IDRIS APANDI
IDRIS APANDI PNS

Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, Penulis Artikel dan Buku, Trainer Menulis, Pembicara Seminar-seminar Pendidikan. No. HP 0878-2163-7667

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Bakul Baso, Media Penumbuh Literasi dan Karakter di SDN 2 Sukasari Banjarsari

12 Oktober 2018   11:04 Diperbarui: 12 Oktober 2018   11:32 547 1 0

Kalau Anda berkunjung ke SDN Sukasari 2 Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis, kesan yang anda dapat mungkin tidak akan jauh dengan kesan yang saya rasakan.

Dari pintu gerbang sekolah, sudah terlihat lingkungan sekolah yang bersih, tertata rapi, dan enak dilihat.

Saat saya dan rekan saya masuk ke halaman sekolah, ada beberapa orang siswa yang spontan berlari mendatangi kami.

Bagi kami, itu adalah sebuah sambutan yang sangat luar biasa. Seolah mereka berkata "selamat datang di sekolah kami." Saya yakin, apa yang mereka lakukan tidak ujug-ujug, tetapi merupakan hasil pembiasaan dibawah pembinaan guru-gurunya.

Saya kemudian masuk ke ruangan kepala sekolah, dan di ruangan tersebut telah ada beberapa orang yang menunggu, yaitu kepala sekolah, guru-guru, pengawas, pejabat dari Disdik Kabupaten Cirebon dan UPTD Kecamatan Banjarsari.

Setelah saya menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami, yaitu melaksanakan evaluasi implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan berbincang-bincang sejenak serta mengedarkan angket untuk diisi para responden, saya pun bergegas untuk melakukan observasi lingkungan sekolah.

Seperti kesan pertama saat saya datang ke sekolah ini, saya melihat lingkungan sekolah yang bersih dan tertata rapi. Di halaman kelas, ada bunga-bunga dan tempat sampah, sedangkan di selasar ada tananaman hidroponik yang semakin membuat lingkungan terasa asri dan indah.

Lalu saya pun masuk ke ruang kelas. Kebetulan siswa sudah pulang. Saya melihat ruang kelas yang bersih dan tertata rapi. Pada dindingnya terdapat berbagai hiasan dan prakarya hasil karya para siswa. Ada juga "pohon" literasi sebagai salah satu produk dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dilaksanakan di sekolah ini.

Pada dinding luar kelas menempel berbagai pesan-pesan yang tujuannya untuk membentuk karakter siswa seperti pesan untuk disiplin, rajin belajar, berprestasi, menghormati guru, dan hidup bersih. Selain itu, di dekat ruang kepala sekolah terdapat lemari yang berisi kumpulan piala. Hal itu menunjukkan bahwa sekolah ini telah memiliki banyak prestasi.

Diantara semua pemandangan yang ada di sekeliling sekolah, ada satu spanduk yang paling menarik perhatian saya, yaitu spanduk yang bertuliskan "BA-KUL-BA-SHO" yang merupakan akronim dari "Baca Alquran, Kuliah tujuh menit, Baca buku, dan Sholat dhuha dan Sholat Dzuhur berjamaah". 

Bagi saya, akronim tersebut menjadi menarik karena mudah diingat, identik dengan bakul baso. Bakul, boboko, yaitu tempat menyimpan membawa makanan, dan baso adalah cemilan yang banyak disukai masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan bentuk upaya sekolah untuk menanamkan budaya literasi dan nilai-nilai karakter yang baik kepada para peserta didik. Sekolah ini juga memiliki motto BERSAHABAT (Bersih, Sehat, dan bermartabat) yang mengacu kepada sekolah sehat.

Peserta didik diajari dan dibiasakan membaca Alquran dan buku sebagai bentuk meningkatkan minat dan kemampuan membaca. Di SD, para peserta didik diajarkan literasi dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Sebagaimana sudah menjadi pengetahuan umum bahwa minat baca bangsa Indonesia masih sangat rendah.

Oleh karena itu, perlu untuk ditingkatkan agar kualitas SDM bangsa Indonesia makin meningkat.

Sebelum KBM, para siswa membaca buku nonteks selama 15 menit. Hal tersebut hanya sebuah stimulan saja, karena sekolah dapat melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan minat baca peserta didik.

Dengan adanya pembiasaan membaca Alquran dan membaca buku, sekolah ingin menanamkan rasa cinta baik terhadap Alquran maupun terhadap buku. Dengan demikian, ada keseimbangan antara aspek agama dan aspek umum.

Kegiatan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) disamping memberdayakan guru-guru, juga melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat sekitar. Hal ini disamping agar ada variasi, juga menunjukkan telah berjalannya kemitraan antara sekolah dan masyarakat. Menurut saya, di masa yang akan datang, dengan bimbingan guru perlu dicoba melatih para peserta didik untuk menyampaikan tausyiah di hadapan teman-temannya. Hal ini bertujuan disamping untuk melatih keberanian dan tanggung jawab, juga untuk mendorong siswa agar mau belajar.

Kegiatan salat duha dan salat dzuhur berjamaah sebagai upaya untuk membiasakan salat berjamaah dan agar mereka rajin salat karena salat merupakan salah satu ibadah yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh H. Nono Suryana, S.Pd.I, salah satu kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam pembiasaan salat berjamaah adalah sekolah belum memiliki musala yang representatif, sehingga sekolah ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah agar memiliki musala yang represntatif sebagai sarana untuk mendukung GLS dan PPK di SDN 2 Sukasari. Hal ini diamini oleh pengawas pembinanya, yaitu Edi, S.Pd., yang menyatakan bahwa keberadaan musala memang diperlukan dalam pembinaan siswa.

Kepala UPTD Kecamatan Banjarsari, H. Dedi Suptiadi, S.Pd., M.Si yang juga hadir pada kesempatan itu menyampaikan bahwa UPTD telah mengajukan untuk pembangunan musala di SDN 2 Sukasari kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, tetapi sehubungan ada keterbatasan anggaran, maka rencana tersebut belum terealisasi. Dia berharap bahwa suatu saat sekolah ini akan memiliki musala yang layak karena dibutuhkan untuk mendukung proses pembelajaran. Apalagi SDN 2 Sukasari merupakan salah satu sekolah unggulan yang banyak diminati oleh masyarakat.

Deni, S.Pd., Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis yang mengantar kami berkunjung ke SDN 2 Sukasari sangat mengapresiasi berbagai program literasi dan penguatan pendidikan karakter yang dilakukan sekolah tersebut. Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis memang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan kepada peserta didik dan pembangunan karakter sehingga mutu pendidikan di Kabupaten Ciamis dapat meningkatkan. Dan semoga pengadaan sarana dan prasarana penunjang dapat dipenuhi secara bertahap. Walau demikian, keterbatasan sarana dan prasana jangan sampai menjadi penghalang bagi sekolah untuk melayani peserta didik dengan sebaik mungkin. Intinya, ada upaya yang dilakukan. Selain itu, peran Komite Sekolah atau masyarakat juga sangat diperlukan untuk bersama meningkatkan kualitas sarana dan prasarana di sekolah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2