negeri umum jurusan IPS. Walaupun demikian, bisa jadi loe akan beranggapan bahwa lulusan SMA bertema "School of Art" seperti ini cuma akan memiliki masa depan "PAHA MULUS" --  tanPA HArapan MUridnya LUSuh -- hihihi….

Well, gak juga. Bagi loe yang pernah membaca buku biografi mendiang Steve Jobs (1955-2011) -- pendiri perusahaan Apple Inc., dan terakhir sebagai CEO sebelum dia mengundurkan diri karena penyakit kanker pankreas yang merengut nyawanya -- loe pasti setuju bahwa kekayaan Jobs terbesar adalah datang dari perusahaan Apple tersebut. Benar, kan? Salah!

Ternyata Jobs mendapatkan penghasilan terbesarnya justru dari saham perusahaan lain yang dia dirikan tahun 1986, yaitu Pixar Animation Studios. Sebuah perusahaan kreatif pembuat seni film animasi apik nan menggugah, seperti Toy Story (1995), A Bug's Life(1998), Toy Story 2 (1999), Monster Inc. (2001), Finding Nemo (2003*), The Incredibles(2004*), Cars (2006), Ratatouille (2007*), WALL-E (2008*), Up (2009*), Toy Story 3 (2010*),Cars 2 (2011), Brave (2012), dan terakhir Monster University (2013). Semua yang bertanda bintang di belakang tahun pembuatannya adalah film peraih "Academy Award for Best Animated Feature", sebuah kategori penghargaan bergengsi piala Oscar yang baru diperkenalkan tahun 2001.

Sampai Juli 2013, penghasilan total Pixar yang tercatat  dari film-filmnya di atas, telah mencapai USD8.3 Milyar atau setara dengan Rp.93,5 Triliyun,-! Sebagai satu-satunya pemilik saham tunggal terbesar dengan jumlah saham 7%, bisa dibayangkan berapa besar kekayaan Steve Jobs di Pixar yang diwariskan kepada keluarganya! Wuihhh… penghasilan yang menggiurkan untuk sebuah kerja di bidang kreatifitas seni.

Kembali ke SMA di atas. Sekolah yang menamakan diri "Erudio School of Art" (ESOA) ini didirikan oleh Monika Irayati atau biasa dipanggil Bu Ira. Selain dari pengalaman pribadi, idenya juga berawal dari banyak keluhan ibu-ibu yang anaknya ditenggarai kurang fokus ketika bersekolah di sekolah umum. Anak-anak tersebut sejatinya tidak bodoh. Mereka hanya merasa kurang cocok pada kurikulum sekolah umum. Salah satu dari mereka pernah curhat ke Ibu Ira lewat Twitpic seperti ini:

"…aku tau gambarku bagus kalo aku ada di lingkungan sekolah umum… tapi aku engga tau sebenernya posisi aku ada di mana di antara orang2 yg jago gambar… aku udah tau persis aku mau jadi Animator yang bekerja di Pixar… aku bingung Kak… aku harus gimana… tolong aku Kak… aku seharusnya ada di sekolah Kakak…"

Sekolah ESOA memang tidak menjanjikan siswa lulusannya pasti bisa bekerja di Pixar dan akan dapat gaji tinggi nantinya. Namun sekolah ini benar-benar serius meramu kurikulum tambahan yang fokus ke pengembangan bakat seni pada anak-anak usia 16-18 tahun.

Sekolah ini bekerjasama dengan Edexcel -- lembaga sertifikasi pendidikan dari perusahaan Pearson yang berbasis di UK -- agar siswanya bisa mendapatkan Sertifikasi A-Level bidang "Art and Design". Secara rutin assessment team Edexcel akan datang ke ESOA untuk melakukan Ujian Kelulusan yang berupa Final Project. Iya, siswa ESOA nantinya akan memiliki 2 ijazah: dari Kemendiknas, dan dari Edexcel.

Hal di atas sebenarnya yang bikin gue penasaran tentang sekolah ini. Dan pagi ini gue datang untuk melihat, memahami, dan meresapi. Ternyata yang gue dapat adalah lebih dari itu: beberapa siswa ternyata berasal dari sekolah-sekolah favorit di Jakarta -- yang tentu memiliki nila akademik di atas rata-rata -- namun sudah berani mengambil keputusan sendiri bahwa pilihan mereka bersekolah di ESOA adalah ibarat panggilan jiwa. Gue juga salut kepada orangtua mereka, yang ikhlas melepas anaknya bukan ke sekolah umum biasa, yang mungkin lebih menjanjikan jenjang karir.

Para siswa ini memahami bakat sendiri, dan mereka juga sudah memiliki dreams sendiri. Sekolah ESOA hanya memfasilitasi mereka agar dalam 3 tahun ke depan, bakat mereka lebih terasah, terspesialisasi, dan terprogram. Karena metode pelajaran di ESOA adalah berbasis proyek, maka penilain pada "proses pekerjaan" proyek akan memiliki bobot lebih tinggi dibanding hasil proyek itu sendiri. ESOA juga akan selalu mengingatkan tentangdreams mereka, apabila pada satu saat semangat mereka turun ke titik nadir terendah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun