Mohon tunggu...
Den Ciput
Den Ciput Mohon Tunggu... I'm a writer...

Just Ordinary man, with the Xtra ordinary reason to life. And i'm noone without God.. http://www.youtube.com/c/ChannelMasCiput

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

OPPO, Vivo, Wuling, Jadi Apa Selanjutnya?

11 April 2019   01:41 Diperbarui: 11 April 2019   02:11 146 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
OPPO, Vivo, Wuling, Jadi Apa Selanjutnya?
Vivo V15, dengan harga 5 jutaan, siap bertarung dengan Samsung (Sumber foto: Carisinyal.com)

Pada era tahun 70 sampai dengan 80 an, hingga awal 90an, masyarakat Indonesia sangat familiar dengan sepeda merk Phoenix. Sebuah sepeda buatan China. Bahkan saking melekatnya 'nama China', sampai orang awam menyebut sepeda tersebut dengan sebutan RRT (Republik Rakyat Tiongkok).

OPPO Find X, berani pasang harga 18jutaan. Head to Head dengan Iphone X (Sumber: Amazon.com)
OPPO Find X, berani pasang harga 18jutaan. Head to Head dengan Iphone X (Sumber: Amazon.com)
Saya rasa itu pertama kali dalam sejarah merk dagang bahwa nama negara pembuat lebih melekat dibenak konsumen ketimbang brand itu sendiri.

Jaman itu, asal sepeda buatan China, jaminan mutu. Bagus, kuat, dengan bentuk yang lebih ringkas dari sepeda buatan Eropa yang waktu itu muahalll.

Taruhlah di banding Gazelle atau Phillips.
Dominasi sepeda merk Phoenix justru tumbang oleh sepeda buatan dalam negeri yang di rakit divisi roda dua Astra, yaitu Federal, yang mengusung tren baru alat transportasi murah tersebut.

Federal menghadirkan sepeda gunung.
Tak pelak Phoenix yang di produksi oleh Shanghai  Phoenix Bicycle Limited tumbang karena bentuk sepeda klasik sudah mulai ditinggalkan masyarakat Indonesia dan beralih ke tren sepeda gunung yang lebih sporty.

Wuling Almaz, berbasis Chevrolet Captiva. Siap bertarung dengan Honda CRV dan Nissan X-trail. (Sumber : oto.com)
Wuling Almaz, berbasis Chevrolet Captiva. Siap bertarung dengan Honda CRV dan Nissan X-trail. (Sumber : oto.com)
Toh anggapan masyarakat tatkala itu terhadap produk Tiongkok yang berkualitas belum luntur. Setidaknya kepercayaan masyarakat terhadap Brand Phoenix yang memproduksi sepeda-sepeda klasik yang ringkas, ringan, dan kuat.

O ya, yang terkenal waktu itu disebut Jenki. Jengki disadur dari kata Yankee ( Orang Amerika). Saya tidak tahu kenapa sepeda made In China ini di personifikasikan dengan sosok Yankee. Padahal secara bentuk lebih ringkas dari sepeda Eropa.

Sedangkan menurut situs resmi Phoenix, nama sepeda jenis ini adalah Woman's RoadSter Light for Women type SPL 68.

Lalu kenapa ada anggapan bahwa produk Tiongkok punya kualitas tidak bagus?
Ada dua penyebab, setidaknya menurut opini pribadi saya.

Penyebab pertama adalah membanjinya sepeda motor Made In China kala deregulasi otomotif di cetuskan oleh pemerintah yang kala itu dipimpin Gus Dur, bahwa kendaraan bermotor bisa diimpor secara utuh atau Completely Build Up.

Tak pelak, kala itu tanah air kebanjiran motor Made In China dengan merk China seperti Jialing dan kawan-kawan, atau motor produksi home industri Tiongkok yang di order 'produsen' tanah air dengan merk nasional macam Garuda, Kanzen, dan lain-lain
Kualitas?
Nanti dulu!

Ada harga ada rupa, ada Jumlah(uang) ada kualitas.
Bagaimana mungkin Anda dapat sepeda motor Build Up dengan kualitas bagus dengan harga murah. Logikanya kan kayak gitu.

Singkatnya, masyarakat waktu beranggapan bahwa produk sepeda motor buatan China  mudah rusak, rewel dan murah.

Tren anggapan bahwa sepeda motor produksi China punya kualitas kurang bagus terus berlanjut ke barang  lain selain sepeda motor.  Diantaranya produk elektronik. Salah satunya telepon seluler.

Faktor kedua, kembali ke poin pertama. Soal harga. Dimana-mana diseluruh penjuru bumi, kalau kita beli barang murah, hampir tidak mungkin dapat kualitas sebagus barang dengan harga lebih mahal, bener?

Dan di posisi seperti inilah barang produk China diposisikan. Harga murah kok minta bagus.

Sebenernya bisa saja RRC memproduksi barang dengan kualitas lebih bagus. Sangat bisa!
Seperti pokok bahasan awal, asal Anda mau dan mampu mengeluarkan duit lebih banyak.

Buktinya, saat ini  mayoritas ponsel merk Samsung pun malah di asembling di China, walau Samsung merupakan brand dari Korea selatan. Bukan hanya Samsung yang notabene merk menengah. Bahkan ponsel sekelas Iphone pun di asembling oleh Foxconn, sebuah perusahaan pembuat ponsel asal China.

Lalu kenapa  China tidak memproduksi barang dengan kualitas lebih bagus?

Jawabannya adalah : Menjawab kebutuhan (keinginan) konsumen yang menginginkan barang elektronik canggih, kekinian, dengan harga murah tapi mengesampingkan kualitas.

Tampaknya China turut andil atau ingin membentuk satu komunitas masyarakat modern Base on information technology, yang segala sesuatunya bergantung pada bantuan teknologi informasi, termasuk cara cari duit.

Biar semua gampang melakukan pekerjaan dengan alat bantu itu, toh kalau duit sudah banyak, kesejahteraan masyarakat dunia meningkat, mereka akan melek terhadap barang bagus dengan harga lebih mahal, serta kualitas bagus, dan saat itulah mereka akan memproduksi hanya barang dengan kualitas bagus serta harga lebih mahal.

Setidaknya begitulah yang terjadi di tanah air.

Lalu muncullah merek-merek (handphone)kelas  menengah sekaliber OPPO, Vivo, Huawei, serta yang mengejutkan adalah Motorola yang kini diakuisisi grup Lenovo.

Dan dalam tempo tak terlalu lama, produk negeri Tirai Bambu terus merangsek memenuhi pasar tanah air serta siap melumat merek mapan asal Korea yang sempat mendominasi pasar Ponsel tanah air; Samsung atau LG.

Perlahan-lahan nama China sebagai produsen elektronik tak bisa dipandang sebelah mata lagi.
Selain elektronik, produk otomotif China yang tak kalah moncer adalah Otomotif

Setidaknya ada satu Brand membuat ketar-ketir produsen Jepang di tanah air.
Adalah Wuling, sebuah brand Tiongkok yang berpatungan dengan General Motor (GM) yang siap meramaikan kontes persaingan otomotif tanah air.

Berbagai model dan varian disiapkan Wuling untuk bisa bertarung diantara pemain-pemain mapan asal Jepang.

Bahkan salah satu varian Wuling, yaitu Wuling Almas. Wuling Almas adalah hasil rebrand dari Chevrolet Captiva.


Bagaimana soal ketahanan?
Wuling Cortes telah di tes di sirkuit Sentul sebanyak 24 laps oleh Rivewer mobil independen, Fitra Eri. Dengan cara nyetir yang ekstrim, hasil tes Wuling berakhir dengan sangat memuaskan. Tidak ditemukan kerusakan selain kondisi ban mobil yang sedikit aus.

Belum lagi modul kelistrikan Wuling yang di support oleh Bosch, asal Jerman, yang membuat merek Wuling lambat laun bisa diterima masyarakat sebagai mobil dengan kualitas bagus dengan harga kompetitif serta jaminan purna jual ala General motor.

Kini paradigma 'made In China' yang dulu terpuruk, lambat laun bangkit.
Dan kekuatan merek-merek dagang yang saya sebut terakhir itulah yang turut merecovery nama 'made In China' ke posisi yang lebih mapan lagi.

VIDEO PILIHAN