Mohon tunggu...
Choirunnisa
Choirunnisa Mohon Tunggu... Choirunnisa

Choirunnisa, Kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jurusan Pendidikan Sosiologi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Permukiman Kumuh di Pinggiran Sungai Ciujung Kabupaten Lebak

22 November 2020   12:49 Diperbarui: 23 November 2020   06:10 23 4 0 Mohon Tunggu...

Di perkotaan terdapat cukup banyak perrmukiman kumuh yang menjadikan hal tersebut sebagai tugas bagi pemerintah agar merealisasikan penataan kota dan wilyah agar dapat mewujudkan penataan rapih pada suatu kota dalam hal yang lebih baik lagi. 

Bukan hanya di kota - kota besar saja, bahkan di kota kecil daerah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak ini pun terdapat permukiman yang kumuh yang sudah tak asing lagi bagi masyarakat sekitar. 

Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak, sudah menetapkan adanya penataan kawasan kumuh meliputi pengendalian pertumbuhan bangunan baru, pencadangan lahan untuk permukiman, perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan perumahan, serta penataan kawasan perumahan sepanjang aliran sungai yang disesuaikan dengan ketentuan sempadan (Pemerintah Kabupaten Lebak, 2014).

Terlebih pada perkembangan penduduk yang semakin pesat dan perkembangan urbanisasi yang dilakukan oleh masyarakat pun semakin meningkat dalam tiap tahunnya, bahkan dalam melakukan urbanisasi setiap masyarakat memiliki tujuan untuk mencari pekerjaan yang layak di kota dengan artian mereka ingin mengubah nasib ke kota karena mereka sudah cukup jenuh dengan pekerjaan mereka di kampung. Maka dari itu banyak masyarakat yang berbondong - bondong pergi ke kota untuk mendapatkan pengahasilan atau pekerjaan yang lebih layak.

Dengan pertumbuhan penduduk yang semakin cepat inilah menjadi penyebab utama dalam menangani proses pertumbuhan dalam sektor penataan kota karena tidak diseimbangi dengan ketersediaannya sarana dan prasarana di kota dalam sektor lahan itu sendiri. 

Smith dan Nemeth (1988) menyatakan bahwa urbanisasi harus dikendalikan, sebab jika tidak terkendali akan timbul dampak negatif baik terhadap penduduk kota, penduduk desa maupun pengaruh makro pada negara.

Dalam kata lain, setiap masyarakat yang ingin melakukan urbanisasi tidak di landasi dengan pemikiran - pemikiran yang logis untuk nanti ke depannya, karena pada hasil wawancara saya sendiri terdapat cukup banyak masyarakat yang melakukan urbanisasi namun mereka tidak tahu akan tinggal dan hidup dimana karena yang mereka pikirkan hanyalah pindah ke kota untuk mendapatkan kehidupan yang layak serta dapat merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Namun pada kenyataannya hal tersebut dapat merugikan mereka sendiri sehingga dengan terpaksa mereka harus bertempat tinggal dengan suasana yang tidak layak atau dapat dibilang dengan tempat tinggal yang kumuh. 

Terlebih pada masyarakat yang bertempat tinggal di pinggiran sungai ciujung daerah Kabupaten Lebak ini, dengan sangat terpaksa mereka bertempat tinggal di lingkungan seperti itu karena harga sewa kontrakan di kota yang mahal sehingga mau tidak mau harus menempati permukiman yang seperti itu.

Pada permukiman kumuh khususnya di pinggiran sungai ciujung yang terdapat di Kabupaten Lebak ini membutuhkan penanganan yang lebih dalam sektor permukiman untuk bisa mendapatkan lingkungan yang layak serta dapat berpola hidup sehat untuk kedepannya dengan permukiman yang bersih dan terjaga. 

Kebanyakan masyarakat memanfaatkan sungai ciujung untuk kehidupan kesehariannya seperti untuk mencuci piring, mencuci baju bahkan mandi sekalipun. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x