Lingkungan

Beautiful Malino dan Masalah Sampah di Kabupaten Gowa

11 Juli 2018   18:05 Diperbarui: 11 Juli 2018   18:06 658 0 0
Beautiful Malino dan Masalah Sampah di Kabupaten Gowa
Tumpukan sampah di salahsatu sudut ibukota Kab. Gowa (7/11/2018)

Gowa- Beautiful Malino  akan digelar pada tanggal 14 s/d 15 Juli 2018, saat ini pemerintah kabupaten Gowa telah gencar mempromosikan event tersebut yang akan diadakan di Kec. Tinggimoncong Kabupaten Gowa. 

Program beautiful malino ini adalah program yang kedua kalinya setelah dilaksanakannya pada tahun 2017 yang lalu. Program ini bertujuan untuk mempromosikan  Kabupaten Gowa  khususnya Malino sebagai icon wisata dan ter ekspose ke masyarakat luas hingga ke mancanegara.  

Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kab. Gowa, Drs. H. Sophian Hamdi  menerangkan "Acara Ini akan dilaksanakan pada 13 s/d 15 Juli 2018 ,yang sebelumnya itu akan diadakan Kegiatan pembukaan pameran ekspos keberhasilan masing masing SKPD dan BUMN serta mitra-mitranya, untuk seluruh rangkaian Program acara beautiful malino itu, Anggarannya sebesar 1 Milyar  " Ujarnya (Jumat,6/7/2018) saat dikonfirmasi oleh media online setempat.

Jika dikaji lebih lanjut, untuk mempromosikan kabupaten Gowa agar banyak dikunjungi oleh wisatawan,  Program pemerintah kabupaten Gowa  ini kontradiktif dengan wajah kabupaten Gowa , khususnya dalam masalah penanganan sampah. 

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Syahriar Tato, Staf pengajar jurusan Teknik PWK Universitas 45 Makassar (Sekarang Univ. Bososwa) yang berjudul "Evaluasi Pengelolaan sampah kabupaten Gowa, Studi kasus  Kecamatan Somba Opu", memperoleh hasil bahwa timbulan sampah yang ada di Kec. Somba Opu Ibukota Kabupaten Gowa terus meningkat mencapai 261 Meter kubik/ hari, dari total penduduk sebesar 130.126 jiwa yang terlayani hanya 115.615 jiwa yang ada di kecamatan Somba Opu.  Masih banyaknya masyarakat yang tidak terlayani sehingga menimbulkan masalah peningatan jumlah timbulan sampah, daerah pelayanan sampah perkotaan yang rendah,dan tidak jelasnya strategi pengolahan sampah berdampak negatif terhadap lingkungan perkotaan. 

Masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan sampah cenderung untuk memperlakukan sampahnya dengan cara dan metode mereka sendiri. Untuk mengevaluasi pengelolaan persampahan maka disinkronkan antara kenyataan dilapangan dan sarana persampahan yang harus ada dengan menggunakan standar pelayanan minimal (SPM). dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pengelolaan sampah yang ada saat ini, sehingga menghasilkan pengelolaan sampah yang akan dievaluasi kemudian memberi penanganan dari evaluasi yang dilakukan. 

Tingkat kebersihan dan kualitas lingkungan adalah faktor penentu daya tarik pariwisata suatu daerah, Saking pentingnya bagi suatu daerah, kualitas lingkungan pula yang membuat tujuh Daerah diindonesia menjadi nominator Kota Bersih asia Tenggara atau ASEAN clean Tourist City (ACT) Tahun 2017 yang lalu. daerah tersebut adalah Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Banyuwangi, dan kabupaten Buleleng. 

Hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi khususnya bagi pemerintah Kabupaten Gowa dalam hal pengelolaan kebersihan dan kesehatan lingkungan untuk menjadi daerah destinasi wisata nasional yang terakhir kali memperoleh penghargaan piala Adipura pada tahun 1996 silam.

(Ditulis Oleh: Ahmad Syaifullah, Studi tentang peran  sektor pariwisata dalam Pembangunan Ekonomi Daerah)