Mohon tunggu...
Humaniora Aesthetic
Humaniora Aesthetic Mohon Tunggu... Mengikat ilmu dengan menulis

pegiat literasi pemula, menuliskan segala hal tentang pernak-pernik kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pidato Nadiem: Asa Kecil untuk Kemerdekaan Belajar

23 November 2019   21:04 Diperbarui: 23 November 2019   21:35 407 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pidato Nadiem: Asa Kecil untuk Kemerdekaan Belajar
tribunnews.com

Humaniora Aesthetic- 25 November 2019 nanti  menjadi peringatan Hari Guru Nasional. Seperti kebiasaan tahun-tahun yang sudah berlalu, hari guru senantiasa dimeriahkan dengan berbagai macam agenda -agenda nuansa edukasi yang diselenggarakan oleh guru-guru seluruh penjuru tanah air. Ada upacara, jalan sehat, lomba kreativitas guru, dan sebagainya. 

Ada pula Hari Guru menjadi moment pas untuk unjuk rasa menyampaikan aspirasi perbaikan nasib guru, yang kemudian disejukan dengan pidato Kemendikbud atau janji-janji dari pemerintah. Bicara soal pidato Kemendikbud, Nadiem Makarim selaku menteri pendidikan yang baru telah merilis pidatonya untuk peringatan hari guru mendatang. Teks pidato tersebut viral di jagad maya karena isi dan diksi yang ditampilkan sarat akan realitas guru Indonesia yang begitu gagah namun, penuh derai air mata. 

Pidato Nadiem Makarim yang hanya dua lembar, mencakup realitas guru Indonesia yang tugas dan fungsinya terbentur sistem birokrasi administrasi. "Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas," papar Nadiem dalam teks pidatonya. Nadiem juga mengulas soal kebebasan belajar dan bereksplorasi bagi anak. "Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan." Lebih lanjut di akhir pidatonya Nadiem memberikan sebuah intruksi untuk memulai sebuah perubahan mendasar yang dapat dilakukan oleh semua guru, yaitu kebebasan belajar.

Intruksi Nadiem dalam teks pidatonya: (1) Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar; (2) Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas; (3) Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas; (3) Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri; (4) Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan. Intruksi yang remeh dan ringan memang, namun itulah belajar sesungguhnya. Belajar yang memiliki arti dan makna bagi guru dan anak didik. Mbrebes mili air mata saya, mengandaikan sebagai asa bahwa semua lembaga pendidikan di tanah air dapat melakukan empat instruksi tadi secara simultan dan membudaya. Anak-anak kita kan lebih candu untuk belajar dari pada main Mobile Lagend hingga nyanyi entah apa yang merasukimu.

suara.com
suara.com

Kebermaknaan belajar adalah sesuatu yang mahal hingga hari ini. Sistem administratif dan kurikulum yang ketat mengekang "kemerdekaan belajar". Harapan besar untuk pendidikan negeri ini adalah janganlah pendidikan itu menjadi komoditas politik semata. Sistem akan berganti seiring bergantinya pemangku kekuasaan. Janganlah begitu, pendidikan bukan ajang uji coba dengan gonta-ganti sistem dan kurikulum. Cobalah kita untuk konsisten dengan apa yang sudah ada, kalo ada cacatnya ya kita perbaiki. Asal ada keinginan bersaing dengan negara lain, maka ditirulah konsep, sistem dan kurikulum pendidikan mereka. Akhirnya, anak bangsa dipaksa yang akhirnya tidak kuat dan justru malah mengalami keterpurukan. Teruntuk pak Nadiem, semoga beliau membaca tulisan ini. Apapun kebijakan dan reformasi pendidikan yang anda lakukan, pastikan sejalan dengan kemampuan dan kebutuhan anak bangsa. Indonesia kaya dengan kearifan lokal, beri kami kebebasan belajar dan kebebasan bereksplorasi. Tak perlu mengganti sistem, cukup benahi dan jamin kemerdekaan belajar kami anak bangsa dengan sistem itu.


SELAMAT HARI GURU NASIONAL

VIDEO PILIHAN