Mohon tunggu...
Djamaluddin Husita
Djamaluddin Husita Mohon Tunggu... Lainnya - Memahami

Blogger, Ayah 3 Putra dan 1 Putri. Ingin menyekolahkan anak-anak setinggi yang mereka mau. Mendorong mereka suka membaca dan menulis (Generasi muda harus diarahkan untuk jadi diri sendiri yang berkarakter).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Koh Steven, Sang "Pemulung Amal" Telah Pergi

15 Oktober 2022   22:48 Diperbarui: 15 Oktober 2022   22:55 700
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tadi malam (Jumat, 14/10), sekitar pukul 21.30 ketika mau beranjak tidur saya membuka twitter. Salah twit yang saya baca adalah khabar duka cita dengan ucapan "Innalillahi wainna Ilaihi Raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah Ustadz Steven Indra Wibowo (Koh Steven). Dalam twit tersebut disebutkan bahwa Koh Steven, begitu nama yang dikenal, meninggal dunia sesaat setelah menunaikan syalat Insya. Lalu kemudian muncul beberapa twit yang lain mengabarkan bahwa benar Ustadz Steven Indra Wibowo berpulang ke Rahmatullah.

Secara pribadi saya tidak mengenal sosok Koh Steven. Saya tahu dari berita-berita tentang beliau. Koh Steven adalah seorang muallaf  dan dari beberapa laman berita beliau disebutkan  lahir di Jakarta pada 14 Juli 1981 dan sekitar tahun 2000 dalam usia 19 tahun beliau mengucap dua kalimat syahadat dan menjadi mualaf. Koh Steven resmi menjadi mualaf dan memakai nama Indra Wibowo ash-Shiddiqi.

Bila kita hitung, umur beliau saat ini kurang lebih masih 41 tahun 3 bulan. Usia masih sangat terlalu muda. Dalam Islam Usia 40 tahun adalah usia yang istimewa karena dalam sejarah Islam Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama pada saat beliau masih berusia 40 tahun.

Kepergian Koh Steven sangat mengejutkan bukan hanya bagi orang-orang terdekat dengan beliau tetapi hampir semua muslim yang ada di Indonesia merasa kehilangan atas kepergian beliau. Hal ini dapat dilihat dari mulai status whatshap, facebook, twitter dan juga Instagram dipenuhi dengan ucapan rasa duka yang mendalam. Beberapa media Televisi menyampaikan khabar duka tersebut termasuk beberapa media online dan cetak.

Kabar duka cita dan doa juga  datang berbagai komunitas dakwah, pendakwah, juga termasuk teman-teman artis seperti Arie Untung, T. Wisnu dan yang lainnya. 

Bila melihat kiprah dalam dakwahnya, meskipun Koh Steven seorang muallaf tetapi beliau mempunyai cara tersendiri dalam berdakwah. Beliau begitu totalitas dalam berdakwah. 

Saya yakin, beliau tidak menginginkan pujian dari orang-orang tentang apa yang dilakukannya selama menjadi muallaf. Pasti apa yang beliau telah lakukan itu semata-mata karena Allah bukan untuk dipamerkan. 

Kalaupun banyak yang disampaikan baik melalui tulisan maupun lisan oleh orang tentang beliau semata-mata  untuk menjadi kisah yang akan dilanjutkan oleh generasi muda atau pejuang Islam lainnya. Sekali lagi, apa yang beliau lakukan semoga menjadi amal ibdah dihadapan Allah SWT.

Pendiri Muallaf Center ini,  saat Covid-19 melanda seluruh dunia pernah diberitakan menjual asset  sampai 14 M untuk disumbangkan dalam rangka penangganan Covid-19 saat itu. Sungguh tauladan seperti ini yang perlu dicontoh oleh semua muslim. Spirit berkurban seperti yang dilakukankannya perlu ditanam dalam setiap insan. Apa yang pernah beliau lakukan itu semestinya itu harus dilakukan oleh semua muslim. 

Sebab seperti itulah ajaran dalam Islam yang disampaikan oleh Nabi Besar Muhammad SAW.  Dalam berjuang menegakkan kalimah Allah seorang muslim harus melakukannya secara totalitas. 

Saya kira, begitu istiqamahnya beliau setelah menjadi muallaf, mungkin bisa kita bayangkan bagaimana hal-hal lain yang beliau dedikasikan secara totalitas atau kaffah dalam mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang beliau pahami. Di samping beliau terus belajar dan belajar memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun